Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 32

Kami bertiga sudah memasuki lobby bandara Ahmad Yani Semarang dan disambut begitu ramah oleh pak satpam yang sedang bertugas. Senyumnya begitu tulus.
.
"Selamat sore mbak, mas, semoga perjalanannya lancar dan menyenangkan ya" Meskipun hanya Bumi yang pergi, perkataan bapak satpam cukup membahagiakan bagi kami yang mengantar.
.
"Sore jugaa bapak Guntur, sehat ya pak? Anak istri sehat juga kan pak?" Mars menyahut dengan kalimat yang tak kalah ramah sambil menggamit koper Bumi. Aku hanya menganggukkan kepala tanpa tersenyum sama sekali, masih terpikirkan oleh tragedi di jalan tadi. Moodku untuk tersenyum sedang tidak baik. Bumi dan Mars menyadari anggukan tanpa senyumku tadi.
.
"Selamat sore juga bapak Guntur, semoga pekerjaan hari ini lancar ya pak" Bumi menyalami bapak satpam tersebut sembari meneruskan langkah bersama kami. Aku dan Mars jalan di depan Bumi. Weits tunggu, kenapa Mars dan Bumi terlihat kenal baik dengan bapak satpam tadi?
.
"Bapak satpam tadi asik ya, ramah gitu." aku membuka pembicaraan.
.
"Lebih asik lagi kalo kita yang disapa juga mengimbangi keramahan bapak satpam tadi Ven, nggak cuma ngangguk doang, eh nggak pake senyum lagi karena alasan lagi bad mood hahaha" Huh benar juga yang dibilang Mars. Harusnya bad mood bukan alasan untuk kita berlaku seenaknya kepada orang lain.
.
"Iya iya, eh tapi kalian kenal bapak satpam tadi ya?" Aku penasaran.
.
"Ya kan ada name tagnya kalii Veeen.." Bumi tersenyum saja membiarkan Mars yang menjawab. "Meskipun kita nggak kenal ya, beliau pasti seneng juga kalo ada yang manggil namanya." Lagi-lagi Mars benar. "Kita kadang lupain hal remeh yang justru bisa bikin orang bahagia, ya nggak Bum?" Mars menyenggol lengan Bumi yang tidak membantu Mars menjawab pertanyaan Venus.
.
"Yaah harusnya tadi aku sapa juga yaa.." Aku menyesal karena menyia-nyiakan keramahan bapak satpam.
.
"Kedepannya aja Ven, udah lewat ini." Lagi-lagi Bumi tersenyum. Kami bertiga memutuskan masuk ke Dunkin Donut untuk menunggu boarding.
.
#katadhyanara
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelas Cinta

Tempo hari aku ikut Kelas Cintanya Lex de Praxis, sebenernya bukan karena kehidupan percintaanku kenapa-kenapa banget. Lebih sekadar penasaran materi yang membahas cinta itu kayak gimana modelnya. Rame banget yang dateng. 

Seperti seminar kebanyakan, materi yang disampaikan pasti ada yang bikin kita setuju mengiyakan atau bahkan tidak percaya sama sekali. Dari sekian banyak yang tidak kupercayai sama sekali, ada beberapa hal yang bikin otakku mikir untuk pertama kali.Kalimat-kalimat yang tadinya cuma aku baca di novel atau tahu dari film, saat itu aku bener-bener mencoba mengerti hingga mencerna dengan hati.
Pertama, adalah cinta itu hubungan dua arah. Kalo kita udah usaha buat mendapatkan perhatian tapi dia sang pujaan tidak kembali melakukan hal yang sama, maka berhentilah berharap. Aku rasa tadinya mengharapkan sesuatu yang miliki sedikit kemungkinan untuk terwujud memang membutuhkan waktu lebih lama. Seperti lebih lama berjuang, mungkin juga lebih lama berkorban. Tapi jika dipikir-p…

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara

Kamu Nggak Akan Pernah Ngerti

Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu tidak pergi, apa kamu akan tetap tinggal? Jika aku bilang merindukanmu, apa iya kamu akan langsung terbang? Kembali ke titik pertemuan?
Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu lebih sering menghubungiku, apa kamu punya waktu untuk itu? Jika aku bilang aku membutuhkan hadirmu, apa iya kamu percaya begitu saja? Kamu pasti hanya tertawa.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena berteman denganmu tidak terlihat beda dengan berteman pada lainnya. Sehingga membuatmu yakin bahwa aku tak main-main tentu mustahil. Membuatmu tahu peduliku selama ini saja aku tidak biarkan. Membuatmu tahu aku memendam rindu yang besar, apalagi. Sungguh pantangan.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena revolusi kita yang tidak berjarak dekat, sepertinya menjadi teman biasa adalah satu-satunya cara. Sehingga bisa membuat kita lebi…