Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 18

Ending yang sedih, fikirku.
.
“Ya biar orang-orang yang baca belajar, bahwa takdir yang telah ditetapkan tidak melulu menyenangkan. Iya kan Bumi?” Seakan mengerti apa yang aku fikirkan, Venus mengutip kalimatku lalu ia tertawa. Bukan, itu bukan tawa sungguhan. Lalu Venus kembali cerewet seperti biasanya. Menceritakan apa saja yang ingin ia ceritakan dan menanyakan apa saja yang ingin ia tanyakan sembari sesekali mengecek ponselnya. Benar-benar seperti biasanya.
.
Memoriku kembali berbalik ketika aku menemukan nama Venus di laptop Mars. Sepersekian detik aku teringat akan email panjang yang kemarin kuterima. Email tersebut dari Al Muntada Scholarship yang berpusat di London UK yang jajaran pengurusnya merupakan para pejuang Islam dari seluruh dunia untuk ummat. Setelah mengikuti seleksi panjang selama dua tahun dan selalu gagal, di tahun ke tiga ini aku dinyatakan lolos. Ya, aku dinyatakan lolos beasiswa Al Muntada Scholarship ke King Abdullah University of Science and Technology di Thuwal, Makkah, Arab Saudi.
.
Dalam setiap pembukaan seleksi hanya akan diambil 35 orang dari ASEAN untuk tiap negara tujuan. Di tahun pertama aku mendaftar hanya lolos hingga tahap pertama. Berbeda dengan Mars yang dinyatakan lolos ke tahap selanjutnya. Ya, Mars juga ikut. Tapi negara tujuan kami berbeda, ia ingin ke International Islamic University Malaysia. Namun karena mama Mars tidak meridhoi jika anak semata wayangnya kuliah di luar negri, jadilah Mars tidak melanjutkan seleksi selanjutnya. Sejak awal Venus tidak pernah mengerti mengenai ini. Mars juga belum tahu bahwa akhirnya aku lolos dan bulan depan aku berangkat.
.
Venus, kamu itu lebih dekat dari matahari ketimbang aku. Betapa kuatnya. Perasaan memiliki masa kadaluarsanya sendiri. Biarkan lama-kelamaan perasaan yang kita miliki ini perlahan mati. Kamu lebih dekat dari matahari ketimbang aku, tentu kamu lebih kuat juga dalam urusan meredam rasa bahkan mematikannya.
.
.
--bersambung--
.
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita#30hbc1718
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Yang Tidak NET TV Katakan (1)

Beberapa waktu lalu saya memakai fitur Q&A pada Instagram Story untuk mengetahui apa saja yang ingin teman-teman saya tahu mengenai NET TV. Terlebih ketika isu NET TV banyak dibahas pada artikel daring. Pembahasan ini sungguh luas sehingga memungkinkan untuk tidak menjadi satu kali unggahan saja.
Pembahasan ini dinilai dari sudut pandang saya yang hanya sebagai presenter panggilan NET Biro Jawa Tengah tiga tahun terakhir, tentu saya sebenernya nggak tahu banyak tapi saya rasa ada hal-hal yang perlu disampaikan dengan netral juga bijak.
Ada banyak perusahaan televisi di Indonesia dan terserah mereka mau bikin karakter perusahaannya kayak gimana. Tapi ada hal terpenting yang mereka lupa: frekuensi adalah milik publik sehingga tidak seharusnya mereka menciptakan program acara seenaknya.
Sejak kuliah di jurusan pertelevisian 6 tahun lalu saya semakin tidak bisa menonton televisi dengan damai. Ada terlalu banyak pelanggaran penyiaran setiap detiknya. Hingga tidak lama kemudian muncul satu…

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku …