Langsung ke konten utama

Yang Tidak NET TV Katakan (1)

Beberapa waktu lalu saya memakai fitur Q&A pada Instagram Story untuk mengetahui apa saja yang ingin teman-teman saya tahu mengenai NET TV. Terlebih ketika isu NET TV banyak dibahas pada artikel daring. Pembahasan ini sungguh luas sehingga memungkinkan untuk tidak menjadi satu kali unggahan saja.

Pembahasan ini dinilai dari sudut pandang saya yang hanya sebagai presenter panggilan NET Biro Jawa Tengah tiga tahun terakhir, tentu saya sebenernya nggak tahu banyak tapi saya rasa ada hal-hal yang perlu disampaikan dengan netral juga bijak.

Ada banyak perusahaan televisi di Indonesia dan terserah mereka mau bikin karakter perusahaannya kayak gimana. Tapi ada hal terpenting yang mereka lupa: frekuensi adalah milik publik sehingga tidak seharusnya mereka menciptakan program acara seenaknya.

Sejak kuliah di jurusan pertelevisian 6 tahun lalu saya semakin tidak bisa menonton televisi dengan damai. Ada terlalu banyak pelanggaran penyiaran setiap detiknya. Hingga tidak lama kemudian muncul satu-satunya perusahaan televisi swasta yang membuat saya sedikit tenang ketika menikmati tayangannya. Tidak sepenuhnya tenang ya. Karena tentu masih ada pelanggaran-pelanggaran dalam siaran NET TV.

Apakah kamu menemukan iklan obat nyamuk di sana? Tidak? Atau bagaimana kalau iklan sabun colek? Tidak juga? Ada banyak sekali iklan di televisi lain yang tidak akan kamu temui di NET TV. Itulah yang disebut dengan segmentasi.

Segmentasi membuat perusahaan memiliki kerucut pasar yang kian menyempit. Dalam berbisnis kita perlu menetapkan segmentasi agar kita mengerti karakter apa yang tepat dibangun dalam promosi, disinkronisasi dengan segala produk yang dipasarkan, dan tentu saja tahu di mana letak pasarnya. NET TV menciptakan segmennya dalam lingkaran kecil namun jelas lebih luas jika dibandingkan dengan segmen yang dibangun oleh TV One juga MetroTV. Tapi menjadi sangat sempit jika dibandingkan dengan SCTV, Indosiar, ANTV, RCTI, MNCTV, TransTV, Trans7, dan lain sebagainya. Rating program sekelompok televisi swasta yang terakhir memang ampun-ampunan. Selain menyiarkan sinetron dalam juga luar negri yang menyasar pada ibu rumah tangga dan lansia, ada juga FTV yang digandrungi para remaja sekolahan. Tapi apakah benar berkarya dalam dunia pertelevisian hanya untuk kepentingan rating saja? Tergantung siapa dulu yang akan menjawabnya.

Apakah hanya NET TV satu-satunya televisi swasta yang sedang dalam posisi genting? Tentu tidak, ada televisi-televisi swasta lain yang merasakan hantaman gelombang integrasi. Bahkan ada salah satu perusahaaan televisi swasta yang gaji para direksinya ditahan untuk memenuhi gaji seluruh karyawan. Jangan berpikiran bahwa hanya NET TV yang sedang berusaha bertahan ya. Ada beberapa hanya saja tidak terekspos makanya kamu tidak mendengar beritanya.

Di awal tahun 2019 ini NET TV mulai mengatur ulang strategi. Sebut saja Mei, NET Biro Jawa Timur umumkan pamitnya. Disusul NET Biro Jawa Tengah pada Juli. Akun instagram NET Biro Bali sudah tidak aktif per akhir Agustus. Bisa dibilang umur NET Biro Yogya dan NET Biro Jawa Barat hanya menunggu giliran karena habisnya kontrak lokasi kantor.

Kamu pasti sempat mendengar bahwa ada PHK besar-besaran kepada para karyawan NET dua tahun lalu juga baru-baru ini. Bahkan tadinya setiap kantor biro NET TV memiliki belasan kru hingga muncul peraturan bahwa seriap biro hanya memiliki enam kru saja. Kalau di NET Biro Jawa Tengah strukturnya satu orang sebagai Kepala Biro, beliau mengurusi naskah program juga pengisi suara. satu junior produser merangkap kameramen, pengisi suara, juga kadang-kadang presenter. Satu sebagai reporter, bendahara sekaligus administrasi, pengisi suara juga kameramen. Satu sebagai kameramen, yang merangkap pengisi suara juga presenter. Terakhir, satu orang editor yang merangkap sebagai presenter. Satu orang teknisi yang merangkap editor. Mau tidak mau setiap perusahaan memang lebih memilih orang-orang yang memiliki banyak kebisaan. Apakah NET TV bangkrut? Entahlah, yang jelas mereka sedang berusaha memotong biaya operasional untuk mengembalikan kestabilan banyak aspek dan ini hal yang wajar dilakukan semua perusahaan ketika dalam masa-masa tertentu.

Ada banyak kesulitan dalam menyeimbangkan antara kualitas dan kuantitas. Butuh energi ekstra. Bahkan terkadang dalam keadaan terhimpit kita harus memilih satu di antaranya. Ya, antara harus menjaga kualitas atau memilih aman pada kuantitas. NET TV menjunjung idealisme tinggi di setiap karyanya meski akhirnya mereka harus mengalahkan kuantitas. Tapi ngomong-ngomong kualitas acara NET TV belakangan ini sedikit menurun sih dilihat dari program-program jaman dulu di televisi lain yang dibeli kemudian diputar ulang oleh NET TV. Tentu dengan harga yang lebih murah dari pada mereka harus menyediakan biaya operasional untuk membuat program acara baru. Meskipun banyak pemirsa setia NET TV yang sebenarnya bisa dibilang tidak setia-setia amat menjadi merasa kehilangan program-program yang menurut mereka baik. Bagaimana tidak, NET TV menyasar segmen pasar di usia-usia produktif, menyukai inovasi, kritis, dan estetik. Para pemirsa NET TV yang mengaku cinta mati itu memangnya bisa menghabiskan berapa jam dalam sehari untuk menonton NET TV di televisi? Bisa jadi tidak pernah atau bahkan memang sebentar sekali. Para pemirsa target pasar NET TV kebanyakan tidak memiliki waktu untuk menonton televisi karena mereka sedang sibuk memperjuangkan cita-cita dari pagi hingga malam, mereka sedang sibuk memperjuangkan keadilan dari pagi hingga malam, mereka sedang menuntut ilmu dari pagi hingga malam, mereka sedang sibuk mengikuti kompetisi bahkan konferensi nasional bahkan internasional dari pagi hingga malam. Mereka sedang sibuk mengharumkan nama bangsa dari pagi hingga malam. Benar kan?

Masih tentang program televisi, sejak enam tahun lalu saya mulai disiplin mengenai program-program acara apa saja yang perlu atau tidak perlu ditonton sama sekali. Semestinya kamu pasti juga tahu unsur-unsur buruk yang ada di program televisi. Sebut saja kekerasan, pelecehan dalam guyonan, dan lain sebagainya. Jika ada waktu atau meskipun saya sedang di rumah namun banyak kerjaan saya selalu menyetel NET TV dan membiarkan televisi menyala tanpa pemirsa. Atau meskipun sebenarnya secara pribadi saya tidak begitu suka acaranya namun saya tahu bahwa acara ini  perlu didukung, contoh mengangkat kaum marjinal, mengangkat kebenaran, atau dari segi pengambilan gambar yang sangat estetik, jelas harus didukung dengan meningkatkan rating tontonnya. Terlebih jika saya sedang tidak tahu mau nonton siaran televisi yang mana dengan mudahnya saya langsung memutuskan mencari NET TV meskipun saat itu program acara kartun yang diputar dan lagi-lagi saya tinggal untuk menulis naskah, chatting dengan klien, dan lain sebagainya. Mau bagaimana juga ujung dari segala nyawa program acara adalah rating dan ujung dari segala pendapatan televisi adalah program acara. Jadi mulai sekarang, silakan tinggalkan acara televisi-televisi yang menurutmu tidak baik ya. Jangan dukung mereka dengan mendapatkan lebih banyak rating karena kamu ikut serta menonton tayangan bermutu rendah.

Iya sih terserah setiap televisi mau mencitrakan dirinya dengan cara menciptakan program yang bagaimana. Tapi frekuensi milik publik jadi mari bantu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), kita kawal kesehatan siaran televisi negara kita. Laporkan siaran-siaran yang melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) karena terhadap televisi, sudah waktunya untuk kita tidak diam saja. Pun ketika NET TV melakukannya.

***

Pembahasan program acara belum selesai, masih ada juga bahasan kru NET TV yang ternyata mereka menggunakan sistem rapot untuk nilai kerjanya. Saya juga masih akan membahas kenapa saya mesti dijemput ke kantor ketika mau shooting atau sekadar fitting wardrobe padahal jarak rumah saya dan kantor NET Biro Jawa Tengah hanya dipisahkan satu jembatan saja yang ya ampun saya bisa berangkat sendiri ke kantor. Juga masih ada info tidak penting mengenai berapa biaya operasional NET TV yang dikeluarkan setiap harinya, juga beberapa bahasan kecil lainnya.

Jadi, sampai bertemu di unggahan selanjutnya.

Komentar

  1. Ayo kak lanjut eps.2 tentang NET. TV

    BalasHapus
  2. super sekali......tak tunggu cerita selanjutnya sambil menyetel NET TV

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku …