Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimasakit Episode 47

Adalah Bumi mencintaiku, itu masih takhayul.
.
Aku tidak boleh menyerah. Kan ini masih belum, bisa dibilang bukan tidak mencintaiku sama sekali.
.
Siang ini tidak terik seperti siang-siang biasanya. Hanya Papi yang datang ke acara wisudaku, Pluto sedang ada kerjaan yang tidak bisa ditinggal di luar kota.
Saat aku berusia satu tahun, Mami memutuskan bercerai dengan Papiku. Lalu menikah lagi dengan sahabat kecilnya dulu, yang mana adalah sahabat Papi juga. Mami dan suami barunya tinggal di Aceh.
.
Ketika pekerjaan Papi dipindah ke Semarang, aku sering ke rumah Bumi karena ada tante Bintang. Apalagi setelah tante Bintang juga bercerai dengan om Surya, aku harus menghibur Bumi. Itulah kenapa rumah Bumi benar-benar terasa sangat rumah. Itu karena aku menemukan figur Mami di sana.
.
Bumi juga semakin sering main ke rumahku karena ada Papi sebagai figur Papanya, dia biasa memanggil Papi dengan om Bhanu. Menurut bahasa Sanskerta nama Papiku berarti matahari, sedangkan Mamiku bernama Bulan. Sama seperti Papa Mama Bumi, om Surya dan tante Bintang, memang sampai kapanpun pagi dan malam hari tidak bisa jalan beriringan. Meski begitu Papi tidak mau menikah lagi, katanya karena masih ada seorang Bulan di dalam hati Matahari.
.
Om Langit, adik kandung mami baru diangkat menjadi manajer perusahaan makanan ringan di Madinah, sebagai pekerja lepas di perusahaan marketing communication nasional ternama penempatan Jawa aku diminta sedikit membantu manajerial perusahaannya yang belum begitu kokoh di sana. Aku cuti kerja selama seminggu. Jika sempat mampir ke Mekah, sekalian aku mau mencari Bumi. Merindukan Bumi setiap hari adalah pekerjaanku yang belum usai. Tidak akan pernah selesai.
.
Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia punya kebijakan yang cukup unik dan mungkin satu-satunya di dunia. Seorang perempuan dilarang masuk ke Madinah apabila tidak didampingi oleh laki-laki yang menjadi mahramnya.
.
Jadi aku akan berangkat bersama Pluto.
.
.
-bersambung-
.
#RotasiBimasakti
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita #30hbc18 #30hbc1802
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara

Tidak Lulus Tepat Waktu

Di dunia perkuliahan, sekarang ini sedang masanya libur kenaikan semester genap ke semester gasal. Itu berarti saya telah meninggalkan semester sepuluh dan akan menyambut semester sebelas. Memang dulu saya menghabiskan masa D3 dengan tepat waktu selama tiga tahun, kemudian melanjutkan transfer ke S1. Minimal masa tempuh transfer S1 dari D3 menurut peraturan dari Dikti ialah dua tahun. Jika dihitung secara berlanjut maka konversi mata kuliah yang belum saya ambil semasa D3 dulu memang bisa selesai dalam kurun waktu tepat dua tahun. Namun nyatanya saya masih harus melanjutkan ke semester sebelas. Benar, saya belum menyelesaikan skripsi saya.
Semasa semester satu dahulu saya begitu menganggap remeh teman-teman mahasiswa yang kuliah sembari bekerja. Bagaimana tidak, mereka seringkali terlambat masuk kelas sehingga saat pintu kelas dibuka mereka membuat mahasiswa lain juga dosen terganggu konsentrasinya. Mereka juga sering mengganggu saya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai tugas yang d…