Langsung ke konten utama

Kelas Cinta

Tempo hari aku ikut Kelas Cintanya Lex de Praxis, sebenernya bukan karena kehidupan percintaanku kenapa-kenapa banget. Lebih sekadar penasaran materi yang membahas cinta itu kayak gimana modelnya. Rame banget yang dateng. 

Seperti seminar kebanyakan, materi yang disampaikan pasti ada yang bikin kita setuju mengiyakan atau bahkan tidak percaya sama sekali. Dari sekian banyak yang tidak kupercayai sama sekali, ada beberapa hal yang bikin otakku mikir untuk pertama kali. Kalimat-kalimat yang tadinya cuma aku baca di novel atau tahu dari film, saat itu aku bener-bener mencoba mengerti hingga mencerna dengan hati.

Pertama, adalah cinta itu hubungan dua arah. Kalo kita udah usaha buat mendapatkan perhatian tapi dia sang pujaan tidak kembali melakukan hal yang sama, maka berhentilah berharap. Aku rasa tadinya mengharapkan sesuatu yang miliki sedikit kemungkinan untuk terwujud memang membutuhkan waktu lebih lama. Seperti lebih lama berjuang, mungkin juga lebih lama berkorban. Tapi jika dipikir-pikir iya juga, kita terlalu membuang waktu untuk sebuah ketidakpastian.

Kedua, mencintai itu tumbuh dengan sebuah pupuk. Ketika kita semakin sering memberikan sesuatu, mungkin materi, kasih sayang, waktu, pengorbanan, kepercayaan, dan lain sebagainyalah pupuk itu. Lalu aku berpikir lagi, iya juga. Selama ini aku terlalu takut menerima penolakan. Sehingga semuanya berbatas, yang tadinya mungkin menjadi mustahil. Yang tadinya mustahil menjadi semakin. Aku tidak pernah memulai memberi yang aku anggap itu lebih, karena aku takut jika nanti aku merasa sakit.


Ketiga, betapa sebenarnya jangan mencari cinta, rezeki, juga bahagia dalam pernikahan. Karena perceraian terjadi karena mereka tidak menemukan salah satu hingga ketiganya. Karena sejatinya lebih banyak kesedihan dalam sebuah ikatan hubungan. Maka carilah pasangan yang bisa memberi kenyamanan dalam segala juang. Carilah pasangan yang bisa komitmen untuk bekerja dan bersama, bukan sekadar kerja sama. Carilah pasangan yang bisa terus mendukung dengan segenap rasa yang ia punya.


Kembali aku memikirkan ini, mungkin pada dasarnya kita bisa memilih jodoh kita sendiri, kita bisa memilih kepada siapa kita mencintai, kita bisa memilih harus sebatas apa rasa yang dituang sampai menyerah nanti. Kita pada dasarnya bisa memilih.


Setelah selesai menulis artikel ini, aku terhentak pada sebuah asumsi. Aku ini sebenarnya belum menemukan seseorang yang bahkan dengan sengaja tidak aku cari. Bahkan sebenarnya aku tidak pernah tahu siapa semua objek pada setiap tulisanku. Namun siapapun kamu yang nanti aku jadikan tempat berlabuh, tolong baca ini baik-baik. Aku sudah mencintaimu bahkan dari sebelum aku menarik nafas pertamaku.



#katadhyanara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara

Kamu Nggak Akan Pernah Ngerti

Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu tidak pergi, apa kamu akan tetap tinggal? Jika aku bilang merindukanmu, apa iya kamu akan langsung terbang? Kembali ke titik pertemuan?
Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu lebih sering menghubungiku, apa kamu punya waktu untuk itu? Jika aku bilang aku membutuhkan hadirmu, apa iya kamu percaya begitu saja? Kamu pasti hanya tertawa.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena berteman denganmu tidak terlihat beda dengan berteman pada lainnya. Sehingga membuatmu yakin bahwa aku tak main-main tentu mustahil. Membuatmu tahu peduliku selama ini saja aku tidak biarkan. Membuatmu tahu aku memendam rindu yang besar, apalagi. Sungguh pantangan.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena revolusi kita yang tidak berjarak dekat, sepertinya menjadi teman biasa adalah satu-satunya cara. Sehingga bisa membuat kita lebi…