Langsung ke konten utama

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku masih belum bisa membaca arah pembicaraan ini ke mana. Alih-alih kegeeran aku mencoba memastikan dulu.

"Buat nambah kenalan." sembari tersenyum jawabannya terasa klasik. Logikaku mulai menganalisa sikapnya. Jangan-jangan dia terlalu gampang melakukan ini kepada perempuan-perempuan yang bahkan belum dikenal baik. Aku mulai berpikiran yang buruk-buruk.

"Maaf ya mas nggak bisa." buatku nomor ponsel adalah sesuatu yang intim. Tidak bisa sembarang diberikan pada orang yang tak punya urusan apapun mengenaiku. Terlebih, nomor ponsel juga bisa menelfon. Kalau boleh jujur sebenarnya aku lebih memilih ponselku sepi berhari-hari karena itu berarti aku memiliki lebih banyak waktu untuk memikirkan hal-hal yang masuk prioritasku. Terkesan egois memang, namun sebagai seorang introvert aku menikmati waktu-waktu sendiriku. Ketika sudah bersama orang yang aku cintai nanti (maksudku kamu) tentu beda lagi. Sebenarnya aku lebih memilih bertemu langsung.

Tunggu. Keadaanku saat itu baru saja tiba dari Jogja untuk urusan kerjaan videografi yang sudah aku mulai sedari subuh. Tidak ada sisa riasan di wajahku. Bawah mata yang menghitam karena kurang tidur dan kelelahan, belum mandi, terlihat berantakan, tidak terlihat menyenangkan karena sedang sakit, dan dia tidak tahu latar belakangku. Oh iya satu lagi, aku bukan kategori perempuan yang diamini cantik karena standar kecantikan yang beredar di masyarakat. Berbadan tinggi, hidung mancung, kurus, kulit putih, dan lainnya. Bukan. Kalau saja dia muncul ketika aku sedang dalam keadaan penuh riasan saat sedang memandu acara, atau ketika aku sedang memberikan perintah kepada tim produksiku dalam penggarapan video, atau ketika aku sedang muncul di televisi, ya bisa aku taksir apa yang membuatnya ingin kita menjadi teman. Lalu apa yang membuatnya tertarik untuk mengenal aku yang sedang dalam kondisi tidak baik ini?

Belakangan aku sering terganggu mengenai ya sebut saja ketulusan dalam mencintai. Melihat orang-orang yang sudah terlanjur keren di luar sana itu apakah para calon pasangan hidupnya benar-benar mencintai mereka karena murni pribadinya? Apakah bukan karena jabatannya, kekuasaannya, ketenarannya? Aku benar-benar menaruh kagum pada orang-orang yang mencintai seseorang ketika dia bahkan belum menjadi siapa-siapa meskipun kemudian terpacu untuk menjadi siapa-siapa nantinya. Aku rasa ada ketulusan di sana.

Selama ini aku memang kepikiran kalau orang-orang yang suka berteman dengan aku yang sekarang karena aku berhasil memberikan pembuktian ke mereka lewat apa saja yang sudah aku kerjakan. Tapi aku jadi takut bagaimana jika ternyata mereka hanya suka profesiku, bukan pemikiranku. Bisa jadi mereka hanya suka terhadap apa-apa yang aku punya, lingkungan sekitarku, jaringanku, dan apa-apa yang ada padaku tapi mereka tidak miliki. Tapi aku menjadi kepikiran juga, apakah sebenarnya tanpa sadar aku juga melakukan itu kepada orang lain? Kalau iya, aku jahat. Makanya sekarang aku sedang membuat pikiranku terhadap orang-orang menjadi lebih netral. Aku ingin menjadi orang yang adil sejak dalam pikiran.

Oh iya kembali ke perihal laki-laki di Rumah Sakit tadi, aku juga menaruh kagum.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Lulus Tepat Waktu

Di dunia perkuliahan, sekarang ini sedang masanya libur kenaikan semester genap ke semester gasal. Itu berarti saya telah meninggalkan semester sepuluh dan akan menyambut semester sebelas. Memang dulu saya menghabiskan masa D3 dengan tepat waktu selama tiga tahun, kemudian melanjutkan transfer ke S1. Minimal masa tempuh transfer S1 dari D3 menurut peraturan dari Dikti ialah dua tahun. Jika dihitung secara berlanjut maka konversi mata kuliah yang belum saya ambil semasa D3 dulu memang bisa selesai dalam kurun waktu tepat dua tahun. Namun nyatanya saya masih harus melanjutkan ke semester sebelas. Benar, saya belum menyelesaikan skripsi saya.
Semasa semester satu dahulu saya begitu menganggap remeh teman-teman mahasiswa yang kuliah sembari bekerja. Bagaimana tidak, mereka seringkali terlambat masuk kelas sehingga saat pintu kelas dibuka mereka membuat mahasiswa lain juga dosen terganggu konsentrasinya. Mereka juga sering mengganggu saya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai tugas yang d…

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.