Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 20

Kami berdua lari ke teras gedung markas UKM untuk berteduh. Hujan di luar semakin deras. Venus masih di sebelahku dengan bekas basah rintik hujan di kerudung, wajah dan bajunya. Pun aku. Namun ada satu bekas rintik air yang tersamarkan oleh air hujan di pipi kiriku. Kami menembus hujan di waktu yang tepat. Sangat tepat.
.
“Aku mengenal Bumi, Mer. Meskipun ia memiliki perasaan yang sama, jika ia belum bebas dari suatu tuntutan ataupun tanggung jawab apapun, ia akan tetap menjawab tidak.” Venus membuka pembicaraan kami dengan suara yang pelan. Banyak juga mahasiswa yang berteduh di dekat kami.
.
“Karena tidak mau membebani orang lain?” Aku mencondongkan kepalaku beberapa senti ke arah Venus. Venus mengangguk. “Itu egois.” Lanjutku.
.
“Egois kan mementingkan diri sendiri, yang dilakukan Bumi berbeda.” Venus masih saja membela Bumi. Oh please, Ven.
.
“Gini ya Ven, kalo dia nggak mikirin dirinya sendiri harusnya dia akan bilang iya kalau memang merasa iya. Berarti dia mikirin perasaan kamu juga. Tapi kalo emang jawabannya enggak ya dia harus tetep bilang enggak karena manipulasi rasa adalah tindakan yang nggak keren sama sekali.” Mataku masih menatap mata Venus dalam-dalam. “Intinya, karena kita nggak tahu yang sebenarnya, hormati jawaban Bumi, Ven.” Aku bicara panjang lebar, berusaha meyakinkan Venus. “Karena...”
.
“Karena setiap orang memiliki pertimbangan pemikiran paling baik menurut versi dirinya, kan?” Venus mengutip kalimat andalanku. Kami berdua tertawa.
.
Ekor mataku menangkap sesosok planet yang sedang kami bicarakan. Bumi melompat ke dalam teras gedung markas UKM. Venus juga menyadari kedatangan Bumi. Bumi menangkap mata kami.
.
.
--bersambung--
.
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita#30hbc1720
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelas Cinta

Tempo hari aku ikut Kelas Cintanya Lex de Praxis, sebenernya bukan karena kehidupan percintaanku kenapa-kenapa banget. Lebih sekadar penasaran materi yang membahas cinta itu kayak gimana modelnya. Rame banget yang dateng. 

Seperti seminar kebanyakan, materi yang disampaikan pasti ada yang bikin kita setuju mengiyakan atau bahkan tidak percaya sama sekali. Dari sekian banyak yang tidak kupercayai sama sekali, ada beberapa hal yang bikin otakku mikir untuk pertama kali.Kalimat-kalimat yang tadinya cuma aku baca di novel atau tahu dari film, saat itu aku bener-bener mencoba mengerti hingga mencerna dengan hati.
Pertama, adalah cinta itu hubungan dua arah. Kalo kita udah usaha buat mendapatkan perhatian tapi dia sang pujaan tidak kembali melakukan hal yang sama, maka berhentilah berharap. Aku rasa tadinya mengharapkan sesuatu yang miliki sedikit kemungkinan untuk terwujud memang membutuhkan waktu lebih lama. Seperti lebih lama berjuang, mungkin juga lebih lama berkorban. Tapi jika dipikir-p…

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara

Kamu Nggak Akan Pernah Ngerti

Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu tidak pergi, apa kamu akan tetap tinggal? Jika aku bilang merindukanmu, apa iya kamu akan langsung terbang? Kembali ke titik pertemuan?
Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu lebih sering menghubungiku, apa kamu punya waktu untuk itu? Jika aku bilang aku membutuhkan hadirmu, apa iya kamu percaya begitu saja? Kamu pasti hanya tertawa.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena berteman denganmu tidak terlihat beda dengan berteman pada lainnya. Sehingga membuatmu yakin bahwa aku tak main-main tentu mustahil. Membuatmu tahu peduliku selama ini saja aku tidak biarkan. Membuatmu tahu aku memendam rindu yang besar, apalagi. Sungguh pantangan.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena revolusi kita yang tidak berjarak dekat, sepertinya menjadi teman biasa adalah satu-satunya cara. Sehingga bisa membuat kita lebi…