Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 45

"Boleh aku panggil kamu Binar aja nggak? Nggak usah pake kak gitu?" Aku menatap matanya, benar-benar ada binar di mata Plu. Kepalanya sedikit ia majukan ke arahku, meminta jawaban. Sedari awal mengajak berkenalan, anak ini tidak tersenyum sama sekali. Mendengar pertanyaannya aku tertawa.
.
"Umur kamu dua belas tahun? Memangnya kamu lebih tua dari aku?" Aku masih tertawa. Pluto masih tidak tersenyum, wajahnya terkesan serius. Aku melanjutkan pertanyaanku.
.
"Umur kamu berapa sih?"
.
"Delapan tahun." Aku berhenti tertawa. Frekuensi detak jantungku meningkat sedikit. Plu masih dengan wajah tanpa ekspresi, menatapku lekat-lekat. Pandangannya seperti masuk menembus syaraf mataku, menelisik masuk ke paru-paru sehingga nafasku berhenti seper berapa detik. Kenapa sih anak kecil ini? Seperti ada sesuatu sekecil planet Pluto dalam rengkuhan semesta yang mencuri degup jantungku. Aku mulai tertarik untuk berteman dengannya.
.
"Hmm kalau begitu panggil aku Venus aja, oke dek Pluto?" Aku memegang pundaknya.
.
"Hmm kalau begitu panggil aku Pluto saja, oke Ven?" Dia mengusap-usap kepalaku, memberikan aku coklat kemudian berlalu. Delapan langkah kemudian kakinya berhenti, Plu berbalik.
.
"Sampai bertemu besok Venus!" Plu melambaikan tangan, ada sedikit senyum di bibirnya.
.
Tanpa sadar aku juga ikut melambaikan tangan ke arahnya. Plu melanjutkan jalannya disusul dengan bunyi bel tanda jam istirahat telah habis. Aku memandangi coklat di tanganku.
.
****
.
Begitulah awal cerita bagaimana kita bertemu. Semenjak Bumi hilang ditelan bumi, Plu seringkali hadir dalam akhir pekanku. Dan darinya aku belajar untuk tidak menyia-nyiakan senyumanku. Kepada Bumi sekalipun.
.
-bersambung-
.
#RotasiBimaSakti
#katadhyanara
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan Populer