Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 28

Aku menginjakkan kaki ke anak tangga pertama, berfikir bahwa bisa jadi apa yang selama ini dibayangkan belum tentu seperti itu adanya. Kita seringkali memikirkan peristiwa-peristiwa yang terlalu dihubung-hubungkan. Pelan-pelan aku menaiki tangga demi tangga. Rasanya yang dibilang Mars benar juga. Untuk saat ini aku, Mars, dan Bumi lebih baik berteman seperti dulu walaupun entah bagaimana skenario yang telah ditakdirkan nantinya. Mars juga bilang diantara kami bertiga tak boleh ada yang berubah. Hmm meskipun sedikit tapi pasti ada yang berubah. Bayangkan ketika dalam persahabatan kami sudah saling mengerti perasaan satu sama lain. Ya, kecuali Bumi yang ternyata memang tak pernah merasa apa-apa.
.
Sesampainya di lantai dua aku melihat Merkurius menghadap ke balkon dengan posisi membelakangiku. Tuh kan Merkurius tidak benar-benar melanjutkan naskah liputannya untuk besok. Perlahan aku semakin mendekati Merkurius yang sedang fokus pada ponselnya dan tanpa sengaja aku melihat ke arah ponsel Merkurius. Tunggu, jangan-jangan selama ini?
.
Merkurius memandangi web UKM Pers di bagian halaman Mawapres tiga bulan lalu yang ia tulis sendiri. Ada foto dan juga biodata sang Mawapres juga. Mars! Itu foto Mars! Bagaimana mungkin selama ini aku tak menyadarinya? Mengapa juga Merkurius mau repot-repot menjadi meteor penghubung bagi Mars terhadapku? Perempuan memang terkadang suka terlalu berkorban.
.
“Mer?” Merkurius kaget dan berusaha menyembunyikan ponselnya. Tak perlu kau sembunyikan Mer, aku sudah tahu. Aku mengusap-usap pundak Merkurius yang masih diam saja, kuat sekali atmosfernya menahan panas.
.
"Kak Ven! Kak Mer! Haai!" Kami berdua serempak menoleh ke belakang. Oh, itu Saturnus.
.
.
--bersambung--
.
#katadhyanara
.
📷: Bumi
.
@30haribercerita #30haribercerita#30hbc1728
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara

Tidak Lulus Tepat Waktu

Di dunia perkuliahan, sekarang ini sedang masanya libur kenaikan semester genap ke semester gasal. Itu berarti saya telah meninggalkan semester sepuluh dan akan menyambut semester sebelas. Memang dulu saya menghabiskan masa D3 dengan tepat waktu selama tiga tahun, kemudian melanjutkan transfer ke S1. Minimal masa tempuh transfer S1 dari D3 menurut peraturan dari Dikti ialah dua tahun. Jika dihitung secara berlanjut maka konversi mata kuliah yang belum saya ambil semasa D3 dulu memang bisa selesai dalam kurun waktu tepat dua tahun. Namun nyatanya saya masih harus melanjutkan ke semester sebelas. Benar, saya belum menyelesaikan skripsi saya.
Semasa semester satu dahulu saya begitu menganggap remeh teman-teman mahasiswa yang kuliah sembari bekerja. Bagaimana tidak, mereka seringkali terlambat masuk kelas sehingga saat pintu kelas dibuka mereka membuat mahasiswa lain juga dosen terganggu konsentrasinya. Mereka juga sering mengganggu saya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai tugas yang d…