Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 70

Aku Pluto.
.
Hari ini aku wisuda bersama Merkurius. Gedung fakultas kami memang dianggap paling artistik dari pada gedung lainnya di kampus. Iyalah, interpretasi seni harus dengan seni juga. Sinar matahari perlahan menghilang, jangan-jangan sebentar lagi hujan. Venus bilang mau ke sini. Kenapa lama sekali?
.
Sebenarnya aku tahu kalau selisih umurku dua tahun lebih muda. Sebenarnya aku juga tahu Merkurius tidak pernah mencintaiku. Tapi memang kenapa? Keduanya bukan hal yang perlu dijadikan masalah. Perspektif orang memang seringkali membuatnya nampak semakin susah. Usia akan selalu rancu jika dihitung sebagai takaran bahwa siapa yang hubungannya pantas atau tidak. Pun jika memang Merkurius belum mencintaiku ya tidak mengapa, cinta itu bisa ditumbuhkan dari rasa percaya. Jika aku berhasil meyakinkannya bahwa aku orang yang tepat, dia akan mencintaiku secepatnya. Aku berani jamin.
.
Cinta Merkurius kan bertepuk sebelah tangan. Lagipula Mars sudah membantuku untuk menjauhkan Bumi dari Venus. Jadi aku juga harus membantunya mendekat pada Venus. Meski terlihat pintar dari segala prestasi yang ia raih sampai sekarang, Mars bodoh dalam perihal percintaan. Sudah dari dulu dia memendam perasaan pada Venus, tapi si Jupiter tiba-tiba muncul dan Mars mau menjodohkan Venus dengan kakaknya itu. Bodoh.
.
Aku masih mengambil foto Merkurius. Bisa saja aku mengambil gambarnya berlama-lama karena ingin mengamatinya lekat-lekat. Tapi aku ini laki-laki berpendidikan, sampai kapanpun perempuan tidak boleh dijadikan sekedar objek. Hidup dalam sebuah tatanan budaya patriarki, perempuan terus menerus dijadikan objek, ini bisa membuat mereka lupa bagaimana caranya menjadi subjek. Satu hal yang membuatku kagum kepada Merkurius dan Venus, mereka tidak mengobjektifikasi dirinya. Mereka memutuskan untuk merawat rasanya bahkan pernah mencoba mengutarakannya.
.
"Mars!" Merkurius memanggil pujaan hatinya keras-keras. Aku melengos.
.
Mars kan temanku, seharusnya tidak perlu cemburu.
.
.
-bersambung-
.
#RotasiBimasakti 
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita #30hbc18 #30hbc1825
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku …

Yang Tidak NET TV Katakan (1)

Beberapa waktu lalu saya memakai fitur Q&A pada Instagram Story untuk mengetahui apa saja yang ingin teman-teman saya tahu mengenai NET TV. Terlebih ketika isu NET TV banyak dibahas pada artikel daring. Pembahasan ini sungguh luas sehingga memungkinkan untuk tidak menjadi satu kali unggahan saja.
Pembahasan ini dinilai dari sudut pandang saya yang hanya sebagai presenter panggilan NET Biro Jawa Tengah tiga tahun terakhir, tentu saya sebenernya nggak tahu banyak tapi saya rasa ada hal-hal yang perlu disampaikan dengan netral juga bijak.
Ada banyak perusahaan televisi di Indonesia dan terserah mereka mau bikin karakter perusahaannya kayak gimana. Tapi ada hal terpenting yang mereka lupa: frekuensi adalah milik publik sehingga tidak seharusnya mereka menciptakan program acara seenaknya.
Sejak kuliah di jurusan pertelevisian 6 tahun lalu saya semakin tidak bisa menonton televisi dengan damai. Ada terlalu banyak pelanggaran penyiaran setiap detiknya. Hingga tidak lama kemudian muncul satu…