Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 36

Teruntuk Venus, lanjutan draft email dari Bumi:
.
Dan setiap orang-orang memanggil namaku, aku mengingatmu...
.
Pagi-pagi begini kafe masih teramat sepi. Hanya ada dua pelanggan selain aku di sini. Yang pertama adalah bapak-bapak tua berkulit cokelat gelap yang sedang menyeduh kopinya sembari membaca koran di meja dekat jendela. Satunya lagi adalah laki-laki berkemeja rapi seumuranku sedang serius bicara melalui ponselnya. Wajahnya tampan dengan mata sipit layaknya orang Cina. Aku..seperti mengenalnya.
.
Ada banyak hal selama ini yang ingin aku ceritakan. Kelewat banyak, malah. Semua yang ingin aku sampaikan tertulis di sebuah jurnal berwarna cokelat, tujuannya agar aku tidak lupa. Aku menulis jurnal itu semenjak semester pertama ketika kuliah di Semarang. Kamu menjadi orang yang selalu ingin membaca tulisan-tulisan di jurnalku. Karena itulah senang sekali bisa mendiskusikan tulisan-tulisanku kepadamu, aku merasa ada gelombang yang sama frekuensinya keluar dari otak kita. Ada banyak sekali hal yang aku bahas, itu semua menjadi info baru untukmu. Dengar, laki-laki selalu senang menjadi seseorang yang dari merekalah keakuratan informasi tersampaikan. Juga masalah mengenai kepastian, jika seorang laki-laki belum juga memberikan kepastian maka sesungguhnya masih ada hal-hal yang menjadi pertimbangan. Contohnya seperti mengapa aku tidak pernah menyampaikan perasaanku padamu Ven, aku memiliki pertimbanganku sendiri. Yaa meski tidak bisa disamaratakan sih, toh prinsip hidup tiap orang pasti berbeda. Aku tidak bisa memaksamu memaklumi keputusanku. Beda sudut pandang menjadikan kita lebih kaya kan? Ya, berbeda bersama.
.
Kembali ke laki-laki tampan berkemeja yang sedang menelfon itu, sepertinya aku mengingat sesuatu. Laki-laki itu adalah Pluto, adik kelas Sekolah Dasar dua tingkat di bawah kita yang seringkali memberikanmu coklat tiap jam istirahat.
.
Pluto...
.
.
-bersambung-
.
#katadhyanara 
#10hbcgelisah 
#10hbcgelisah03
@30haribercerita
.
(Challenge  10 Hari Gelisah "Berbeda Bersama")
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelas Cinta

Tempo hari aku ikut Kelas Cintanya Lex de Praxis, sebenernya bukan karena kehidupan percintaanku kenapa-kenapa banget. Lebih sekadar penasaran materi yang membahas cinta itu kayak gimana modelnya. Rame banget yang dateng. 

Seperti seminar kebanyakan, materi yang disampaikan pasti ada yang bikin kita setuju mengiyakan atau bahkan tidak percaya sama sekali. Dari sekian banyak yang tidak kupercayai sama sekali, ada beberapa hal yang bikin otakku mikir untuk pertama kali.Kalimat-kalimat yang tadinya cuma aku baca di novel atau tahu dari film, saat itu aku bener-bener mencoba mengerti hingga mencerna dengan hati.
Pertama, adalah cinta itu hubungan dua arah. Kalo kita udah usaha buat mendapatkan perhatian tapi dia sang pujaan tidak kembali melakukan hal yang sama, maka berhentilah berharap. Aku rasa tadinya mengharapkan sesuatu yang miliki sedikit kemungkinan untuk terwujud memang membutuhkan waktu lebih lama. Seperti lebih lama berjuang, mungkin juga lebih lama berkorban. Tapi jika dipikir-p…

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara

Kamu Nggak Akan Pernah Ngerti

Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu tidak pergi, apa kamu akan tetap tinggal? Jika aku bilang merindukanmu, apa iya kamu akan langsung terbang? Kembali ke titik pertemuan?
Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu lebih sering menghubungiku, apa kamu punya waktu untuk itu? Jika aku bilang aku membutuhkan hadirmu, apa iya kamu percaya begitu saja? Kamu pasti hanya tertawa.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena berteman denganmu tidak terlihat beda dengan berteman pada lainnya. Sehingga membuatmu yakin bahwa aku tak main-main tentu mustahil. Membuatmu tahu peduliku selama ini saja aku tidak biarkan. Membuatmu tahu aku memendam rindu yang besar, apalagi. Sungguh pantangan.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena revolusi kita yang tidak berjarak dekat, sepertinya menjadi teman biasa adalah satu-satunya cara. Sehingga bisa membuat kita lebi…