Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 7

“Bumiku berubah, Mars...” ujar Venus kepadaku usai ujian Metodologi Penelitian.
.
‘Kamulah yang berubah, Venus..’ jawabku dalam hati.
.
Aku Mars, teman sepermainan Venus dan Bumi. Kami semua tinggal bertetangga, aku selalu bermain dengan Bumi setiap sore pulang sekolah, hingga akhirnya Venus pindah ke Semarang dan kita menghabiskan waktu dengan selalu bertiga dari SD. Dulu. Sekarang, semenjak duduk di bangku kuliah Venus dan Bumi semakin dekat. Dari semester satu aku selalu satu kelas dengan Venus, beruntung aku mengambil program studi yang sama dengannya. Sedangkan Bumi memang sudah terlalu suka dengan bidang Manajemen Informatika.
.
Setelah sebelumnya kita bertiga selalu satu sekolah, saat SMA Bumi memilih masuk sekolah kejuruan sedangkan aku dan Venus bersekolah di SMA favorit nomor wahid di Semarang. Aturan, harusnya aku yang lebih dekat dengan Venus. Tapi kenapa harus Bumi?
.
“Loh kok bisa Ven? Sejak kapan? Sini cerita..” Harusnya ekspresi bahagia yang ada di wajahku sekarang tapi nyatanya aku lebih memilih memasang muka terkejut dan sedikit iba yang dibuat-buat.
.
“Hmm.. nanti aja deh ceritanya yang itu, aku mau cerita yang lain dulu. Jadi kemarin aku minta diajarin Bumi tugas metodologi penelitian loh.” Dari lesu tiba-tiba Venus menjadi bersemangat menceritakan tentang Bumi.
.
“Daaan waktu dia tanya-tanyain aku aku sengaja bilang nggak tau biar dia jelasin panjang lebar ke aku.. Terus habis itu..” Venus terus bercerita. Terus melanjutkan ceritanya. Fokusku semakin hilang, tidak tertarik dengan cerita tentang Bumi. Sama sekali tak tertarik.
.
Tuhan benar-benar menciptakanmu dengan tingkat kerumitan yang tinggi, Venus. Sama rumitnya dengan pesan-pesan tersirat dari bintang-bintang jatuh yang aku kirim ribuan kali dan kamu belum juga bisa membacanya. Semua karena Bumimu, Venus.
.
Karena selalu ada Bumi, di antara Venus dan Mars.
.
.
--bersambung--
.
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita#30hbc1707
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku …

Yang Tidak NET TV Katakan (1)

Beberapa waktu lalu saya memakai fitur Q&A pada Instagram Story untuk mengetahui apa saja yang ingin teman-teman saya tahu mengenai NET TV. Terlebih ketika isu NET TV banyak dibahas pada artikel daring. Pembahasan ini sungguh luas sehingga memungkinkan untuk tidak menjadi satu kali unggahan saja.
Pembahasan ini dinilai dari sudut pandang saya yang hanya sebagai presenter panggilan NET Biro Jawa Tengah tiga tahun terakhir, tentu saya sebenernya nggak tahu banyak tapi saya rasa ada hal-hal yang perlu disampaikan dengan netral juga bijak.
Ada banyak perusahaan televisi di Indonesia dan terserah mereka mau bikin karakter perusahaannya kayak gimana. Tapi ada hal terpenting yang mereka lupa: frekuensi adalah milik publik sehingga tidak seharusnya mereka menciptakan program acara seenaknya.
Sejak kuliah di jurusan pertelevisian 6 tahun lalu saya semakin tidak bisa menonton televisi dengan damai. Ada terlalu banyak pelanggaran penyiaran setiap detiknya. Hingga tidak lama kemudian muncul satu…