Menahun (I)

Ultimo Agustus kita sama-sama menghadapi masa yang begitu sulit. Kamu mengutarakan perasaan di saat aku sudah menyerah pada segala hal yang berkaitan tentangmu. Seperti sudah cukup aku menggantungkan harap pada laki-laki yang entah barangkali hampir sewindu kutunggu. Setelah semua lamaran dari setiap yang datang aku tolak, setelah terlalu banyak pesan masuk berbau pendekatan dari banyak orang tidak kubalas, setelah semua kangen yang secara paksa kubuang di pinggir jalan, setelah semua berat yang aku pikul sendirian lalu kamu baru memilih datang.

Hatiku amat marah saat itu. Marah kepada aku sendiri yang ternyata masih mengharapkan kehadiranmu di saat kamu tahu, aku sedang terhimpit pada keputusan yang secara gegabah aku ambil. Marah karena kenapa tidak dari dulu saja aku konfirmasi perasaanku ke kamu agar tidak ada yang merasa sakit seperti kemarin. Juga marah karena aku bingung, bagaimana seharusnya aku mengambil sikap. Di tengah semua marahku pada diriku sendiri, sebenarnya ada juga marahku untuk kamu. Begini ya, kamu boleh menjadi orang yang pintar di banyak hal namun kenapa kamu juga harus pintar dalam hal menyembunyikan perasaanmu selama ini? Bisa-bisanya aku tidak merasakan keanehan apapun. Aku pikir kita memang berteman baik seperti dulu-dulu.

Puji syukur kepada Allah akhirnya kita bisa melewati ini semua ya. Kita bisa melangkah pada tahapan-tahapan yang tadinya belum pernah kita alami. Kita sama-sama belajar, berusaha memahami satu sama lain pelan-pelan. Pertemanan baik lebih dari satu dekade ini ternyata bukan jaminan bahwa kita cukup mengenal diri kita masing-masing. Kita tetap butuh waktu. Kita tetap butuh mendengar dan memberi tahu. Kita melakukan kompromi dan berusaha menerima keadaan satu sama lain. Tentu ini bukanlah mudah buat kamu, karena akupun merasa begitu. Tapi benar yang kamu bilang soal komunikasi. Meskipun kita sama-sama berlatar belakang pendidikan di bidang itu, bahkan sama-sama tidak hanya menghabiskan satu jenjang di sana, komunikasi perasaan kita sangat buruk. Buktinya kita sama-sama tidak menyampaikannya secara eksplisit sejak dulu. Beruntung akhirnya kita sampai pada keadaan sekarang. Keadaan yang menuntut kita untuk selalu bertumbuh.

Ada lebih dari tujuh miliar peduduk di bumi, terima kasih sudah memberiku percayamu lagi. Bisa menerimaku kembali dalam kondisi hati yang lebur pasti menyebalkan ya? Detik itu aku sadar, sepertinya pilihanku tidak salah. Kamu mendengarkan semua penjelasanku dengan tenang tanpa menyertakan emosi. Kamu membantuku mencari solusi. Jika saja kamu mengedepankan egomu, hari ini cerita kita akan berbeda. Meskipun lagi-lagi, kita harus sama-sama menunggu.

Dua tahun penantian tidak pernah sebentar untuk siapapun yang sudah tahu mau ke arah mana mereka pergi. Tapi hei, sudah hampir setengahnya mampu kita lewati kan? Juga mungkin, sesungguhnya kita memang membutuhkan banyak persiapan. Agar nanti ketika pada waktu yang paling tepat kita bertemu, sudah ada banyak kesiapan. Karena perjalanan yang begitu panjang nantinya, tentu membutuhkan kematangan berpikir dan bersikap. Mau seberapapun lamanya, tidak apa asal nantinya bersama kamu.

Tulisan ini memiliki proses panjang untuk pada akhirnya bisa kamu baca. Percayalah, tulisan sependek ini diketik sejak September. Tidak mudah menuangkan isi kepala untuk kemudian disampaikan secara jujur dari hati. Buatku, sentimental sekali. Aku mengambil banyak jeda setiap berhasil menuliskan satu kalimat. Bagaimana rasanya kamu menulis dengan tenggorokan tercekat, dada sesak, mata dibiarkan berlinang namun tidak boleh ada yang menetes di pipi, serta nafas yang tidak stabil? Kamu bisa bayangkan sendiri.

Ah kadang aku berpikir, apa jadinya ya kalau kita berada di tempat yang sama? Apakah kita akan tetap seperti ini atau justru tidak sama sekali? Yang jelas, aku ingin kamu ada di hidupku sampai nanti-nanti. Selamat bertambah umur kamu hari ini. Semoga di tahun-tahun berikutnya kita bisa selalu ada untuk satu sama lain. Aku doakan segala yang sedang kamu perjuangkan agar bisa terwujud lebih cepat dan aku akan menjadi orang pertama yang bersorak bahagia untuk semua pencapaianmu di manapun kita nantinya. Aku doakan kamu selalu dalam keadaan baik-baik di sana. Sampai bertemu tahun depan, yang terkasih!

Komentar

Postingan Populer