Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 61

Hai aku Mars. Laki-laki yang bersuhu lebih dingin dari planet Bumi dengan badan kurus namun tegap memakai kacamata full frame berwarna hitam sedang duduk di dalam sebuah kafe bersama Venus. Minuman yang kami pesan barusan belum datang. Sebenarnya tidak bisa dikatakan bahwa aku seorang yang tampan, namun kacamata yang aku pakai ini mempertegas garis wajahku sehingga membuatku nampak terlihat pintar. Kata orang-orang di kantorku, aku memiliki aura yang terpancar. Sebenarnya aku juga tidak tahu aura yang bagaimana. Aku hanya selalu tersenyum dan ramah kepada semua orang, apalagi kepada Venus. Melihatnya bisa meluangkan waktu untuk bertemu aku yang sedang pulang ke Semarang saja aku sudah sangat senang.
.
Setelah lulus S1 Ilmu Komunikasi aku bekerja di stasiun televisi swasta nasional di Jakarta. Memulai karir dengan menjadi reporter membuatku sering bertugas menyampaikan data fakta yang dihimpun dalam sebuah live report. Tujuanku hanya satu: ketika nanti Venus merindui aku, dia cukup menyalakan televisi di rumahnya. Jika sedang beruntung channelku sedang menayangkan program berita siaran langsung dan ada aku saat memberikan live report maka tentu rindunya sudah bisa terobati tanpa perlu dia bilang ke aku, jika mungkin untuk mengatakannya ia malu.
.
Venus sedang khusyuk membaca buku. Sebagai dosen praktisi di almamater kami dulu, ia perlu mempersiapkan materi-materi kuliah untuk mahasiswanya. Tapi Venus masih bekerja di perusahaannya dulu. Jadi menjadi dosen adalah pekerjaan sampingannya saja.
.
"Ven.." Venus mengangkat wajahnya untuk menatapku dan tersenyum.
.
Hanya satu yang aku tidak suka dari Venus.
.
"Eh gimana kabarnya Merkurius ya? Kamu masih kontakan nggak sama dia?"
.
Hal yang tidak aku suka darinya adalah dia selalu membahas Merkurius.
.
.
-bersambung-
.
#RotasiBimasakti
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita #30hbc18 #30hbc1816
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara

Tidak Lulus Tepat Waktu

Di dunia perkuliahan, sekarang ini sedang masanya libur kenaikan semester genap ke semester gasal. Itu berarti saya telah meninggalkan semester sepuluh dan akan menyambut semester sebelas. Memang dulu saya menghabiskan masa D3 dengan tepat waktu selama tiga tahun, kemudian melanjutkan transfer ke S1. Minimal masa tempuh transfer S1 dari D3 menurut peraturan dari Dikti ialah dua tahun. Jika dihitung secara berlanjut maka konversi mata kuliah yang belum saya ambil semasa D3 dulu memang bisa selesai dalam kurun waktu tepat dua tahun. Namun nyatanya saya masih harus melanjutkan ke semester sebelas. Benar, saya belum menyelesaikan skripsi saya.
Semasa semester satu dahulu saya begitu menganggap remeh teman-teman mahasiswa yang kuliah sembari bekerja. Bagaimana tidak, mereka seringkali terlambat masuk kelas sehingga saat pintu kelas dibuka mereka membuat mahasiswa lain juga dosen terganggu konsentrasinya. Mereka juga sering mengganggu saya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai tugas yang d…