Langsung ke konten utama

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.

Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurant gitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Contoh nih ya, setelah menikah aku dan kangmasku nanti akan butuh tempat tinggal. Kemudian tempat tinggal itu harus diisi berbagai macam perabotan. Lalu bagaimana ketika aku hamil? Secara otomatis membutuhkan biaya-biaya tambahan untuk pemeriksaan kandungan, membeli susu hamil, mengikuti kelas yoga persiapan persalinan, membeli barang-barang untuk menyambut bayi kami, wah belum lagi biaya persalinan. Usai anak kami lahir tentu semua pengeluaran rasanya kian membengkak, pun begitu kami tetap perlu memberikan semua yang terbaik untuk anak kami kelak, memberikan pendidikan yang bukan main-main di sekolah yang mutunya terjamin, uang jajan, belum lagi kebutuhan-kebutuhan digital sang anak, bagaimana jika tak terasa si krucil ternyata mau masuk SD, SMP, SMA, atau bahkan kuliah? Ditambah bagaimana bahwa ternyata si krucil harus membayar uang gedung sekolah pertamanya ketika aku sedang mengandung anak kedua dan sudah mendekati hari perkiraan lahir di saat yang bersamaan? Atau bagaimana jika genteng rumah kami bocor, mobil kami yang sedang parkir dengan rapi justru diserempet orang tak bertanggung jawab, tiba-tiba anggota keluarga kami sakit dan harus rawat inap? Iya, dana darurat harus selalu ada di prioritas utama karena musibah bisa dateng kapan aja, ini nih yang nggak bisa kelewat disiapin. Belum lagi biaya liburan bersama keluarga, menyumbang teman-teman yang menikah, dana pensiun nanti, duh banyak deh!

Kemudian aku tersadarkan bahwa uang yang sudah susah payah aku kumpulkan dalam tabungan tentu akan kalah telak jika tamu bernama inflasi selalu saja datang tiap tahunnya. Nilai uangnya turun banget beb. Sebenarnya sudah dalam dua tahun terakhir aku sedang dalam masa pencarian investasi yang nggak ribet, nggak harus modal banyak dulu, dan yang terpenting harus bersistem syariah. Ya make up yang dipakai aja harus halal kan beb gimana rejeki yang nantinya masuk ke mulut terus jadi daging? Dibuat ibadah lagi, ya kan nggak lucu ya kalau ternyata kita terlihat sejahtera tapi dari uang yang nggak berkah sama sekali. Nah berbekal tanya ke temen-temen lulusan ekonomi islam, ke ustadzah, dan coba cari-cari di internet semuanya mengarahkan keyakinanku pada Reksa Dana Syariah Manulife Asset Management Indonesia (MAMI).

Kenapa Reksa Dana?
Karena kalo kamu investasi di Reksa Dana kamu bisa mulai investasi cuma dengan uang 10 ribu rupiah aja di klikMAMI.com wah asik nggak tuh? Jadi sistem Reksa Dana itu kita investasi tapi patungan sama investor-investor lainnya di luar sana dan yang mengelola semua investasi itu adalah manajer investasi tersebut jadi kita nggak usah repot-repot mikir gimana biar untung sendiri, kalau aku pakainya di MAMI itu ya.

Reksa Dana ada 9 jenis sebenernya tapi cuma ada 4 jenis yang paling diminati. Ada Reksa Dana Pasar Uang, Reksa Dana Pendapatan Tetap, Reksa Dana Campuran, dan Reksa Dana Saham. Semuanya ada yang versi konvensional dan syariahnya. Aku pilih yang syariah karena ya makanan aja kita mesti pilih-pilih yang halal kan, makanya duitnya yang dibuat beli makanan halal itu juga harus dipastiin halalnya dong.

Bedanya Syariah?
Ada berbagai persyaratan ketat yang harus dipenuhi perusahaan-perusahaan yang menerima modal dari Reksa Dana Syariah, seperti kegiatan perusahaan harus tunduk pada prinsip syariah, lolos seleksi OJK dan Dewan Syariah Nasional MUI, total utang perusahaan nggak lebih dari 45% total aset, total pendapatan bunga dan nonhalal tidak lebih atau sama dengan 10% total pendapatan usaha. Jadi efek diterbitkan sesuai dengan akad syariah dan sesuai peraturan terkait penerbitan efek syariah gitu deh. Ngerasa aman kan?

Beberapa hal yang Reksa Dana Syariah hindari antara lain: Gharar (ketidakpastian), Maisir (judi, permainan di mana ada yang menang dan kalah), Riba (bunga, baik dalam jual beli maupun pinjam meminjam), Najasy (penawaran palsu), Haram (dilarang, bertentangan dengan hukum syariah), Risywah (suap), Zhulm (ketidakadilan), Mudarat (tidak bermanfaat), Ikhtikar (penimbunan), dan Tadlis (penipuan).

Yang bikin aku percaya kalo Reksa Dana Syariah ini lebih menentramkan yaitu dari fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001:
(1) Reksa Dana Syariah beroperasi menurut ketentuan dan prinsip syariah Islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai pemilik harta (shahib al maal/ Rabb al maal) dengan Manajer Investasi sebagai wakil shahib al maal, maupun antara Manajer Investasi sebagai wakil shahib al maal dengan pengguna investasi.
(2) Para pemodal secara kolektif mempunyai hak atas hasil investasi reksa dana. Pemodal berhak atas bagi hasil sampai saat ditariknya kembali penyertaan tersebut.

Ada juga Unit Pengelolaan Investasi Syariah (UPIS): Pengawasan pengelolaan investasi dilakukan Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang direkomendasikan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) dan memiliki izin Ahli Syariah Pasar Modal (ASPM). Terus penempatan hanya pada instrumen yang terdaftar pada Daftar Efek Syariah. Kerennya lagi adalah ada semacam program cleansing gitu kayak kalau tiba-tiba ditemukan dana yang diindikasi tidak syariah maka dana itu harus dikeluarkan untuk kepentingan sosial tapi dalam bentuk yang bukan uang. Contohnya bikin jembatan penghubung desa, bangun masjid, dan lain sebagainya.

Apa Yang Harus Dilakukan?
Dalam berinvestasi di Reksa Dana kita harus tentuin tujuannya dulu, tentuin besar biaya yang mau dikumpulkan, dan tentuin kapan kita mau pakai uang tersebut. Contoh nih misalkan aku pengen umroh 2 tahun lagi. Kalau tahun ini biaya umroh kisaran 30 juta rupiah, kira-kira dengan inflasi yang rata-rata 3,5% per tahun jadi aku bakal butuh duit sekitar 32 juta rupiah. Buat bekal umroh dan persiapan lainnya aku mau nambahin 3 juta deh. Jadi total aku harus mengumpulkan 35 juta dalam 2 tahun ke depan ya. Terus 35 juta itu dibagi 24 bulan hasilnya tiap bulan aku harus menabung sekitar 1,5 juta ke Reksa Dana Syariah. Nah hitungan tahun ini akan berpengaruh pada kamu bakal pakai Reksa Dana Syariah yang mana. Kalau jangka waktunya lebih dari 1 tahun maka kamu taroh ke Reksa Dana Pasar Uang Syariah aja karena resikonya kecil dan pertumbuhan bagi hasilnya tergolong nggak tinggi juga. Kalau jangka waktunya lebih dari 3 tahun maka kamu taroh ke Reksa Dana Pendapatan Tetap Syariah aja karena naik turunnya agak tajem. Sedangkan buat jangka waktu lebih dari 5 tahun kamu taroh di Reksa Dana Campuran Syariah (terdiri dari gabungan antara Reksa Dana Pasar Uang, Pendapatan Tetap dan Saham) aja, dan terakhir kalau kamu butuhnya buat jangak waktu lebih dari 10 tahun ya tempat yang paling tepat adalah Reksa Dana Saham Syariah karena saham itu naik turunnya curam banget jadi bisa dibiarin aja, kamu nggak perlu pusing-pusing mikirin naik turunnya.

Oh iya jadi kita nggak terikat lho kalau ikut Reksa Dana Syariah ini karena sistemnya kayak nabung biasa aja, sebulan mau investasi berapa kalipun juga silakan. Misalkan nih aku lagi butuh uang gitu ya terus aku mau cairin uang aku di Reksa Dana Syariah gitu prosesnya juga cepet kok paling cuma sehari dua hari di hari bursa (Senin-Jumat). Yang perlu diperhatikan adalah sistem pembelian Reksa Dana itu sendiri, contoh sekarang adalah Kamis jam 2 siang aku pengen beli Unit Penyertaan (satuan dalam Reksa Dana) dengan uang 1 juta. Aku login dulu di klikMAMI.com terus masukin data sesuai aku mau beli Reksa Dana yang jenis apa dan dengan uang berapa. Setelah itu aku tinggal transfer ke rekening Reksa Dana Syariah yang tercantum. Udah deh. Tapi jangan kaget ya waktu buka jumlah saldo di akun MAMI karena pembelianku  tadi nggak langsung tercantum. Semua pembelian yang dilakukan Kamis baru direkap sore dan malemnya baru diumumin harga UP esok harinya itu berapa dan kita baru tahu dengan uang 1 juta itu tadi bisa masuk ke rekening Reksa Dana Syariah aku dengan harga terkini di Jumat. Gitu dehhh.

Kenapa Bukan Investasi Emas?
Ya karena sebenernya emas itu bukan aset investasi tapi cuma melindungi nilai jual dari uang kita dari inflasi. Kalau Reksa Dana Syariah itu return yang didapet minimal 5,7% deh tiap tahun. Lumayan kan? Tapi kalau kamu masih ngotot mau investasi emas ya terserah aja sih asal kamu beli langsung emas LM di toko emas terus kamu simpen sendiri, jangan pernah deh kamu beli yang di aplikasi-aplikasi gitu, dititipin ke pegadaian atau ke bank. Duh nanti repotnya waktu cairinnya loh, mahal lagi, beneran. Dari pada ribet ngurusin pencairan emas mending pikirin gimana cara mencairkan suasana di pertemuan kita besok-besok deh. Eh jadinya kapan kita ketemuan buat bahas masa depan? Hehe.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku …

Kamu Suka Aku Nggak?

Pada sebuah sore yang mau maghrib dia duduk di lobi hotel, aku baru saja menyelesaikan shooting program televisi menghampiri ia yang mau jauh-jauh datang ke lain kota.

Sudah empat tahun. Mematikan rasa agar setiap temu aku nampak biasa nyatanya juga sia-sia. Harapku selalu bertumbuh ketika kami kembali bertatap. Menumpuk sudah keinginan untuk bersamanya, tapi lagi-lagi buat apa? Jika nanti itu tidak pernah ada, maka buat apa?

Aku seorang perempuan penuh logika. Semua kejadian tidak akan kupercaya jika logis tidak mengiya. Harapanku atas perasaannya hingga kini belum juga nyata. Justru karena semua maya susah dilogika, akhirnya aku memutuskan mengonfirmasi hatinya.

"Mas..." matanya bergerak dari surat beasiswa S2 ke mataku seolah bertanya 'ada apa?'

Konsekuensinya jika ia memiliki rasa yang sama maka kami perlu melanjutkan bicara, namun jika tidak maka aku akan menyelesaikan semua pengharapanku terhadapnya. Seringkas itu. Toh, aku juga siap dengan dua kemungkinan tadi…