Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 49

Madinah sangat terik. Rasanya matahari di sini berbeda dari matahari yang ada di Indonesia. Aku terus berjalan menjauhi Al Alya Hotel Rooms and Suites tempat aku dan Pluto menginap seminggu kemarin. Akhirnya sedikit ilmu yang aku punya bisa dimanfaatkan dalam membantu karir om Langit, adik mami. Penerbangan ke Jakarta dari Prince Mohammad Bin Abdulaziz International Airport masih nanti pukul 14.05 Arabian Standard Time (AST), sekarang masih pukul sepuluh jadi kira-kira satu jam lagi kami harus berangkat ke bandara. Meskipun jaraknya hanya 15 kilometer namun lebih baik kami menunggu lama di sana.
.
Pluto lebih dulu ke kafe meninggalkanku. Dia bilang punya firasat ada sesuatu di sana. Intuisi Pluto memang selalu kuat. Selain itu dia juga mau mencari cincin emas 14 karat yang ia beli saat kami jalan-jalan kemarin namun sepertinya jatuh ketika kami mampir ke kafe bergaya vintage yang aku lupa namanya itu semalam. Aku masih berjalan santai, 3 blok lagi lalu belok kanan maka aku akan sampai. Tiba-tiba ponselku berbunyi, Pluto menelfon.
.
"Ven buruan ke sini, ada Bumi!" Langkahku berhenti. Lututku lemas. Seperti ada meteoroid jatuh tepat menyasar kakiku. Jantungku berdegup kelewat cepat. Senyumku mengembang. Akhirnya!
.
"Plu cepat bilang apa yang Bumi lakukan di sana?" Aku ingin cepat-cepat tahu apapun mengenai Bumi.
.
"Dia sedang mengetik sesuatu di laptopnya, di sebelahnya ada secangkir red velvet." Red velvet adalah minuman favoritku sejak dulu. Aku jadi kegeeran kenapa minuman itu yang dipesan Bumi.
.
Pluto bilang ia duduk dengan jarak dua meja membelakangi Bumi dan mengamatinya dari pantulan dinding kafe yang terbuat dari kaca. Dengan kaki yang tidak begitu kuat melangkah, aku melanjutkan perjalanan ke kafe yang rasanya menjadi lebih jauh. Aku masih mendengarkan Pluto bicara dengan ponselku.
.
Kenapa kamu memesan sesuatu yang sangat aku sukai? Apakah sebenarnya ada aku di hatimu?
.
.
-bersambung-
.
#RotasiBimasakti 
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita #30hbc18 #30hbc1804
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Tidak Lulus Tepat Waktu

Di dunia perkuliahan, sekarang ini sedang masanya libur kenaikan semester genap ke semester gasal. Itu berarti saya telah meninggalkan semester sepuluh dan akan menyambut semester sebelas. Memang dulu saya menghabiskan masa D3 dengan tepat waktu selama tiga tahun, kemudian melanjutkan transfer ke S1. Minimal masa tempuh transfer S1 dari D3 menurut peraturan dari Dikti ialah dua tahun. Jika dihitung secara berlanjut maka konversi mata kuliah yang belum saya ambil semasa D3 dulu memang bisa selesai dalam kurun waktu tepat dua tahun. Namun nyatanya saya masih harus melanjutkan ke semester sebelas. Benar, saya belum menyelesaikan skripsi saya.
Semasa semester satu dahulu saya begitu menganggap remeh teman-teman mahasiswa yang kuliah sembari bekerja. Bagaimana tidak, mereka seringkali terlambat masuk kelas sehingga saat pintu kelas dibuka mereka membuat mahasiswa lain juga dosen terganggu konsentrasinya. Mereka juga sering mengganggu saya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai tugas yang d…

Kamu Suka Aku Nggak?

Pada sebuah sore yang mau maghrib dia duduk di lobi hotel, aku baru saja menyelesaikan shooting program televisi menghampiri ia yang mau jauh-jauh datang ke lain kota.

Sudah empat tahun. Mematikan rasa agar setiap temu aku nampak biasa nyatanya juga sia-sia. Harapku selalu bertumbuh ketika kami kembali bertatap. Menumpuk sudah keinginan untuk bersamanya, tapi lagi-lagi buat apa? Jika nanti itu tidak pernah ada, maka buat apa?

Aku seorang perempuan penuh logika. Semua kejadian tidak akan kupercaya jika logis tidak mengiya. Harapanku atas perasaannya hingga kini belum juga nyata. Justru karena semua maya susah dilogika, akhirnya aku memutuskan mengonfirmasi hatinya.

"Mas..." matanya bergerak dari surat beasiswa S2 ke mataku seolah bertanya 'ada apa?'

Konsekuensinya jika ia memiliki rasa yang sama maka kami perlu melanjutkan bicara, namun jika tidak maka aku akan menyelesaikan semua pengharapanku terhadapnya. Seringkas itu. Toh, aku juga siap dengan dua kemungkinan tadi…