Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 69

Mars andai kamu tahu, sikapmu selama ini membuyarkan kontemplasiku.
.
Tapi aku senang kamu meninggalkan dunia dancemu dan beralih menjadi reporter di perusahaan televisi nasional. Televisi di rumahku tidak pernah berganti channel. Aku selalu menunggu live reportmu. Meskipun jika bukan kamu yang live report aku akan mendengarkan semua berita demi mendengar namamu disebut, ya siapa tahu. Setiap jam 5, 10, 12, 16, dan 24 jika aku sedang di luar rumah tentu aku berusaha menontonmu melalui streaming. Tapi toh kamu tidak tahu kan?
.
Menunggumu menyambut perasaanku adalah satu-satunya hoaks yang aku percaya di dunia ini.
.
Mars masih diam. Pluto memberikan kamera yang dipegang kepada Mars.
.
"Ya sudah kalau tidak mau foto, ambilkan gambarku dengan Merkurius Mars." Pluto berpindah posisi ke sebelahku. Aku melihat Venus menatap Pluto dengan nanar, aku tidak tahu apa artinya. Angin berhembus sedikit. Semua orang di gedung serbaguna kampusku seolah diam, sepi sekali. Mars mengiyakan.
.
"Aku countdown nih ya, siap-siap.." Mars mengambil posisi agak membungkuk, meletakkan wajahnya di depan preview kamera milik Pluto. Aku merasakan sakit pada jantungku, seperti dijatuhi jutaan komet. Aku paksakan tersenyum.
.
"Three.."
.
Pluto bergaya dengan memasukkan tangan kanannya ke dalam kantong celana hitamnya. Aku di sebelah kiri Pluto.
.
"Two.."
.
Aku memaksakan tersenyum lalu mengangkat tangan kiriku membentuk logo 'peace' dan menatap kamera. Aku merasa bisa menembus pandangan Mars masuk ke syaraf yang membawanya ke otaknya. Dan tidak ada aku di sana.
.
"One!"
.
Pluto tiba-tiba mengeluarkan cincin emas yang aku tidak tahu berapa karat dari kantong kanan celananya.
.
"Kamu mau nerima rasaku nggak?" Pluto melihat ke arahku, aku memindahkan pandanganku ke Pluto, kaget.
.
Klik! Mars menekan tombol kamera.
.
Venus datang menghampiriku, menggenggam tanganku.
.
Aku bingung.
.
.
-bersambung-
.
#RotasiBimasakti (Tema: Hoaks)
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita #30hbc18hoaks #30hbc1824
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Yang Tidak NET TV Katakan (1)

Beberapa waktu lalu saya memakai fitur Q&A pada Instagram Story untuk mengetahui apa saja yang ingin teman-teman saya tahu mengenai NET TV. Terlebih ketika isu NET TV banyak dibahas pada artikel daring. Pembahasan ini sungguh luas sehingga memungkinkan untuk tidak menjadi satu kali unggahan saja.
Pembahasan ini dinilai dari sudut pandang saya yang hanya sebagai presenter panggilan NET Biro Jawa Tengah tiga tahun terakhir, tentu saya sebenernya nggak tahu banyak tapi saya rasa ada hal-hal yang perlu disampaikan dengan netral juga bijak.
Ada banyak perusahaan televisi di Indonesia dan terserah mereka mau bikin karakter perusahaannya kayak gimana. Tapi ada hal terpenting yang mereka lupa: frekuensi adalah milik publik sehingga tidak seharusnya mereka menciptakan program acara seenaknya.
Sejak kuliah di jurusan pertelevisian 6 tahun lalu saya semakin tidak bisa menonton televisi dengan damai. Ada terlalu banyak pelanggaran penyiaran setiap detiknya. Hingga tidak lama kemudian muncul satu…

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku …