Bumi Pulang!

Seharian penuh kuhabiskan waktu bersama Bumi. Mulai dari menjemputnya di bandara, mengurus berkas di KUA, mengunjungi venue pernikahan kami nanti, meeting bersama WO, makan di kafe favoritku, membeli makanan ringan di minimarket, mampir ke distro demi dompet baru Bumi, pergi ke mall untuk mencari universal plug, pergi ke konter ponsel untuk membeli nomor Indonesia, menemaninya minum kopi, menghabiskan perjalanan dalam hujan malam-malam, hingga melakukan pembicaraan panjang di mobil yang hanya ada kami berdua. Sesampainya di rumah rasanya aku tidak ingin keluar mobil, masih ingin melanjutkan obrolan. Bolehkah kami tinggal lebih lama di sini? Andai bisa.

Ketika kami berpisah di depan rumahku, aku melihatnya jalan menuju penginapan. Aku masuk ke rumah, tidak lama kemudian wujudnya datang lagi. Kupikir ada yang terbawa. Namun ia mengatakan hal lain. Pagar penginapan sudah terkunci, katanya. Bingung malam ini harus tidur di mana. Aku seperti melupakam sesuatu yang pada akhirnya teringat, tadi sore aku memberinya tiga kunci. Satu untuk kamar, satu untuk pintu penginapan, dan satu lagi untuk pagarnya. Kutanya mana kuncinya. Lalu ia mengeluarkan segerombol kunci dengan gantungan dari sakunya. Ia tertawa, seperti malu karena lupa kuncinya ada tiga. Tapi aku justru berterima kasih karena lupa tersebut membawanya kembali menghampiriku. Paling tidak malam itu aku bisa melihatnya lagi.

Tertundanya pesawatnya saat transit di Jakarta kemarin dan baru bisa sampai Semarang tadi pagi rasanya jadi terbayar. Pulangnya adalah obat bagi banyak sekali orang.

Hari ini menyenangkan sekali. Ah, aku menulis ini saat dini hari. Jarang-jarang aku tidak bisa tidur, apalagi karena masih memikirkan Bumi.


01.09

Komentar

Yang Sering Dibaca