Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 38

Teruntuk Venus, lanjutan draft email dari Bumi:
.
Karena kamu adalah planet favoritku, aku menyukaimu sebesar rasa yang tak cukup masuk ke rongga dadaku.
.
Aku melihat ke luar jendela kafe, matahari semakin menyengat. Memesan minuman dingin pasti begitu nikmat, namun aku tetap memilih minuman hangat kesukaanmu. Selama aku mengetik email ini, sesekali aku menatap cangkir putih yang sengaja aku letakkan di meja depanku, posisinya sejajar dengan kursi di hadapanku. Andai kamu berada di sini Ven.
.
Minggu depan adalah waktu terakhir bagi mahasiswa angkatanku untuk mendaftar wisuda. Tenang, masih minggu depan, karena itulah aku terbang ke Madinah untuk mencari ketenangan di tengah hiruk pikuk pengejaran target tugas akhir di Makkah. Dua hari lagi aku akan kembali ke kota Thuwal Makkah dan sesegera mungkin menyelesaikan urusan-urusan administratif sebelum diwisuda dari universitas berbasis riset skala internasional. Sebagai universitas dengan dana abadi terbesar kedua di dunia setelah Harvard, keputusanku mengambil jurusan بَرنامجُ الحاسِب (Computer Programming) di King Abdullah University of Science and Technology (KAUST) adalah pilihan tepat Ven. Jika kamu berada di sini, nanti aku bisa tunjukkan betapa megahnya bangunan kampusku di tepi Laut Merah. Kamu pasti memintaku mengambil gambarmu di banyak tempat, sampai-sampai memori kameraku habis seperti biasanya. Aku merindukan masa-masa itu.
.
Beberapa hari lalu Al Muntada Scholarship yang sudah mendengar kabarku hendak lulus, menawariku melanjutkan ke jenjang perkuliahan S2 di universitas yang sama. Aku gelisah bukan main Ven, harus sampai mana kita menuntut ilmu? Buat apa sekolah jika hanya otak kita saja yang menyerap ilmunya? Hatiku juga membutuhkan sekolah Ven. Mempelajari kembali perasaanmu jengkal demi jengkal.
.
Bukannya sudah tidak menaruh hati, aku hanya sedang berhenti memperlihatkannya.
.
.
-bersambung-
.
#katadhyanara 
#10hbcgelisah 
#10hbcgelisah05
@30haribercerita
.
(Challenge 10 Hari Gelisah "Buat Apa Sekolah?")
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelas Cinta

Tempo hari aku ikut Kelas Cintanya Lex de Praxis, sebenernya bukan karena kehidupan percintaanku kenapa-kenapa banget. Lebih sekadar penasaran materi yang membahas cinta itu kayak gimana modelnya. Rame banget yang dateng. 

Seperti seminar kebanyakan, materi yang disampaikan pasti ada yang bikin kita setuju mengiyakan atau bahkan tidak percaya sama sekali. Dari sekian banyak yang tidak kupercayai sama sekali, ada beberapa hal yang bikin otakku mikir untuk pertama kali.Kalimat-kalimat yang tadinya cuma aku baca di novel atau tahu dari film, saat itu aku bener-bener mencoba mengerti hingga mencerna dengan hati.
Pertama, adalah cinta itu hubungan dua arah. Kalo kita udah usaha buat mendapatkan perhatian tapi dia sang pujaan tidak kembali melakukan hal yang sama, maka berhentilah berharap. Aku rasa tadinya mengharapkan sesuatu yang miliki sedikit kemungkinan untuk terwujud memang membutuhkan waktu lebih lama. Seperti lebih lama berjuang, mungkin juga lebih lama berkorban. Tapi jika dipikir-p…

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara

Kamu Nggak Akan Pernah Ngerti

Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu tidak pergi, apa kamu akan tetap tinggal? Jika aku bilang merindukanmu, apa iya kamu akan langsung terbang? Kembali ke titik pertemuan?
Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu lebih sering menghubungiku, apa kamu punya waktu untuk itu? Jika aku bilang aku membutuhkan hadirmu, apa iya kamu percaya begitu saja? Kamu pasti hanya tertawa.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena berteman denganmu tidak terlihat beda dengan berteman pada lainnya. Sehingga membuatmu yakin bahwa aku tak main-main tentu mustahil. Membuatmu tahu peduliku selama ini saja aku tidak biarkan. Membuatmu tahu aku memendam rindu yang besar, apalagi. Sungguh pantangan.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena revolusi kita yang tidak berjarak dekat, sepertinya menjadi teman biasa adalah satu-satunya cara. Sehingga bisa membuat kita lebi…