Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 3

"Bumiiii kok endingnya sedih siiih.." Aku adalah orang pertama yang selalu membaca karya-karyanya. Kecuali jika berhubungan dengan tulisan, kami tidak pernah membicarakan apapun mengenai perasaan. Sama sekali. Aku takut Bumi menjadi jauh dan paling buruk menghilang. Kalaupun perasaanku memang tidak bersambut ya setidaknya dia akan selalu ada di hidupku sebagai...teman.
.
"Ya biar orang-orang yang baca belajar, bahwa takdir yang telah ditetapkan tidak melulu menyenangkan." Bumi menggeser laptop di depanku untuk kemudian melanjutkan tulisan-tulisan lainnya.
"Gimana, bagus nggak?" Matanya menatap penuh harap.
.
Aku memang tahu bahwa semua tulisan romantisnya bukan tertuju untukku. Tapi apa salahnya berharap bahwa nanti akan ada namaku yang selalu ia ketik di laptop ungunya. Menurut agama, takdir ada yang bisa diubah dan ada yang paten, tidak bisa diubah sama sekali. Jadi di depan Bumi aku suka berpura-pura menganggap aku sendirilah objek tulisnya, dan Bumi seringkali tersenyum menahan tawa. Jika kebiasaanku ini bisa merubah takdir, maka aku tidak akan keberatan untuk terus-terusan merasa kegeeran.
.
Siang ini kami berdiskusi di teras rumahku. Angin menggoyangkan hiasan berbentuk sekumpulan bambu yang dilubangi sesuai ukuran nada itu, digantungkan dengan tali dan kemudian sisinya saling berbenturan. Suaranya menenangkan, tapi tidak lebih menenangkan dari keberadaan Bumi.
.
“Biasa aja tuh..” Bagian mana yang harus tak kusukai dari tulisanmu Bumi? Setiap kata bahkan secara hati-hati kamu pilihkan diksinya. Aku selalu menjatuhkan hatiku pada tulisan-tulisanmu, jauh sebelum aku membacanya.
.
Bumi faham yang kukatakan barusan adalah sebuah kebohongan, benar-benar hafal bagaimana cara membaca ekspresi wajahku. Tangannya menggamit segelas jus jeruk yang aku suguhkan dan langsung meneguknya.
.
Sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi, aku harus bisa mengomunikasikan rasaku sendiri. Nanti Bumi, nanti entah kapan aku benar-benar akan menyatakan yang aku rasakan kepadamu, hatimu. Yang tiada tempat buatku itu.
.
--bersambung--
.
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita#30hbc1703
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara

Tidak Lulus Tepat Waktu

Di dunia perkuliahan, sekarang ini sedang masanya libur kenaikan semester genap ke semester gasal. Itu berarti saya telah meninggalkan semester sepuluh dan akan menyambut semester sebelas. Memang dulu saya menghabiskan masa D3 dengan tepat waktu selama tiga tahun, kemudian melanjutkan transfer ke S1. Minimal masa tempuh transfer S1 dari D3 menurut peraturan dari Dikti ialah dua tahun. Jika dihitung secara berlanjut maka konversi mata kuliah yang belum saya ambil semasa D3 dulu memang bisa selesai dalam kurun waktu tepat dua tahun. Namun nyatanya saya masih harus melanjutkan ke semester sebelas. Benar, saya belum menyelesaikan skripsi saya.
Semasa semester satu dahulu saya begitu menganggap remeh teman-teman mahasiswa yang kuliah sembari bekerja. Bagaimana tidak, mereka seringkali terlambat masuk kelas sehingga saat pintu kelas dibuka mereka membuat mahasiswa lain juga dosen terganggu konsentrasinya. Mereka juga sering mengganggu saya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai tugas yang d…