Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 50

Kenapa kamu memesan sesuatu yang sangat aku sukai? Apakah sebenarnya ada aku di hatimu?
.
Aku sudah berada di depan oh iya namanya Coupa Cafe. Bangunan ini tidak terlalu besar, di bagian depan seluruh dindingnya terbuat dari kaca sehingga orang-orang yang ada di dalam bisa melihat dengan jelas siapa saja yang ada di luar kafe. Namun jika pagi sedang terik begini, aku yang ada dari luar tidak bisa melihat apa-apa di dalam karena matahari memantulkan gambar langit beserta awan di dinding kaca kafe. Barusan ada bapak-bapak berkulit coklat gelap keluar dari kafe dan lonceng di pintu berbunyi. Aku masuk membuka pintu dan lonceng tersebut bersuara lagi. Di dalam hanya ada Pluto dan.. Bumi yang duduk jauh membelakangi pintu. Bagaimana cara aku mulai menyapanya? Kalau sudah lama tidak bertemu begini jadi canggung.
.
Kalaupun kami jadinya sempat mampir ke Makkah untuk mencari Bumi, kami harus mencari informasi dari King Abdullah University of Science and Technology di Thuwal, Makkah agar tahu selama ini Bumi tinggal dimana, harus menelusuri jalanan yang kami belum pernah ke sana pasti terasa melelahkan.
.
"Pluto! Gimana jadinya? Cincinnya ketemu nggak?" Nah iya begini saja, aku mau tahu seperti apa reaksi Bumi ketika mendengar suaraku. Dengan ekor mataku, aku menangkap Bumi berbalik ke arahku lalu kembali menghadap ke laptop. Aku masih berpura tak melihatnya.
.
"Untung kamu cepet dateng Ven, hampir-hampir pulsaku habis menelfonmu." Jawab Pluto sembari menutup panggilan.
.
Aku melangkah menghampiri Pluto dan langsung duduk di hadapannya, mengambil red velvet yang dipesan Pluto untuk mencium aromanya, tersenyum, dan kemudian kuletakkan lagi cangkir itu di tempat semula. Aku mengambil buku menu dan membolak-balik lembarnya. Bumi belum juga menghampiriku. Baiklah aku cari cara lain. Aku mengangkat tangan mengisyaratkan memanggil waiter.
.
"Hot Coffee Latte, واحدة"
.
​Bumi membalikkan badannya ke arah meja kami berdua. Masih dengan satu tangan yang kuangkat, aku menatapnya dan.. tersenyum!
.
.
-bersambung-
.
#RotasiBimasakti
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita #30hbc18 #30hbc1805
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku …

Yang Tidak NET TV Katakan (1)

Beberapa waktu lalu saya memakai fitur Q&A pada Instagram Story untuk mengetahui apa saja yang ingin teman-teman saya tahu mengenai NET TV. Terlebih ketika isu NET TV banyak dibahas pada artikel daring. Pembahasan ini sungguh luas sehingga memungkinkan untuk tidak menjadi satu kali unggahan saja.
Pembahasan ini dinilai dari sudut pandang saya yang hanya sebagai presenter panggilan NET Biro Jawa Tengah tiga tahun terakhir, tentu saya sebenernya nggak tahu banyak tapi saya rasa ada hal-hal yang perlu disampaikan dengan netral juga bijak.
Ada banyak perusahaan televisi di Indonesia dan terserah mereka mau bikin karakter perusahaannya kayak gimana. Tapi ada hal terpenting yang mereka lupa: frekuensi adalah milik publik sehingga tidak seharusnya mereka menciptakan program acara seenaknya.
Sejak kuliah di jurusan pertelevisian 6 tahun lalu saya semakin tidak bisa menonton televisi dengan damai. Ada terlalu banyak pelanggaran penyiaran setiap detiknya. Hingga tidak lama kemudian muncul satu…