Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 11

Venus tampak lemas karena aku tak menjawab pertanyaannya sama sekali, hanya membalas tatapannya. Aku tahu itu berat bagi Venus.
.
Sikap Bumi yang berubah terhadap Venus belakangan ini sudah membuat Venus kepikiran, ditambah lagi tadi siang ia baru saja ngobrol dengan Mars dan ternyata Mars memiliki perasaan yang Venus tidak ingin rasakan bersamanya. Venus masih berdiam.
.
"Mars orang yang baik." Aku mencoba mencairkan suasana, dengan sangat perlahan. Berharap Venus semakin menenangkan atmosfernya. Ia masih saja enggan berkata.
.
"Kamu tahu siapa yang selalu mengumandangkan adzan dzuhur di masjid kampus?" Tak ada jawaban, baiklah.
.
"Kalau kamu merasa bahwa Mars adalah sorang mahasiswa langganan dapat beasiswa biasa yang hanya menekuni modern dancer, kamu salah. Hei, tiap orang memiliki hobinya masing-masing dan berhak untuk menyalurkan kesukaannya. Apa kamu berpikir seorang modern dancer beriman dangkal? Ven, tak semua yang tampak di depan mata adalah kebenaran. Kamu juga tak pernah berfikiran kenapa setiap senin malam ketika kita ajak dia jalan-jalan dia tak pernah bisa datang, kan? Itu karena dia rutin hadir pada kajian mingguan."
.
Aku mengusap pundaknya. Venus semakin mengernyitkan dahinya. Seolah bertanya 'apa iya?'
.
"Tiap muslim berprofesi sebagai pendakwah. Kalau semua muslim yang berilmu lebih berada di zona aman beribadah, siapa yang menyampaikan syiar di tempat-tempat lain?" Kita berdua terdiam lama.
.
"Dan tidak semua perasaan harus diutarakan." Venus angkat suara setelah menarik nafas dalam-dalam.
.
.
--bersambung--
.
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita#30hbc1711 #30hbcprofesi
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Yang Tidak NET TV Katakan (1)

Beberapa waktu lalu saya memakai fitur Q&A pada Instagram Story untuk mengetahui apa saja yang ingin teman-teman saya tahu mengenai NET TV. Terlebih ketika isu NET TV banyak dibahas pada artikel daring. Pembahasan ini sungguh luas sehingga memungkinkan untuk tidak menjadi satu kali unggahan saja.
Pembahasan ini dinilai dari sudut pandang saya yang hanya sebagai presenter panggilan NET Biro Jawa Tengah tiga tahun terakhir, tentu saya sebenernya nggak tahu banyak tapi saya rasa ada hal-hal yang perlu disampaikan dengan netral juga bijak.
Ada banyak perusahaan televisi di Indonesia dan terserah mereka mau bikin karakter perusahaannya kayak gimana. Tapi ada hal terpenting yang mereka lupa: frekuensi adalah milik publik sehingga tidak seharusnya mereka menciptakan program acara seenaknya.
Sejak kuliah di jurusan pertelevisian 6 tahun lalu saya semakin tidak bisa menonton televisi dengan damai. Ada terlalu banyak pelanggaran penyiaran setiap detiknya. Hingga tidak lama kemudian muncul satu…

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku …