Surat yang Patah

 Untuk: Kamu yang aku kagumi sejak lama sekali.



Hai. Jika surat ini bisa sampai ke tempatmu itu berarti aku sudah memikirkannya jutaan kali dan hasil pemikiran terbaikku saat itu ialah menyampaikan tulisan ini. Kamu sudah membaca badan surelnya dengan seksama kan? Niatnya akan aku tulis semacam peringatan bahwa bisa jadi isi surat ini akan membahayakan atau justru akan menyembuhkan. Jadi jika file surat ini sudah sampai ke kamu namun kamu memutuskan untuk menunda membacanya hingga nanti saat kamu merasa sudah siap dengan konsekuensi bertambahnya informasimu, maka akan sangat aku maklumi. Bahkan aku akan sangat mengerti jika mungkin isi surat ini baru kamu baca beberapa bulan kemudian, atau tahun, atau mungkin tidak akan pernah kamu baca sama sekali.


Sesungguhnya awalnya bahasan ini mau kubikin panjang, lengkap dan ke mana-mana sehingga membuatmu lelah namun sebenarnya aku hanya ingin bilang; jangan pakai pola yang kemarin aku ajarkan. Teoriku mengenai otak yang secara sadar memerintahkan hati untuk berhenti mencintai seseorang itu asal-asalan. Meski tingkat keberhasilannya 99% namun yang perlu kamu tau pengakuanku kemarin bahwa selalu berhasil itu tidak benar sama sekali. Faktanya masih ada probabilitas ketidakberhasilan 1% dan itu terjadi saat aku berusaha menghentikan semua perasaanku terhadapmu setahun lalu. Maaf aku bohong. Aku hanya sedang berpura-pura pada diriku sendiri. Juga tulisan yang sempat kamu baca setelah kita menutup panggilan itu bukan yang sedang aku rasakan. Itu hanyalah upayaku meyakinkan diri sendiri.


Jika belakangan ini kamu merasa patah, mengertilah bahwa aku juga. Ini tidak pernah mudah bagi aku. Surat ini ditulis tengah malam, dengan dada yang sesak, kerongkongan tercekat, kacamata berembun, kelopak yang sembab, dan tisu yang berhamburan. Karena ini, tidak pernah mudah bagi aku.


Usai pulang menemuimu dari tempatmu tinggal yang sangat jauh setahun lalu itu, benar aku bertekat seperti yang kita bicarakan beberapa waktu lalu namun nyatanya beberapa bulan kemudian pertahananku buyar. Aku tidak siap untuk merasa bahwa kepada kamu aku biasa saja.


Ada banyak sekali hal yang tidak kamu tau. Termasuk kemarin setelah kita berusaha berdamai dengan keadaan untuk mempertahankan pertemanan baik yang sudah satu dekade ini, akhirnya mataku berair juga. Aku merasa kacau. Komunikasi perasaan kita ternyata berbanding terbalik dengan ilmu komunikasi yang selama ini kita pelajari. Aku juga berada di tahap menyalahkan diriku sendiri.


Tiga bulan lalu semua rencana hidup yang aku pikir akan aku habiskan bersama kamu tiba-tiba berubah. Aku sadar aku menunggu kamu sudah terlalu lama, aku sadar semua doa disertai tangis tentangmu juga sudah terlalu sering namun tak berbuah apa-apa, aku sadar bahwa kita seperti terlalu fokus memikirkan kesiapan diri sendiri sehingga abai pada segala kesempatan bicara yang kita punya kemarin-kemarin. Meski sebenarnya kita sama-sama menunggu. Meski sebenarnya kita juga sama-sama khawatir. Meski sebenarnya kita terlalu lama menyimpan perasaan yang sama.


Tapi jika kamu sudah berusaha mengaplikasikan teori abal-abalku itu lalu berhasil, maka selamat. Karena menghentikan semua yang berkaitan dengan kamu, sampai sekarang aku masih gagal.


Terima kasih sudah membaca. Aku mendoakan hatimu agar segera pulih, aku juga.




Surat ini selesai ditulis pada 2 September 2020 pukul 1:16 dini hari.

Komentar

Postingan Populer