Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 63

Venus, menjadi reporter yang harus muncul saat live tidak pernah susah. Aku hanya perlu membayangkan seseorang yang aku cintai menontonku di televisi. Seperti ada kamu di depan televisi sedang menyimak laporan dari data yang aku himpun.
.
"Kamu nggak grogi gitu ya? Kalo pas diliatin orang banyak gitu emang kamu nggak gampang ilang fokusnya Mars?" Sepertinya Venus masih berbakat menjadi reporter, dari dulu dia selalu mengajukan pertanyaan beruntun.
.
Ada sebab utama yang membuatku fokus saat melaporkan berita. Mataku menangkap seseorang yang jauh melewati lensa kamera, mengikuti aliran daya, memancar melalui frekuensi di udara, bahkan menembus layar yang sedang kau tatap seksama Ven.
.
"Grogi sih tapi pokoknya gimanapun caranya berita yang kita laporin itu bisa tetep utuh sampai ke pemirsa tanpa noise. Nanti kita bakal berusaha banget buat bener-bener jaga fokus." Venus tidak berkedip, alisnya naik, sangat mendengarkan.
.
Aku merogoh sesuatu dalam kantong kemejaku di sebelah kiri. Lalu mengeluarkan tangan dengan membentuk genggaman. Masih dalam menggenggam aku mengarahkan tanganku dan meletakkan sesuatu itu ke meja depan Venus. Kosong. Memang aku tidak menggenggam apapun.
.
"Ini, sesuatu yang barusan aku kasih ke kamu dan nggak keliatan ini, namanya percaya diri Ven. Kamu harus memutuskan kamu ingin menjadi siapa dan bersama siapa Ven. Coba ikut casting aja dulu di Jakarta." Venus mendengarkan.
.
Ya, aku memberimu semacam percaya diri. Kamu harus berani untuk mengetahui siapa orang yang benar-benar kamu cintai.
.
Mencintaimu itu seperti sebuah interupsi. Ada banyak jeda dalam perasaannya, melelahkan sekali.
.
.
-bersambung-
.
#RotasiBimasakti
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita #30hbc18 #30hbc1818
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Tidak Lulus Tepat Waktu

Di dunia perkuliahan, sekarang ini sedang masanya libur kenaikan semester genap ke semester gasal. Itu berarti saya telah meninggalkan semester sepuluh dan akan menyambut semester sebelas. Memang dulu saya menghabiskan masa D3 dengan tepat waktu selama tiga tahun, kemudian melanjutkan transfer ke S1. Minimal masa tempuh transfer S1 dari D3 menurut peraturan dari Dikti ialah dua tahun. Jika dihitung secara berlanjut maka konversi mata kuliah yang belum saya ambil semasa D3 dulu memang bisa selesai dalam kurun waktu tepat dua tahun. Namun nyatanya saya masih harus melanjutkan ke semester sebelas. Benar, saya belum menyelesaikan skripsi saya.
Semasa semester satu dahulu saya begitu menganggap remeh teman-teman mahasiswa yang kuliah sembari bekerja. Bagaimana tidak, mereka seringkali terlambat masuk kelas sehingga saat pintu kelas dibuka mereka membuat mahasiswa lain juga dosen terganggu konsentrasinya. Mereka juga sering mengganggu saya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai tugas yang d…

Kamu Suka Aku Nggak?

Pada sebuah sore yang mau maghrib dia duduk di lobi hotel, aku baru saja menyelesaikan shooting program televisi menghampiri ia yang mau jauh-jauh datang ke lain kota.

Sudah empat tahun. Mematikan rasa agar setiap temu aku nampak biasa nyatanya juga sia-sia. Harapku selalu bertumbuh ketika kami kembali bertatap. Menumpuk sudah keinginan untuk bersamanya, tapi lagi-lagi buat apa? Jika nanti itu tidak pernah ada, maka buat apa?

Aku seorang perempuan penuh logika. Semua kejadian tidak akan kupercaya jika logis tidak mengiya. Harapanku atas perasaannya hingga kini belum juga nyata. Justru karena semua maya susah dilogika, akhirnya aku memutuskan mengonfirmasi hatinya.

"Mas..." matanya bergerak dari surat beasiswa S2 ke mataku seolah bertanya 'ada apa?'

Konsekuensinya jika ia memiliki rasa yang sama maka kami perlu melanjutkan bicara, namun jika tidak maka aku akan menyelesaikan semua pengharapanku terhadapnya. Seringkas itu. Toh, aku juga siap dengan dua kemungkinan tadi…