Langsung ke konten utama

Tidak Lulus Tepat Waktu

Di dunia perkuliahan, sekarang ini sedang masanya libur kenaikan semester genap ke semester gasal. Itu berarti saya telah meninggalkan semester sepuluh dan akan menyambut semester sebelas. Memang dulu saya menghabiskan masa D3 dengan tepat waktu selama tiga tahun, kemudian melanjutkan transfer ke S1. Minimal masa tempuh transfer S1 dari D3 menurut peraturan dari Dikti ialah dua tahun. Jika dihitung secara berlanjut maka konversi mata kuliah yang belum saya ambil semasa D3 dulu memang bisa selesai dalam kurun waktu tepat dua tahun. Namun nyatanya saya masih harus melanjutkan ke semester sebelas. Benar, saya belum menyelesaikan skripsi saya.

Semasa semester satu dahulu saya begitu menganggap remeh teman-teman mahasiswa yang kuliah sembari bekerja. Bagaimana tidak, mereka seringkali terlambat masuk kelas sehingga saat pintu kelas dibuka mereka membuat mahasiswa lain juga dosen terganggu konsentrasinya. Mereka juga sering mengganggu saya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai tugas yang diberikan dosen ketika mereka tidak mengikuti perkuliahan. Mereka juga selalu susah ketika diajak mengerjakan tugas kelompok karena waktu yang begitu terbatas karena urusan kerjaan. Juga seringkali mereka tidak ikut kami nongkrong di kafe usai kelas. Ada saja alasannya.

Sebagai mahasiswi yang memiliki banyak waktu luang akhirnya saya memutuskan mengikuti tiga macam organisasi sekaligus demi membunuh kebosanan. Saya mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa Rohis, Pers Kampus dan Himpunan Mahasiswa Jurusan. Semenjak itu teman-teman saya menjadi tidak pernah mengajak saya nongkrong usai kelas karena mereka tahu pasti saya menolak. Meski sibuk berkegiatan namun saya tidak pernah sekalipun tidak masuk kelas. Beruntung semua peraturan organisasi selalu mengutamakan perkuliahan sehingga seberapapun beratnya aktivitas organisasi saat itu jika kami ada jadwal kelas maka harus tetap masuk. Lambat laun menggeluti rutinitas di dunia organisasi, akhirnya di semester tiga saya mendapatkan rekomendasi untuk menjadi reporter di salah satu TV swasta cakupan siar Jawa Tengah. Setelah mengikuti berbagai tahapan perekrutan, saya diterima.

Menjadi reporter bukanlah hal yang mudah, saya harus berkeliling kota dalam melaksanakan tugas dari Pimpinan Redaksi. Belum lagi ketika harus dikirim ke luar kota beberapa hari. Apalagi jika ada masa-masa khusus seperti pemilu bahkan pilkada serentak, ujian nasional, bentrok warga terhadap aparat ketika penggusuran rumah dan lain sebagainya yang membutuhkan saya melakukan reportase secara langsung. Sungguh berlipat-lipat lelahnya. Saya pernah terlambat masuk kelas, saya seringkali susah diajak mengerjakan tugas kelompok, saya juga sangat susah diajak nongkrong. Belum lagi dihitung dengan perkuliahan saya yang dominan praktek di jurusan Penyiaran (broadcasting). Saya harus ujian membuat program acara televisi yang mengharuskan membuat set panggung asli dua bulan sekali. Itu berarti ada waktu-waktu tertentu yang membuat saya selesai liputan di TV, dilanjutkan membuat naskah, dubbing, taping maupun live menjadi presenter berita, produksi program feature karena sempat diamanahi menjadi produser segala. Jika semua kerjaan sudah beres maka barulah saya bisa ke studio kuliah untuk membantu teman-teman mengecat partisi, setting lampu, mengangkat barang-barang untuk properti, menghubungi nara sumber ataupun talent hingga membuat naskah. Ditambah setiap ujian kami belum tahu jobdesc apa yang kami dapat karena akan diundi sehari sebelumnya. Ada yang menjadi producer, program director, floor director, lightingman, switcherman, cameraman, script writer, artistic, unit manager, dan lain sebagainya. Tentu tiap jobdesc memiliki tantangannya masing-masing. Di tengah kepadatan kuliah sambil bekerja hamdalah saya berhasil menyelesaikan D3 tepat waktu saat itu dengan predikat cumlaude.

Usai lulus dari D3 Penyiaran saya langsung melanjutkan transfer ke S1 Ilmu Komunikasi yang sebenarnya bisa saya tempuh dalam waktu dua tahun saja. Namun ternyata takdir mengatakan bahwa saya pindah ke perusahaan televisi nasional berjaringan yang cakup siarnya juga Jawa Tengah dengan status presenter lepas di program acara religi. Saya juga sering diminta memandu acara sebagai MC atau moderator di seminar-seminar, pernah juga menjadi pemateri mengenai jurnalisme dan penyiaran. Di samping itu saya juga menerima pesanan pembuatan naskah atau mengisi voice over untuk production house. Hingga akhirnya saya berpikiran kenapa tidak saya membuat production house saya sendiri. Singkat cerita terciptalah DhyanaraVideo. Ya, takdir mengatakan bahwa saya tidak lulus transfer S1 tepat dua tahun.

Koneksi yang saya miliki sewaktu menjadi reporter dan presenter berita selama dua tahun cukup membantu dalam menjangkau klien. Terhitung masih usaha kecil-kecilan jadi tugas saya selalu merangkap. Sayalah owner, marketing juga, script writer juga, unit manager juga, director juga, kadang-kadang menjadi dubber jika karakter suara yang klien butuhkan seperti suara saya. Jika tidak, maka saya akan mencari seorang dubber dengan karakter suara sesuai permintaan klien. Untuk videographer dan editor saya selalu mencari orang untuk masuk ke dalam tim produksi. Sudah 16 bulan berdiri hamdalah selalu saja ada orderan masuk setiap bulannya. Waktu saya menjadi semakin terbagi-bagi. Tanggung jawab saya terhadap klien dan production house saya semakin besar. Belum lagi saya masih menerima job MC dan moderator. Tawaran-tawaran lainnya seperti menjadi penyiar radio, masuk ke dalam tim peliputan portal daring nasional ternama juga terpaksa saya tolak. Bukannya gimana-gimana, hanya saja saya merasa cukup dengan kegiatan-kegiatan yang saya lakoni sekarang. Alih-alih saya juga harus menyelesaikan skripsi.

Beberapa hari lalu teman-teman seperjuangan transfer dari D3 ke S1 saya sudah sidang skripsi dan dinyatakan lulus semua. Menyisakan saya dan satu lagi kawan yang baru saja diterima kerja di luar kota. Banyak orang-orang di luar sana yang memberikan tatapan iba disertai ucapan yang menyayangkan kenapa saya tidak bisa ikut wisuda kloter ini bersama-sama. Orang-orang akan lebih kasihan lagi ketika mereka bertanya saya semester berapa dan saya jawab sedang masuk semester sebelas. Ya kalau dihitung D3 kemarin enam semester ditambah transfer S1 minimal empat semester maka memang memang benar saya semester sebelas. Lalu apa yang salah?

Semakin banyak orang yang bertanya kapan saya lulus kuliah menjadikan saya semakin mual saja. Tidak lulus bersama teman-teman angkatan bisa jadi sebuah kondisi dimana orang itu sedang menerima konsekuensi dari tanggung jawab yang orang tersebut emban. Tidak adil rasanya jika orang-orang menganggap kami yang lulus kuliahnya tidak tepat waktu adalah mahasiswa malas bahkan tolol karena tidak pintar mengatur waktu. Setiap orang memiliki tingkatan tanggung jawabnya masing-masing dan setiap orang memiliki sudut pandang lain dalam memutuskan prioritas dari semua tanggung jawab yang diemban secara bersamaan. Saya tahu mereka sebenarnya perhatian tapi lama-kelamaan juga membuat saya kesal. Bayangkan saja saya memiliki teman kuliah, teman organisasi, teman main, tetangga, keluarga, dan kenalan-kenalan lainnya. Jika saja 5% dari total teman yang saya miliki itu yang sering menanyakan perihal kapan lulusnya saya, barangkali hingga saat ini sudah seratusan orang yang terlalu peduli dengan kondisi skripsi saya.

Saya faham akan ada orang-orang yang selalu menganggap bahwa yang penting lulus kuliah dulu baru mencari atau mencipta lapangan kerja. Tapi tidak semua orang harus menganut faham yang sama kan?



#katadhyanara

Komentar

  1. Nggak ada yang salah dengan nggak lulus tepat waktu karena pada akhirnya kita akan lulus di waktu yang tepat. Waktu yang baik itu kan waktunya Allah mba, so keep going on! :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba seeeep masyaallaah aku baru bacaaa hihi syukron mbaa udah ingetin kalo semua waktu yang kita punya adalah milik Allah. Iya mba, tugas kita cuma berjuang buat nyelesein semua hal yang udah kita mulai. Buat gimana hasilnya, ya suka-suka Allah ya:)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku …

Yang Tidak NET TV Katakan (1)

Beberapa waktu lalu saya memakai fitur Q&A pada Instagram Story untuk mengetahui apa saja yang ingin teman-teman saya tahu mengenai NET TV. Terlebih ketika isu NET TV banyak dibahas pada artikel daring. Pembahasan ini sungguh luas sehingga memungkinkan untuk tidak menjadi satu kali unggahan saja.
Pembahasan ini dinilai dari sudut pandang saya yang hanya sebagai presenter panggilan NET Biro Jawa Tengah tiga tahun terakhir, tentu saya sebenernya nggak tahu banyak tapi saya rasa ada hal-hal yang perlu disampaikan dengan netral juga bijak.
Ada banyak perusahaan televisi di Indonesia dan terserah mereka mau bikin karakter perusahaannya kayak gimana. Tapi ada hal terpenting yang mereka lupa: frekuensi adalah milik publik sehingga tidak seharusnya mereka menciptakan program acara seenaknya.
Sejak kuliah di jurusan pertelevisian 6 tahun lalu saya semakin tidak bisa menonton televisi dengan damai. Ada terlalu banyak pelanggaran penyiaran setiap detiknya. Hingga tidak lama kemudian muncul satu…