Langsung ke konten utama

Kamu Suka Aku Nggak?

Pada sebuah sore yang mau maghrib dia duduk di lobi hotel, aku baru saja menyelesaikan shooting program televisi menghampiri ia yang mau jauh-jauh datang ke lain kota.

Sudah empat tahun. Mematikan rasa agar setiap temu aku nampak biasa nyatanya juga sia-sia. Harapku selalu bertumbuh ketika kami kembali bertatap. Menumpuk sudah keinginan untuk bersamanya, tapi lagi-lagi buat apa? Jika nanti itu tidak pernah ada, maka buat apa?

Aku seorang perempuan penuh logika. Semua kejadian tidak akan kupercaya jika logis tidak mengiya. Harapanku atas perasaannya hingga kini belum juga nyata. Justru karena semua maya susah dilogika, akhirnya aku memutuskan mengonfirmasi hatinya.

"Mas..." matanya bergerak dari surat beasiswa S2 ke mataku seolah bertanya 'ada apa?'

Konsekuensinya jika ia memiliki rasa yang sama maka kami perlu melanjutkan bicara, namun jika tidak maka aku akan menyelesaikan semua pengharapanku terhadapnya. Seringkas itu. Toh, aku juga siap dengan dua kemungkinan tadi. Aku yakinkan diriku bahwa tidak pernah ada aku yang berubah setelahnya, namun aku jadi sangsi apakah nanti ia yang akan berubah?

"Pernah ditembak perempuan nggak?"

Aku benar-benar mengatur kata per kata yang keluar dari mulutku supaya dia tidak tertawa karena menganggapku bercanda, terlebih tersinggung jika ternyata hal yang dari dulu ia hindari untuk menjadi tema obrolan justru aku mulai. Ah, tipis sekali senyumnya. Jangan-jangan pertanyaan ini memang seharusnya tidak disampaikan. Biar saja aku penasaran seumur hidup.

Ia berdiri, aku berjalan mengikuti. Di perjalanan pulang akhirnya ia menyetir setelah aku berdalih belum mengurus SIM A.

"Buat pertanyaan yang tadi, menurutku.." Ia menggantungkan kalimatnya. Aku dibuat menebak jeda yang agak lama.

"Kayaknya nggak perlu ya nembak-nembak gitu kalau belum nyiapin semuanya.." Aku masih diam, menyimak pelan-pelan. Sepertinya jawabannya akan panjang, aku harus bersabar hingga ia memasuki kesimpulan sebenarnya tindakan paling baik apa yang harus aku lakukan terhadap perasaanku sendiri. Kepada hatinya.

"Tanggung jawab terhadap diri sendiri kan udah berat. Ada beberapa hal yang pasti kita mau capai untuk memantaskan diri dulu sebelum akhirnya kita ngomong ke perempuan.." Dia tersenyum. Matanya masih menghadap ke depan. Sesekali menengok ke spion kanan kiri dan berdeham kecil. Sepertinya ini bahasan yang ia sendiri cukup berat untuk menyampaikan pendapatnya.

"Kalau misalkan si perempuan itu pada akhirnya mengutarakan perasaan ke laki-lakinya, dan ternyata si laki-laki juga punya perasaan yang sama.." Lagi-lagi dia memberikan jeda agak lama. Aku penasaran.

"Bukan jaminan si laki-laki bakal menyambut baik-baik perasaan yang diutarakan sama si perempuan itu. Ada tipikal laki-laki yang saking sayangnya sama perempuan itu meski dalam diam, jadi dia nggak mau perempuan itu nungguin dia yang lagi dalam masa 'siap-siap'. Padahal mungkin udah ada laki-laki di luar sana yang udah siap semuanya dan cuma nunggu si perempuan itu jawab keputusannya." Masa 'siap-siap' katanya?

"Masa 'siap-siap' gimana sih mas?" Aku menyela sebentar.

"Hmm.. laki-laki itu ada yang menganut faham ketika dia mengutarakan perasaan maka ia sudah siap dengan dua kemungkinan, ditolak dan diterima. Kalo perempuannya menerima maka kedua perasaan yang tarik-menarik itu nggak boleh dibiarkan terlalu lama. Kalo si laki-lakinya udah siapin semuanya sebelum dia bilang ke perempuannya, bukannya lebih baik ya?" Mobil kami berhenti di lampu merah. Dia menoleh ke kiri, tersenyum kecil sembari menatap mataku sebentar. Aku yang dari tadi tanpa kedip memperhatikan mimik wajahnya jadi salah tingkah, otakku harus cepat-cepat berpikir untuk menimpali jawabannya.

"Tapi kan.. perempuan juga punya hak buat bilang apa perasaan dia mas. Juga masalah siap-siap itu kan nggak cuma laki-lakinya yang harus siap-siap.." Akhirnya kalimat itu yang keluar dari proses pemikiran singkat seperberapa detik di otakku. Ia lagi-lagi diam seperti mengatur kata-kata dalam otaknya. Mobil kami melaju lagi.

"Iya, betul. Siapa aja berhak menyampaikan perasaannya. Jadi bukannya lebih baik jika antara laki-laki dan perempuan yang diam-diam saling menyukai ini punya semacam anggapan tanpa kesepakatan untuk memikirkan dampak pengutaraan perasaan bukan dari diri sendiri aja, tapi dari pihak sananya juga?" Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kedua pihak itu bersabar untuk bisa menyelesaikan persiapannya masing-masing? Aku diam teramat lama, dia juga. Kami bertengkar dengan pikiran kami masing-masing. Hingga akhirnya mobil kami behenti di depan rumahku. Aku sudah sampai. Itu berarti kami akan berpisah.

Aku melepas sabuk pengaman, membuka pintu mobil dan meletakkan berkas-berkas S2 miliknya yang sedari tadi aku pangku ke atas  dashbord mobilnya. Lalu bagaimana aku tau dia juga menyukaiku atau tidak?

"Mas.." Aku ambil nafas tiga kali. Memantapkan diri. Dia sedikit menyerongkan badan ke arahku. Seperti menebak-nebak kenapa aku ini sebenarnya.

"Kalo aku suka sama mas, kira-kira harus bilangnya kapan ya?" Aku memang egois. Tidak kuat lagi menahan penasaran lama-lama. Tidak juga menjaga dampak perasaan yang ia rasa. Sebelas detik ia diam kemudian tertawa.

Aku lebih dulu mencintainya sebelum mengenal siapa ia sebenarnya. Membaca kerut di wajahnya, menafsirkan gugupnya ketika mengendalikan bahasa ambiguku seperti biasa, sampai-sampai mengerti kekosongan dalam tawanya. Benar-benar kosong.

Baik, aku menangkap maksudnya: dia belum siap.


#katadhyanara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelas Cinta

Tempo hari aku ikut Kelas Cintanya Lex de Praxis, sebenernya bukan karena kehidupan percintaanku kenapa-kenapa banget. Lebih sekadar penasaran materi yang membahas cinta itu kayak gimana modelnya. Rame banget yang dateng. 

Seperti seminar kebanyakan, materi yang disampaikan pasti ada yang bikin kita setuju mengiyakan atau bahkan tidak percaya sama sekali. Dari sekian banyak yang tidak kupercayai sama sekali, ada beberapa hal yang bikin otakku mikir untuk pertama kali.Kalimat-kalimat yang tadinya cuma aku baca di novel atau tahu dari film, saat itu aku bener-bener mencoba mengerti hingga mencerna dengan hati.
Pertama, adalah cinta itu hubungan dua arah. Kalo kita udah usaha buat mendapatkan perhatian tapi dia sang pujaan tidak kembali melakukan hal yang sama, maka berhentilah berharap. Aku rasa tadinya mengharapkan sesuatu yang miliki sedikit kemungkinan untuk terwujud memang membutuhkan waktu lebih lama. Seperti lebih lama berjuang, mungkin juga lebih lama berkorban. Tapi jika dipikir-p…

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara

Kamu Nggak Akan Pernah Ngerti

Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu tidak pergi, apa kamu akan tetap tinggal? Jika aku bilang merindukanmu, apa iya kamu akan langsung terbang? Kembali ke titik pertemuan?
Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu lebih sering menghubungiku, apa kamu punya waktu untuk itu? Jika aku bilang aku membutuhkan hadirmu, apa iya kamu percaya begitu saja? Kamu pasti hanya tertawa.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena berteman denganmu tidak terlihat beda dengan berteman pada lainnya. Sehingga membuatmu yakin bahwa aku tak main-main tentu mustahil. Membuatmu tahu peduliku selama ini saja aku tidak biarkan. Membuatmu tahu aku memendam rindu yang besar, apalagi. Sungguh pantangan.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena revolusi kita yang tidak berjarak dekat, sepertinya menjadi teman biasa adalah satu-satunya cara. Sehingga bisa membuat kita lebi…