Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 48

Namaku Binar Tasa Diniyya, tapi sedari Sekolah Dasar biasa dipanggil Venus. Sebenarnya nama itu pemberian Bumi seusai pelajaran Sains mengenai tata surya saat kelas tiga. Dari seluruh planet di putaran tata surya kita, Venus adalah planet yang paling terang. Paling berbinar. Bumi bilang, Venus nama yang bagus jika kupakai. Semenjak itu aku memperkenalkan diriku sebagai Venus. Dan setiap orang-orang memanggilku, mereka selalu mengingatkanku kepada Bumi.
.
Angin menemani aku dan papi menuju ke parkiran mobil. Kelihatannya sebentar lagi hujan.
.
"Ven, papi masih nggak habis pikir deh apa alasan kamu nggak lanjutin S2 di bidang Ilmu Komunikasi lagi. Kalo linear kan bisa jadi pakar nanti." Tanya papi yang juga sudah tak pernah memanggilku Binar lagi.
.
Setelah menemukan Terios hitam, aku membuka pintu sebelah kiri. Papi yang menyetir membuka pintu mobil sebelah kanan. Papi mengangkat alisnya meminta jawaban. Aku memberi jeda sebentar.
.
"Karena apa ya.. bosen pap hehe" Papi tertawa dan mengelus kepalaku.
.
Sebenarnya alasannya bukan itu. Keputusanku masuk ke Ilmu Komunikasi saat S1 dulu karena aku bisa mempelajari bagaimana cara berkomunikasi yang baik. Maksudku, bagaimana cara mengomunikasikan rasaku dengan baik. Tentu menurut teori-teori komunikasi.
.
Menurut teori Harold Lasswell, komunikasi didefinisikan sebagai who says what in which channel to whom with what effect. Harusnya komunikasiku berjalan lancar seperti teori tersebut. Namun ternyata tidak kan? Komunikasiku tidak berefek, tidak ada dampak apa-apa. Bahkan saat mengonfirmasi rasaku kepada Bumi tiga tahun lalu saja tidak terverifikasi ketepatan jawabannya hingga sekarang. Belum lagi masalah hilangnya Bumi. Setelah merasa gagal merealisasikan teori tersebut, aku memutuskan melanjutkan kuliah S2 di Magister Manajemen saja. Alasannya agar dapat mengelola rasaku terhadap Bumi dengan keefektifan dan tingkat efisiensi yang baik.
.
Aku juga heran, sebenarnya apa yang membuatku sebegitunya terhadap Bumi?
.
.
-bersambung-
.
#RotasiBimasakti
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita #30hbc18 #30hbc1803
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Yang Tidak NET TV Katakan (1)

Beberapa waktu lalu saya memakai fitur Q&A pada Instagram Story untuk mengetahui apa saja yang ingin teman-teman saya tahu mengenai NET TV. Terlebih ketika isu NET TV banyak dibahas pada artikel daring. Pembahasan ini sungguh luas sehingga memungkinkan untuk tidak menjadi satu kali unggahan saja.
Pembahasan ini dinilai dari sudut pandang saya yang hanya sebagai presenter panggilan NET Biro Jawa Tengah tiga tahun terakhir, tentu saya sebenernya nggak tahu banyak tapi saya rasa ada hal-hal yang perlu disampaikan dengan netral juga bijak.
Ada banyak perusahaan televisi di Indonesia dan terserah mereka mau bikin karakter perusahaannya kayak gimana. Tapi ada hal terpenting yang mereka lupa: frekuensi adalah milik publik sehingga tidak seharusnya mereka menciptakan program acara seenaknya.
Sejak kuliah di jurusan pertelevisian 6 tahun lalu saya semakin tidak bisa menonton televisi dengan damai. Ada terlalu banyak pelanggaran penyiaran setiap detiknya. Hingga tidak lama kemudian muncul satu…

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku …