Kepada Lalita

Pada 28 Oktober 2018 aku membalas email dari Lalita. Sengaja aku pindah ke sini untuk menjadi pengingat bagi diri sendiri dan jika mungkin, bagi kamu perempuan dengan latar belakang apapun. Begini isinya:

Hai Lalita! Terima kasih sudah hadir di dunia ini ya, kami para perempuan yang semangatnya masih suka naik turun perlu banget sosok yang menginspirasi kayak kamu, yaah semacam perempuan yang saling menyemangati perempuan yang lain gini:)))

1. Ceritain singkat dong kamu tuh siapa? Sekarang kerja sebagai apa atau kuliah jurusan apa? Dan cita-citanya apa nih?

Nama lengkap aku Rr. Dhyanara Novi Paramita, nama siar aku Dhyanara Paramita, nama panggilan Dhy (di, red). Aku lulusan D3 Broadcasting dan lanjut transfer ke S1 Ilmu Komunikasi penjurusan Broadcasting Communication di Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Jika dihitung berlanjut, harusnya di semester 10 aku udah bisa diwisuda tapi aku sekarang berada di semester 11:) Bukan masalah, ketepatan waktu kelulusan kuliah bukan patokan kesuksesan kan? Jadi selama kita bisa terus menebar manfaat dan kebijaksanaan, terus bertumbuh seiring waktu, disibukkan dengan hal-hal baik, kenapa mesti khawatir buat mengubah susunan prioritas dari seabrek tanggung jawab yang kita harus emban secara bersamaan?

Aku memulai karir di pertelevisian dari semester satu, selama setahun aku aktif banget kirim karya jurnalisme warga buat MetroTV dan selalu disiarin. Semester tiga aku mulai masuk TVKU Semarang dengan cakupan siar Jawa Tengah. Dua tahun jadi reporter, presenter berita dan talkshow, narator berita sama iklan, dan program acara feature, sempet bentar jadi produser. Pertengahan semester tujuh aku pindah ke NET. Jateng jadi presenter freelance di program acara religi spesial Ramadan dua tahun terakhir ini. Pekerjaan utamaku sebagai kepala seluruh divisi di perusahaan jasa videografi aku namanya DhyanaraVideo.

Aku punya cita-cita bisa menjadi perempuan yang berbudi pekerti luhur. Meskipun ada banyak kontaminasi di luar sana, aku ingin tetap bisa menegakkan keadilan buat diriku sendiri maupun orang lain seenggaknya yang aku masih bisa jangkau. Aku ingin benar-benar bisa menjadi perempuan yang bijaksana, yang segala tindak tanduknya tidak akan terpengaruh oleh perlakuan tidak baik orang lain terhadap aku.

2. Pencapaian tertinggimu sebagai perempuan di negri ini apa?

Sebagai perempuan, pencapaian tertinggi aku di negri ini adalah dengan menjadi director dan script writer di DhyanaraVideo yang aku punya. Aku punya kuasa penuh atas orderan-orderan klien itu mau dibawa ke mana. Aku bisa teriak tentang pemikiran-pemikiran aku lewat karya aku meskipun objeknya adalah klien-klien yang kebanyakan perusahaan-perusahaan besar di luar sana. Dengan video-video yang aku bikin, aku bisa lebih keras teriak dari pada pake mulut aku sendiri dan lebih banyak orang yang denger.

Contoh nih, aku ada orderan salah satu Perguruan Tinggi terbesar di Jawa Tengah. Pasti aku butuh talent dong, nah seperti biasa pihak klien milih-milih mahasiswa dan mahasiswi mereka yang cantik dan cakep. Tapi dengan argumen yang aku ajukan dengan sopan dan teguh aku berhasil menangin hati klien pimpinan untuk pake para mahasiswa yang dari segi fisik mewakili seluruh karakter, ada yang berbadan tinggi dan pendek, kulit putih dan hitam, rambut lurus dan keriting, wajah mulus dan berjerawat, berbadan langsing dan gempal, berhidung mancung dan tidak, dan lain sebagainya. Permasalahan fisik kayak gini aku sering banget perjuangin. Karena kalo aku nggak teriak mulai dari hal yang paling bisa aku lakuin, terus aku harus teriak lewat mana lagi? Dan, kalo nggak mulai sekarang aku teriaknya, terus waktu yang tepat buat aku teriak itu kapan?

Aku sering banget mikir, orang-orang yang dari sananya udah cakep dan cantik itu beruntung banget. Mereka bahkan nggak bisa minta itu lewat doa waktu masih di dalem perut, Tuhan aja yang emang milih mereka untuk menjadi rupawan dibanding ciptaan-ciptaan-Nya yang lain. Alhasil orang-orang yang rupawan ini seringkali dapet pemakluman dari masyarakat ya karena wajah dan postur badan mereka yang uhuy. Kok aku agak nggak sepakat ya sama ini? Postur badanku nggak tinggi, wajahku juga nggak masuk definisi cantik buat kebanyakan orang, jadi yaa setiap ikut ajang pemilihan putri-putrian gitu dari awal udah keblack list hahahah tapi yaudahlah ya toh ikutnya juga cuma iseng doang.

Tapi ada satu hal yang paling bikin sakit di sepanjang karir pertelevisian aku. Seumur-umur aku ikut casting presenter itu cuma sekali. Aku melamar untuk menjadi presenter di perusahaan televisi milik negara. Sembari menunggu karyawan perusahaan mempersiapkan segala peralatan di ruang casting, aku menunggu di lorong bersama para peserta lainnya, tiba-tiba ada sesosok perempuan yang sudah berumur namun cantik dan fashionable meskipun menggunakan seragam yang sama persis dengan karyawan lainnya karena tambahan aksesoris di sekujur tubuhnya tiba-tiba matanya menguliti kami para peserta satu-satu dari ujung kepala hingga kaki. Tau apa yang beliau bilang dengan lantang dan jelas?

“Pokoknya nanti pastiin kamu pilihnya yang good looking aja ya, yang ini nih cantik bolehlah, yang ini, juga, sama yang ini...Masalah otak itu nggak penting, nanti gampang kita bisa poles, pokoknya cari yang cantik aja..”

Beliau ngomong sama karyawan lain yang nampaknya adalah bawahannya sembari nunjuk-nunjuk siapa aja yang cantik menurut versi kebanyakan orang. Tinggi, putih, langsing, dan full make up. Aku sebel banget dengernya. Aku akan terima kalo itu adalah standar perusahaan mereka, tapi bukan dengan cara yang tidak sopan di depan para peserta yang mayoritas perempuan. Bahkan satupun peserta casting belom ada yang masuk ruang casting loh! Begini, beliau adalah perempuan dan beliau punya kedudukan. Betapa akan hebatnya jika perempuan-perempuan di luar sana yang memiliki kuasa atas lingkungannya juga bisa mengambil peranan untuk memerdekakan kita para perempuan yang secara tidak sadar dijajah oleh sesama perempuan. Oleh karena itu, menjadi pimpinan di perusahaan yang aku miliki sendiri adalah pencapaian terbesarku di negeri ini sebagai perempuan yang bisa berteriak lebih keras mengenai keadilan dalam berperempuan.

3. Menurutmu sebagai perempuan, penghalang apa yang paling menghalangi mimpimu?

Aku nggak pernah merasa ada yang bisa menghalangi mimpiku sebagai perempuan. Karena sebenernya sebesar apapun halangan yang menghadang, kalo kekuatan dari dalem diri kita lebih besar buat loncat maka seizin Tuhan pasti kita bisa kok nerobonsya.

4. Menurutmu, apa yang membuatmu lebih beruntung dari pada perempuan lainnya di Indonesia?

Sebenernya Indonesia bisa lebih memaksimalkan kehebatannya andai saja setiap mahasiswa yang lulus kuliah bekerja sesuai di bidang perkuliahannya. Coba bayangkan jika lulusan pertanian bekerja di bidang pertanian juga, lulusan kelautan juga bekerja di wilayah perairan negara, lulusan kimia bekerja di bidangnya, dan seluruh lulusan lainnya yang bisa lebih tepat penempatannya sesuai bertahun-tahun pembelajaran yang mereka tempuh. Sungguh Indonesia pasti bisa memaksimalkan kehebatannya. Populasi perempuan berkali lipat lebih tinggi dibanding laki-laki kan? Masih amat banyak perempuan-perempuan di luar sana yang bekerja namun tidak bahagia dengan pekerjaannya. Aku merasa beruntung bisa memperjuangkan passionku dalam pekerjaan hingga sekarang. Semoga di luar sana para perempuan yang tidak bahagia dengan pekerjaannya memiliki keberanian untuk resign kemudian pindah kerja atau paling tidak bisa menciptakan usahanya sendiri, sesuai dengan kesukaan mereka masing-masing. Hingga nanti bisa menjadi pemimpin dan pemegang kuasa pada perusahaan mereka dan membuat kebijakan-kebijakan yang baik bagi keperempuanan.

5. Apa ada yang mau diceritain terkait isu perempuan di Indonesia? Boleh tentang pertemanan, isu sosial, impian kamu, kritikan kepada masyarakat, pujian terhadap masyarakat, representasi media, apa aja sih selama masih dalam konteks pengalaman kamu sebagai perempuan Indonesia.

Di setiap kritik yang dilontarkan dari siapapun dan kepada siapapun, itu tidak berlaku global. Selalu ada bagian dari yang dikritik itu yang tidak patut menerima kritik. Mereka adalah perempuan-perempuan yang sudah berusaha sekuat tenaga untuk berlaku baik terhadap dirinya sendiri dan apa-apa yang bisa mereka lakukan di lingkup mereka sendiri. Ada banyak sekali perempuan yang menyuarakan tentang keadilan dalam berperempuan, ada yang suaranya sering didengar dan belum terdengar. Jadi bagaimana jika kita seluruh perempuan di Indonesia ini berkomitmen untuk menjadi perempuan hebat menurut definisi masing-masing agar lebih banyak orang yang dapat mendengar suara kita dan mempertimbangkannya? Mari menjadi perempuan yang kuat dan berbudi pekerti luhur!

Salam,
Dhyanara.

Cek postingan tentang aku pada instagram Lalita di sini.

Komentar

Postingan Populer