Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 4

Kedua tanganku menggenggam cangkir red velvet hangat yang baru saja dihidangkan Bumi. Jemariku berusaha menyerap bekas sidik jarinya. Merasakan hangat tangannya meski harus melalui perantara. Di luar hujan lebat, masih pukul tiga sore tapi langit sudah begitu gelap. Sudah sejak siang tadi aku di rumah Bumi, beralasan minta diajarkan membuat proposal karya tulis ilmiah. Dia memang jagonya. Tugas mata kuliah Metodologi Penelitian yang tenggat waktu pengumpulannya dimajukan menjadi esok hari usai ujian ini adalah momentum brilian serta alasan tepat karena aku bisa kembali menemuinya karena belakangan merupakan minggu tenang sebelum Ujian Akhir Semester Genap. Ditambah hujan lebat ini, sempurna.
.
“Venus, tante bikinin roti bakar kesukaan kamu ya. Lumayan anget-anget ujan begini.” Kata tante Bintang, mama Bumi.
.
Saat Sekolah Dasar aku terhitung sering main ke rumah familiar ini. Entah kenapa rasanya benar-benar ‘rumah’. Mungkin karena Bumiku tinggal di sini. Lima tahun kami belajar di kelas yang sama. Aku murid pindahan dari Jogja. Dari lahir hingga kelas satu SD aku masih di Jogja, hingga Papa mendapatkan pindahan kerja dari kantornya ke Kota Semarang ini. Semua PR kita kerjakan bersama.
.
Aku pendam semuanya bahkan sedari aku berumur delapan tahun. Hari ini genap sudah seorang Bumi meninggali hatiku selama tiga belas tahun. Ya, tiga belas tahun dan aku merayakannya dalam rahasia. Teramat rahasia.
.
“Yes! Makasih tantee..” Tante Bintang meninggalkan ruang tamu.
.
Bumi masih saja sibuk mencoret-coret kerangka untuk proposal tugas karya tulis ilmiahku.
.
Andai kamu tahu orbit rasaku Bumi.
.
--bersambung--
.
#katadhyanara
.
.
@30haribercerita #30haribercerita#30hbc1704
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelas Cinta

Tempo hari aku ikut Kelas Cintanya Lex de Praxis, sebenernya bukan karena kehidupan percintaanku kenapa-kenapa banget. Lebih sekadar penasaran materi yang membahas cinta itu kayak gimana modelnya. Rame banget yang dateng. 

Seperti seminar kebanyakan, materi yang disampaikan pasti ada yang bikin kita setuju mengiyakan atau bahkan tidak percaya sama sekali. Dari sekian banyak yang tidak kupercayai sama sekali, ada beberapa hal yang bikin otakku mikir untuk pertama kali.Kalimat-kalimat yang tadinya cuma aku baca di novel atau tahu dari film, saat itu aku bener-bener mencoba mengerti hingga mencerna dengan hati.
Pertama, adalah cinta itu hubungan dua arah. Kalo kita udah usaha buat mendapatkan perhatian tapi dia sang pujaan tidak kembali melakukan hal yang sama, maka berhentilah berharap. Aku rasa tadinya mengharapkan sesuatu yang miliki sedikit kemungkinan untuk terwujud memang membutuhkan waktu lebih lama. Seperti lebih lama berjuang, mungkin juga lebih lama berkorban. Tapi jika dipikir-p…

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara

Kamu Nggak Akan Pernah Ngerti

Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu tidak pergi, apa kamu akan tetap tinggal? Jika aku bilang merindukanmu, apa iya kamu akan langsung terbang? Kembali ke titik pertemuan?
Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu lebih sering menghubungiku, apa kamu punya waktu untuk itu? Jika aku bilang aku membutuhkan hadirmu, apa iya kamu percaya begitu saja? Kamu pasti hanya tertawa.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena berteman denganmu tidak terlihat beda dengan berteman pada lainnya. Sehingga membuatmu yakin bahwa aku tak main-main tentu mustahil. Membuatmu tahu peduliku selama ini saja aku tidak biarkan. Membuatmu tahu aku memendam rindu yang besar, apalagi. Sungguh pantangan.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena revolusi kita yang tidak berjarak dekat, sepertinya menjadi teman biasa adalah satu-satunya cara. Sehingga bisa membuat kita lebi…