Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 62

Hal yang tidak aku suka darinya adalah dia selalu membahas Merkurius.
.
Aku ini menyukai seluruh hal yang konstan. Termasuk mencintaimu, meskipun diam-diam. Makanya dari dulu aku tidak pernah memindahkan hatiku. Kamu tahu sejak kapan? Jauh sebelum Bumi menyukaimu.
.
Aku suka kondisi seperti ini, melihatmu semakin jauh dari Bumi. Aku yakin, sampai sekarang Bumi belum juga menyampaikan perasaannya kepadamu kan Venus? Sampai kapanpun pergerakanmu kepadanya tidak boleh sedekat dulu. Aku yang akan men..
.
"Kamu masih kontakan ga sama Merkurius?"
.
Aku yang akan menjaga jarakmu ke Bumi tetap sejauh Andromeda ke Bimasakti.
.
"Mars woy malah ngalamun!" Venus mulai kesal pertanyaannya belum juga kujawab.
.
"Enggak Ven, udah lama banget. Eh aku punya cerita seru, asik banget loh jadi reporter!" Aku membelokkan jalan pembicaraan. Venus menutup bukunya, tertarik mendengarkan.
.
"Gimana gimanaaa? Siapa tau aku bisa lamar jadi reporter juga! Live report gitu susah nggak sih?" Venus penasaran, seperti tidak sabar mendengarkan ceritaku.
.
Tentu saja aku yang akan menjaga jarakmu kepada Bumi tetap jauh. Jauh sekali malah. Kan aku yang memberi saran kepadanya untuk menghilang. Karena aku memendam dendam pada Bumi sejak tiga tahun lalu.
.
"Enggak kok, gampaang!"
.
Venus, menjadi reporter yang harus muncul saat live tidak pernah susah. Aku hanya perlu membayangkan seseorang yang aku cintai menontonku di televisi. Seperti ada kamu di depan televisi sedang menyimak laporan dari data yang aku himpun.
.
.
-bersambung-
.
#RotasiBimasakti
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita #30hbc18 #30hbc1817
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku …

Yang Tidak NET TV Katakan (1)

Beberapa waktu lalu saya memakai fitur Q&A pada Instagram Story untuk mengetahui apa saja yang ingin teman-teman saya tahu mengenai NET TV. Terlebih ketika isu NET TV banyak dibahas pada artikel daring. Pembahasan ini sungguh luas sehingga memungkinkan untuk tidak menjadi satu kali unggahan saja.
Pembahasan ini dinilai dari sudut pandang saya yang hanya sebagai presenter panggilan NET Biro Jawa Tengah tiga tahun terakhir, tentu saya sebenernya nggak tahu banyak tapi saya rasa ada hal-hal yang perlu disampaikan dengan netral juga bijak.
Ada banyak perusahaan televisi di Indonesia dan terserah mereka mau bikin karakter perusahaannya kayak gimana. Tapi ada hal terpenting yang mereka lupa: frekuensi adalah milik publik sehingga tidak seharusnya mereka menciptakan program acara seenaknya.
Sejak kuliah di jurusan pertelevisian 6 tahun lalu saya semakin tidak bisa menonton televisi dengan damai. Ada terlalu banyak pelanggaran penyiaran setiap detiknya. Hingga tidak lama kemudian muncul satu…