Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 55

Tiba-tiba ponselku berbunyi, Mars menelfon.
.
"Udah di bandara Ven? Jangan telat." Di tengah genting karena barusan ditinggal Bumi aku mengangkat telfon dari Mars. Persahabatanku dengan Mars memang paling awet. Aku ingin langsung menceritakan kejadian ini padanya namun belum sampai aku cerita, hatiku semakin tak beraturan ketika..
.
"Oh iya kak Jupiter ngirimin kamu email, dicek ya.."
.
Hah? Email? Buat apa? Tadi waktu aku masih di penginapan memang ada notifikasi email masuk tapi belum aku cek dari siapa. Dalam situasi Bumi menjauh dari arah revolusiku, sepertinya aku akan buka email dari kak Jupiter ketika sudah sampai di Indonesia. Perginya Bumi tanpa pamit barusan membuatku sedikit butuh ketenangan.
.
Aku memandang Pluto, ia masih duduk di bangku yang sama dan menggeleng pelan, mata sipitnya seakan berkata, "Ven jangan lanjutkan lagi, tinggalkan Bumi."
.
Aku putuskan kami harus berangkat ke bandara sekarang, ingin cepat-cepat meninggalkan kota ini. Usai habiskan pesanan kami, membayar tagihan pesanan, Pluto dipanggil oleh pelayan yang beda dari yang tadi melayani kami. Pelayan yang terlihat masih sangat muda usia sekolah menengah atas mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, cincin emas 14 karat yang dicari Pluto. Pelayan tersebut menemukannya barusan ketika menyapu kolong meja paling pojok di kafe bergaya zaman dahulu ini. Pluto terlihat senang.
.
"Plu, sebenarnya cincin itu buat siapa sih? Memangnya siapa nama perempuan di kampusmu yang kamu taksir itu? Barangkali aku kenal."
.
Sambil mempersilakanku keluar duluan dengan membuka pintu kafe, terdengar bunyi lonceng kecil berdenting..
.
"Namanya Merkurius, kamu kenal?"
.
.
-bersambung-
.
#RotasiBimasakti
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita #30hbc18 #30hbc1810
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelas Cinta

Tempo hari aku ikut Kelas Cintanya Lex de Praxis, sebenernya bukan karena kehidupan percintaanku kenapa-kenapa banget. Lebih sekadar penasaran materi yang membahas cinta itu kayak gimana modelnya. Rame banget yang dateng. 

Seperti seminar kebanyakan, materi yang disampaikan pasti ada yang bikin kita setuju mengiyakan atau bahkan tidak percaya sama sekali. Dari sekian banyak yang tidak kupercayai sama sekali, ada beberapa hal yang bikin otakku mikir untuk pertama kali.Kalimat-kalimat yang tadinya cuma aku baca di novel atau tahu dari film, saat itu aku bener-bener mencoba mengerti hingga mencerna dengan hati.
Pertama, adalah cinta itu hubungan dua arah. Kalo kita udah usaha buat mendapatkan perhatian tapi dia sang pujaan tidak kembali melakukan hal yang sama, maka berhentilah berharap. Aku rasa tadinya mengharapkan sesuatu yang miliki sedikit kemungkinan untuk terwujud memang membutuhkan waktu lebih lama. Seperti lebih lama berjuang, mungkin juga lebih lama berkorban. Tapi jika dipikir-p…

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara