Yang Tidak NET TV Katakan (2)

Baiklah, sudah berselang banyak bulan dan saya tak kunjung melanjutkan tulisan ini. Alasan terbesar yang membuat saya pada akhirnya memutuskan melanjutkan menulis tentang ini sebenarnya karena saya amat kangen rutinitas shooting program acara Hikayat Insani bersama para kru NET TV Jawa Tengah. Ngomong-ngomong ini adalah Ramadan pertama saya tanpa shooting setelah tiga Ramadan sebelumnya saya intens kerja bareng sama mereka. 

Setahun lalu di mana hari terakhir kami shooting bersama, kedua teman kru sedang berbincang nampak serius. Saya yang dari awal duduk di sebelah mereka jadi sedikit banyak mengerti bahwa ini menyoal kantor NET Jateng akan ditutup dalam waktu dekat. Dua teman saya bilang bahwa ternyata ada semacam rapot kerja di perusahaan. Ada semacam ranking. Para kru daerah yang nilai rapotnya bagus maka mereka diminta untuk kembali ke Jakarta sedangkan jika tidak termasuk ke dalam beberapa deretan teratas ya aktivitas kerja mereka memang cukup sampai di titik tersebut saja. Kedua teman saya ini termasuk yang diminta kembali ke Jakarta namun mereka berdua memilih untuk fokus mengembangkan bisnis. Kalau dipikir-pikir, mereka memang sudah kurang lebih sepuluh tahun bekerja di industri pertelevisian bahkan sejak sebelum NET lahir. Barangkali mereka memang menemukan pencarian yang lain di tengah perjalanan.

Selama hidup berdampingan, banyak hal yang diam-diam saya kagumi dari mereka para kru. Mereka seperti bekerja yang tidak hanya bekerja namun menciptakan mahakarya. Mereka seakan paham betul bahwa segala apa yang ditinggalkan adalah jejak yang akan dikenang. Jadi semua harus maksimal dan penuh tanggung jawab. Mereka perfeksionis namun membangun. Menjadikan yang sudah baik menjadi lebih baik lagi.

Saat shooting biasanya kami menggunakan dua kamera. Satu untuk gambar seperti full shot dan long shot. Intinya cakupan bidikan kameranya luas. Kemudian satu kameranya lagi fokus ke gambar-gambar close up, medium close up, extreme close up dan semacamnya. Intinya cakupan gambarnya sempit untuk memberikan efek personal dari gambar-gambar gerakan tangan, gambar mata, dan lain sebagainya. Setiap kamera boleh melakukan pergerakan ketika sudah memastikan kamera satunya lagi sedang berada di gambar yang aman. Maksudanya, aman itu layak tayang. Kedua camera person itu menggerakkan kamera mereka bergantian dengan kode-kode dari mata dan anggukan kepala. Saya yang menyampaikan kisah hanya perlu berfokus di salah satu lensa kamera. Terus saja bercerita tanpa menghiraukan berbagai macam pergerakan di belakang kamera. Biasanya, dalam satu episode ada tiga hingga empat setting tempat. Ketika saya selesai menyampaikan kisah, saya diminta untuk menceritakannya lagi sehingga harus retake dari awal hingga selesai. Demi dua teman camera person saya ini bisa berpindah titik pengambilan gambar. Ya, agar lebih banyak pilihan gambar aman untuk editor video nantinya. Meskipun sudah baik, mereka mau yang lebih baik lagi. Itu yang keren.

Setiap kali saya janji ketemuan sama mereka untuk fitting wardrobe di butik yang memberikan kami sponsor, atau untuk shooting begitu biasanya saya diminta untuk menunggu di rumah dan driver akan menjemput saya. Padahal, jarak rumah saya dan kantor itu ya ampun cuma harus menyebrang jembatan saja. Jalan kaki lima menit juga sudah sampai. Pernah bahkan, suatu ketika butik yang memberikan kami sponsor wardrobe itu hanya berjarak kira-kira lima ruko di sebelah kantor. Dan, saya mau dijemput sama kru juga driver ke rumah untuk kemudian sama-sama ke butik tersebut. Saya biasanya ngeyel nggak mau dijemput sih, sungkan juga. Bahkan kalau mau pulang dari kantor aja saya mesti ribut dulu karena nggak mau dianter. Salah satu kru bilang kalau itu adalah fasilitas. Dan sebagaimana fasilitas yang sudah disediakan ya alangkah lebih baiknya jika digunakan. Dalam berbagai kesempatan saya akhirnya tahu kalau ternyata di NET Jakarta sana memang menyediakan layanan antar jemput bagi para pengisi layar. Sebagai yang belum pernah mengetahui ini di intansi pertelevisian lain sih, saya makin kagum.

Oh iya cara teman-teman kru NET Jateng ketika melobi sesuatu bahkan untuk hal kecil yang pernah saya tahu, sebut saja lobi ke manajer beberapa butik yang mensponsori kami. Beberapa kali saya pernah ikut mendampingi, untuk berkenalan juga agar lebih terasa sopan. Hebatnya, mereka bernegosiasi dengan tidak menjatuhkan, tidak merasa sedang mewakili perusahaan yang besar. Tanpa dimintapun sebenarnya sudah tentu banyak sekali butik yang ingin menjadi sponsor demi nama mereka tersiar di cakupan luas, kan? Se-Jawa Tengah atau kadang-kadang jika sedang mujur Hikayat Insani disiarkan secara nasional juga. Tapi teman-teman kru saya justru merendah. Santun sekali rasanya.

Tapi tentu saja pada saat saya, rekan presenter Hikayat Insani, MUA, atau bahkan adek-adek magang melakukan kesalahan, mereka akan marah. Mimik wajahnya saja sih yang terlihat marah, namun kami diarahkan dengan bahasa-bahasa yang membuat kami tenang dan tidak melulu merasa bersalah. Saya sampai nggak habis pikir, perasaan mereka seperti ada tombol nyala dan matinya. Apakah kecerdasan emosi merupakan salah satu standar terpenting dalam penerimaan tim NET juga ya? Entah. Mereka benar-benar pintar mengolah suasana hatinya agar tetap di hati mereka sendiri. Tidak seenaknya keluar kemudian menyakiti hati-hati yang lain. Hebat.

Kalau tidak salah ingat karena sudah lama sekali, teman kru saya pernah bilang total pengeluaran perusahaan dalam sehari bisa mencapai tiga milyar. Kalau saya tidak salah ingat ya. Tidak seberapa kaget sebenarnya, karena semua penggarapan NET amat profesional dibumbui dengan ide-ide idealis terbaik dan pembaruan menyegarkan. Dulunya sih, sebelum berbagai keputusan yang merubah NET menjadi yang sekarang. Kalau kamu, kangen tidak sih dengan semua acara NET yang dulu? Ah memang ya, kangen selalu datang belakangan. Ketika semua ingin hanya terbatas di angan. Ketika semua yang pergi sudah tidak bisa kembali lagi.

Huh saya kangen pakai make up tebel dari pagi sampai hampir magrib untuk shooting dua sampai empat episode dalam sehari. Saya dirias sejam lebih sampai ngantuk-ngantuk agar hasil make up maksimal. Ya bagaimana tidak, biasanya kami berangkat ke lokasi shooting dari kantor waktu dhuha dan sampai kantor lagi waktu tarawih. Seharian saya harus jaga wudhu karena ada bahan-bahan waterproof yang nempel di wajah saya. Ya begitulah.

Saya juga kangen memahami kisah untuk sekitar delapan menit siar dan kemudian saya sampaikan tanpa menghafal. Karena cukup dipahami inti ceritanya kemudian dibiarkan mengalir begitu saja. Saya kangen buka puasa di hotel-hotel mewah setiap selesai shooting dan foto-foto di segala sudut hotel untuk arsip. Saya juga kangen diarahkan oleh teman-teman kru bagaimana sebaiknya saya di depan kamera. Saya kangen nungguin mas mumu dan mas emsho yang kalau mencari spot shooting ya ampun lama banget. Saya kangen curhat-curhat masalah percintaan ke mba sari dan mba laras. Saya kangen gangguin mas hoho buat nimbrung dubbing. Saya kangen makan tortilla bolognaise ala mas pipin. Saya kangen dianter jemput sama driver kantor. Saya kangen ketawaan ga jelas sama semua adek magang yang akhirnya jadi teman saya beneran. Saya kangen bisa pakai baju-baju bagus yang saya meskipun besoknya harus dikembalikan lagi. Saya kangen rasa deg-degan tiap ada yang bilang "camera ready, roll, action!" Saya kangen semua komponen yang menempel pada memori. Saya kangen banget.

Terima kasih banyak atas kerja samanya. Saya bangga sekali bisa berada di lingkaran ini meski sebentar. Mari melanjutkan mimpi masing-masing:)

Komentar

Postingan Populer