Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 51

​Bumi membalikkan badannya ke arah meja kami berdua. Masih dengan satu tangan yang diangkat, aku menatapnya dan.. tersenyum!
.
Ia membalas senyumku. Tapi sangat tipis. Aku berdiri, menoleh ke arah pelayan yang berjalan menghampiriku. Pluto berdecak, masih tidak setuju dengan pengharapanku terhadap Bumi selama ini.
.
"يااخي مع choco muffin واحد."
.
Kubilang satu choco muffin sebagai tambahan pesananku. Ia menganggukkan kepala, aku menghampiri meja Bumi dan duduk di depannya. Meninggalkan Pluto yang pasti muak dengan adegan ini. Aku tertegun, di sebelah kertas-kertas yang berserakan dekat laptop ada pulpen warna biru pemberianku saat perpisahan di bandara tiga tahun lalu yang berukir Syaif Al-Ardh, berarti Pedangnya Bumi. Saat kecil akulah yang membujuknya untuk merubah nama panggilan dari Ardy menjadi Bumi karena sama arti. Dan yang mengejutkan lagi, secangkir red velvet di depan Bumi masih penuh. Seperti sengaja belum diminum sedari tadi. Apakah itu berarti Bumi merindui aku?
.
"Ven, menurutmu bagaimana jika terjadi penolakan dari hipotesis semula?" Dia menaikkan alis. Bumi mencoba membuat suasana mencair. Pelayan meletakkan pesananku di atas meja. Lalu kami berdua tertawa, seperti dejavu ke masa tiga tahun lalu.
.
"Kemudian kapan tanggal pernikahanmu dengan Pluto?" Bumi berdiri sembari memberesi semua barang di atas meja dan memasukkannya ke tas punggung. Pernikahan? Pluto? Dia adik tiriku yang aku juga baru tahu dua tahun belakangan ini ketika Mami mengunjungi aku dan Papi di Semarang.
.
Belum sempat aku tertawa dan menjawab pertanyaan Bumi, dia lebih dulu pergi menuju pintu kafe, membukanya, diam sebentar lalu berbalik. Bukan ke arahku namun ke Pluto.
.
"Pluto, jagain Venus ya." Bumi keluar. Kepergiannya menyisakan bunyi lonceng kecil di atas pintu yang masih berdenting. Inti Venusku perih, sakit sekali. Cincin yang Pluto beli kemarin itu untuk teman spesialnya di kampus. Mungkin Bumi salah faham.
.
Tiba-tiba ponselku berbunyi, Mars menelfon.
.
.
-bersambung-
.
#RotasiBimasakti
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita #30hbc1806
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Yang Tidak NET TV Katakan (1)

Beberapa waktu lalu saya memakai fitur Q&A pada Instagram Story untuk mengetahui apa saja yang ingin teman-teman saya tahu mengenai NET TV. Terlebih ketika isu NET TV banyak dibahas pada artikel daring. Pembahasan ini sungguh luas sehingga memungkinkan untuk tidak menjadi satu kali unggahan saja.
Pembahasan ini dinilai dari sudut pandang saya yang hanya sebagai presenter panggilan NET Biro Jawa Tengah tiga tahun terakhir, tentu saya sebenernya nggak tahu banyak tapi saya rasa ada hal-hal yang perlu disampaikan dengan netral juga bijak.
Ada banyak perusahaan televisi di Indonesia dan terserah mereka mau bikin karakter perusahaannya kayak gimana. Tapi ada hal terpenting yang mereka lupa: frekuensi adalah milik publik sehingga tidak seharusnya mereka menciptakan program acara seenaknya.
Sejak kuliah di jurusan pertelevisian 6 tahun lalu saya semakin tidak bisa menonton televisi dengan damai. Ada terlalu banyak pelanggaran penyiaran setiap detiknya. Hingga tidak lama kemudian muncul satu…

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku …