Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 39

Teruntuk Venus, lanjutan draft email dari Bumi:
.
​Bukannya sudah tidak menaruh hati, aku hanya sedang berhenti memperlihatkannya.
.
Bapak tua yang tadi sedang membaca koran barusan meninggalkan kafe berbau vintage dengan dominan berwarna coklat ini. Ia membuka pintu dan meninggalkan bunyi lonceng tanda pintu kafe dibuka. Di sini tinggal kami berdua. Aku dan seseorang yang aku yakini adalah Pluto, bisa jadi juga bukan.
.
Aroma red velvet tiba-tiba tercium begitu kuatnya. Tidak, ini bukan aroma secangkir red velvetku yang sepertinya sudah tak lagi panas. Ini aroma secangkir red velvet yang baru saja dibuat dengan tingkatan air panas yang begitu pas, seperti pesananku tadi saat dihidangkan seorang waiter berjenggot panjang dan sedikit botak pada rambut bagian depan. Benar, aku melihat waiter yang sama lagi keluar dari dapur membawa nampan dengan satu tangan. Tapi akan diberikan kepada siapa? Hanya ada dua pengunjung di sini, dan aku sudah mendapatkan pesananku.
.
Sang waiter menghidangkan secangkir red velvet panas itu kepada laki-laki yang begitu mirip dengan Pluto, ia duduk di dua meja belakangku. Kami saling membelakangi, namun aku bisa melihat parasnya dengan jelas melalui pantulan jendela di sebelahku. Benarkah dia memesan red velvet itu karena juga tahu apa minuman kesukaanmu Ven?
.
Tidak adil jika dia juga mengerti apa minuman favoritmu, adik kelas mana lagi yang berani menyukai kakak kelas jika kakak kelas tidak terlalu baik lebih dulu? Bahkan ia tidak pernah muncul dalam kehidupan kita lagi semenjak kita lulus dan pindah sekolah. Ini benar-benar mengganggu pikiranku Ven, lebih baik aku dihukum saja. Tidak datang ke kafe ini dan membiarkan kepenatanku membuncah mungkin akan lebih baik daripada aku mengerti bahwa seseorang yang jangan-jangan adalah Pluto juga memesan red velvet.
​.
.
-bersambung-
.
#katadhyanara 
#10hbcgelisah 
#10hbcgelisah06
@30haribercerita
.
(Challenge 10 Hari Gelisah "Timbangan Miring - Tidak adil jika.....terlalu baik. Ia tidak pernah.....dihukum saja.")
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelas Cinta

Tempo hari aku ikut Kelas Cintanya Lex de Praxis, sebenernya bukan karena kehidupan percintaanku kenapa-kenapa banget. Lebih sekadar penasaran materi yang membahas cinta itu kayak gimana modelnya. Rame banget yang dateng. 

Seperti seminar kebanyakan, materi yang disampaikan pasti ada yang bikin kita setuju mengiyakan atau bahkan tidak percaya sama sekali. Dari sekian banyak yang tidak kupercayai sama sekali, ada beberapa hal yang bikin otakku mikir untuk pertama kali.Kalimat-kalimat yang tadinya cuma aku baca di novel atau tahu dari film, saat itu aku bener-bener mencoba mengerti hingga mencerna dengan hati.
Pertama, adalah cinta itu hubungan dua arah. Kalo kita udah usaha buat mendapatkan perhatian tapi dia sang pujaan tidak kembali melakukan hal yang sama, maka berhentilah berharap. Aku rasa tadinya mengharapkan sesuatu yang miliki sedikit kemungkinan untuk terwujud memang membutuhkan waktu lebih lama. Seperti lebih lama berjuang, mungkin juga lebih lama berkorban. Tapi jika dipikir-p…

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara

Kamu Nggak Akan Pernah Ngerti

Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu tidak pergi, apa kamu akan tetap tinggal? Jika aku bilang merindukanmu, apa iya kamu akan langsung terbang? Kembali ke titik pertemuan?
Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu lebih sering menghubungiku, apa kamu punya waktu untuk itu? Jika aku bilang aku membutuhkan hadirmu, apa iya kamu percaya begitu saja? Kamu pasti hanya tertawa.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena berteman denganmu tidak terlihat beda dengan berteman pada lainnya. Sehingga membuatmu yakin bahwa aku tak main-main tentu mustahil. Membuatmu tahu peduliku selama ini saja aku tidak biarkan. Membuatmu tahu aku memendam rindu yang besar, apalagi. Sungguh pantangan.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena revolusi kita yang tidak berjarak dekat, sepertinya menjadi teman biasa adalah satu-satunya cara. Sehingga bisa membuat kita lebi…