Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 56

"Namanya Merkurius, kamu kenal?"
.
Deg! Jantungku berhenti seperberapa detik.
.
Setelah wisuda S1 Merkurius juga melanjutkan S2 sepertiku namun di kampus yang berbeda denganku. Dia ambil jurusan seni di universitas yang sama seperti Pluto yang masih berjuang menyelesaikan skripsi. Kabar terakhir yang aku dengar Merkurius tinggal menunggu wisuda saja sekarang ini.
.
Wajar saja jika Merkurius tidak mengetahui kalau aku mengenal Pluto sedari kecil, wajar juga Merkurius tidak tahu kalau Pluto adalah adik yang dilahirkan mamiku di pernikahan kedua dengan keluarga barunya. Toh aku juga baru tahu setahun yang lalu mengenai ini. Meskipun ternyata Pluto sudah tahu dari pertama mengajakku berkenalan di sekolah dasar. Coklat pemberiannya tiap jam istirahat itu juga karena disuruh mami yang masih tinggal di Aceh. Itu jugalah mengapa revolusi Pluto selalu ada di sebelahku setelah Bumi pergi ke Madinah. Pluto diamanahi mami untuk menjagaku.
.
Karena kesibukan masing-masing, aku dan Merkurius sudah lama sekali tidak berkontak.
.
Taxi berwarna kuning mengantar kami ke bandara dalam diam. Aku masih memikirkan bagaimana cara memberi tahu Pluto.
.
"Kamu kenal Ven?" Sesampainya di bandara rupanya Pluto masih penasaran apakah aku mengenal perempuan yang sedang ditaksirnya atau tidak. Usia Pluto memang lebih muda dua tahun dariku dan Merkurius. Banyak sedikitnya selisih umur atau lebih tua siapa dari siapa bagiku bukan masalah. Namanya juga bicara tentang rasa. Tapi ada masalah yang lain.
.
Keadaan bandara siang itu lebih sepi dari pertama kali kita menginjakkan kaki di Madinah. Sedikit sekali orang yang berlalu lalang dengan koper. Aku belum menjawab pertanyaan Pluto. Setelah check in kami menunggu di ruang boarding.
.
"Jangan dekati Merkurius Plu." Pluto yang pintar bernyanyi ini sedang bersenandung lagu andalannya seminggu ini sambil memainkan ponsel. Mendengar jawabanku, ia mengernyitkan dahi.
.
.
-bersambung-
.
#RotasiBimasakti
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita #30hbc18 #30hbc1811
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Yang Tidak NET TV Katakan (1)

Beberapa waktu lalu saya memakai fitur Q&A pada Instagram Story untuk mengetahui apa saja yang ingin teman-teman saya tahu mengenai NET TV. Terlebih ketika isu NET TV banyak dibahas pada artikel daring. Pembahasan ini sungguh luas sehingga memungkinkan untuk tidak menjadi satu kali unggahan saja.
Pembahasan ini dinilai dari sudut pandang saya yang hanya sebagai presenter panggilan NET Biro Jawa Tengah tiga tahun terakhir, tentu saya sebenernya nggak tahu banyak tapi saya rasa ada hal-hal yang perlu disampaikan dengan netral juga bijak.
Ada banyak perusahaan televisi di Indonesia dan terserah mereka mau bikin karakter perusahaannya kayak gimana. Tapi ada hal terpenting yang mereka lupa: frekuensi adalah milik publik sehingga tidak seharusnya mereka menciptakan program acara seenaknya.
Sejak kuliah di jurusan pertelevisian 6 tahun lalu saya semakin tidak bisa menonton televisi dengan damai. Ada terlalu banyak pelanggaran penyiaran setiap detiknya. Hingga tidak lama kemudian muncul satu…

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku …