Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 60

Semarang siang biasanya panas. Kata orang, lebih panas dari Jakarta. Tapi ketika kami menginjakkan kaki ke luar kereta, nampaknya langit turut prihatin. Prihatin kepada rasa yang tidak pernah sampai.
.
Pluto mengambil alih koperku sehingga kedua tangannya penuh menarik kopernya juga. Semenjak kemarin, aku memang lebih menjadi diam. Pluto berjalan memimpin di depanku mencari kursi kosong di ruang tunggu.
.
Sembari menunggu jemputan Saturnus, aku mengambil jurnal harian warna coklat yang sudah jarang aku tulis namun selalu kubawa ke mana-mana. Saturnus dulunya adalah reporter junior di Lembaga Pers Mahasiswa kampus, kami bersama Merkurius menjadi dekat karena sering meliput agenda secara tim.
.
"Ven.." Plu memindahkan kopernya yang terletak di antara kursi kami berdua.
.
"Apaan?" Kepala kusandarkan ke bahu Pluto. Ada banyak sekali premis yang bicara di otakku. Bising.
.
"Mars orang yang baik." Pluto mengambil buku kumpulan cepren karangan Hamsad Rangkuti yang berjudul Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu di kantong depan koper sehingga kepala yang tadinya aku sandarkan di bahunya menjadi tergantung beberapa detik hingga ia kembali merebahkan punggungnya di sandaran kursi.
.
Aku diam saja, kembali teringat kepada Bumi. Dengan kepala yang masih miring ke kanan aku mengangkat jurnal harianku dan menulis tiga kata yang membuatku tidak menyerah selama ini: Jangan Pernah Berhenti.
.
.
-bersambung-
.
#RotasiBimasakti (tema: A Letter to Myself)
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita #30hbcsurat #30hbc1815
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara

Tidak Lulus Tepat Waktu

Di dunia perkuliahan, sekarang ini sedang masanya libur kenaikan semester genap ke semester gasal. Itu berarti saya telah meninggalkan semester sepuluh dan akan menyambut semester sebelas. Memang dulu saya menghabiskan masa D3 dengan tepat waktu selama tiga tahun, kemudian melanjutkan transfer ke S1. Minimal masa tempuh transfer S1 dari D3 menurut peraturan dari Dikti ialah dua tahun. Jika dihitung secara berlanjut maka konversi mata kuliah yang belum saya ambil semasa D3 dulu memang bisa selesai dalam kurun waktu tepat dua tahun. Namun nyatanya saya masih harus melanjutkan ke semester sebelas. Benar, saya belum menyelesaikan skripsi saya.
Semasa semester satu dahulu saya begitu menganggap remeh teman-teman mahasiswa yang kuliah sembari bekerja. Bagaimana tidak, mereka seringkali terlambat masuk kelas sehingga saat pintu kelas dibuka mereka membuat mahasiswa lain juga dosen terganggu konsentrasinya. Mereka juga sering mengganggu saya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai tugas yang d…