Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 68

"Ven, sini!" Pluto melambai ke arah Venus. Loh? Mereka berdua saling mengenal?
.
"Woy, Plu selamat!" Mars langsung menyalami Pluto dan menepuk-nepuk punggungnya.
.
"Kamu kenal Venus juga Mars, Plu?" Duh kenapa aku sedikit merasa..cemburu? Bukan mencemburui Pluto, bukan. Aku cemburu karena Pluto mengenal keduanya. Itu berarti jika Mars.. Venus memeluk Pluto sebagai ucapan selamat lalu menarik lenganku, mengajakku berfoto tanpa toga yang sudah kulepas karena kegerahan. Pluto hanya menjawab dengan tersenyum.
.
Jika Mars mengenal seseorang yang juga mengenal Venus yaitu Pluto, itu berarti ada hipotesa bahwa cakupan revolusi mereka bisa jadi lebih dekat dari pada yang kubayangkan. Mars tidak menyia-nyiakan hilangnya peredaran Bumi dari putaran tata surya.
.
"Pluto adik tiriku Mer, ceritanya panjang. Oh ya bagaimana kelanjutanmu dengan Mars? Aku menunggu ceritamu." Venus tertawa menggodaku, aku juga tertawa..meskipun dibuat-buat. Bagaimana bisa hubunganku berlanjut jika kamu masih saja bersemayam pada sebuah antara?
.
"Plu fotokan aku dengan Merkurius." Ujar Venus kepada Plu, Pluto menurut.
.
"Mars ayo kita foto!" Aku merasa sudah cukup berfoto setelah berganti-ganti gaya dengan Venus dan langsung menghampiri Mars yang berdiri di samping Pluto.
.
"Aku lagi nggak mood foto nih Mer, nanti aja ya." Mars membenarkan letak kacamatanya. Aku melirik ke arah Venus.
.
Mars andai kamu tahu, sikapmu selama ini membuyarkan kontemplasiku. Apakah aku harus menyelesaikanmu atau harus menunggu Bumi muncul dan merebut Venus dari jangkaumu?
.
.
-bersambung-
.
#RotasiBimasakti
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita #30hbc18 #30hbc1823
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Yang Tidak NET TV Katakan (1)

Beberapa waktu lalu saya memakai fitur Q&A pada Instagram Story untuk mengetahui apa saja yang ingin teman-teman saya tahu mengenai NET TV. Terlebih ketika isu NET TV banyak dibahas pada artikel daring. Pembahasan ini sungguh luas sehingga memungkinkan untuk tidak menjadi satu kali unggahan saja.
Pembahasan ini dinilai dari sudut pandang saya yang hanya sebagai presenter panggilan NET Biro Jawa Tengah tiga tahun terakhir, tentu saya sebenernya nggak tahu banyak tapi saya rasa ada hal-hal yang perlu disampaikan dengan netral juga bijak.
Ada banyak perusahaan televisi di Indonesia dan terserah mereka mau bikin karakter perusahaannya kayak gimana. Tapi ada hal terpenting yang mereka lupa: frekuensi adalah milik publik sehingga tidak seharusnya mereka menciptakan program acara seenaknya.
Sejak kuliah di jurusan pertelevisian 6 tahun lalu saya semakin tidak bisa menonton televisi dengan damai. Ada terlalu banyak pelanggaran penyiaran setiap detiknya. Hingga tidak lama kemudian muncul satu…

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku …