Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 13

Sikapku berubah. Benar-benar berubah. Semenjak membantu Venus mengerjakan tugas Metodologi Penelitiannya di rumahku. Hujan masih deras ketika Venus teringat bahwa ia harus membuat laporan akhir tahun untuk rapat usai ujian besok. Sore itu, kami menyelesaikan tugas secepat mungkin dan menjemput Mars. Kami sama-sama tahu kondisi kampus ketika hari terakhir di minggu tenang masih sepi dan tak mungkin kami hanya berdua di dalam satu ruangan.
.
Kami bertiga sudah berada di markas pers kampus untuk menemani Venus yang harus lembur sendirian mempersiapkan data-data rangkuman peliputan rutin akhir tahunnya. Ia harus memimpin rapat esok hari yang ia sendiri masih belum menentukan pukul berapa karena harus berkoordinasi dengan anggota yang lainnya. Aku sempat memintanya menemaniku ke perpustakaan besok jam dua siang. Tetapi jika memang terbentur waktu rapat aku tidak akan merasa keberatan.
.
Semenjak dengan mata kepalaku sendiri aku menyaksikan pandangan Mars ke Venus tak lagi seperti biasanya. Meskipun tak sering, sesekali aku menangkap basah ketika aku yang sedang mengerjakan tugas mata kuliah Perancangan Sistem Informasi di laptop unguku, melirik Mars di sebelahku yang sedang mengetik sesuatu di laptop birunya. Ia mengetik sesuatu yang mulanya aku tak tahu apa sambil sesekali tersenyum melihat Venus yang sedang kebingungan dengan arsip peliputan yang begitu banyaknya.
.
Aku penasaran, mataku melirik ke layarnya. Mungkin ia mengira bahwa pikiranku sedang terfokus penuh pada tugas kuliah hingga tak sedikitpun ia berusaha menjauhkan laptopnya dari jangkauan mataku. Aku melihat nama Venus di dalamnya.
.
Semenjak itu aku tersadar, bahwa selama ini ada aku di antara Mars dan Venus. Bahwa ada Bumi di antara Mars dan Venus.
.
.
--bersambung--
.
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita#30hbc1713
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Lulus Tepat Waktu

Di dunia perkuliahan, sekarang ini sedang masanya libur kenaikan semester genap ke semester gasal. Itu berarti saya telah meninggalkan semester sepuluh dan akan menyambut semester sebelas. Memang dulu saya menghabiskan masa D3 dengan tepat waktu selama tiga tahun, kemudian melanjutkan transfer ke S1. Minimal masa tempuh transfer S1 dari D3 menurut peraturan dari Dikti ialah dua tahun. Jika dihitung secara berlanjut maka konversi mata kuliah yang belum saya ambil semasa D3 dulu memang bisa selesai dalam kurun waktu tepat dua tahun. Namun nyatanya saya masih harus melanjutkan ke semester sebelas. Benar, saya belum menyelesaikan skripsi saya.
Semasa semester satu dahulu saya begitu menganggap remeh teman-teman mahasiswa yang kuliah sembari bekerja. Bagaimana tidak, mereka seringkali terlambat masuk kelas sehingga saat pintu kelas dibuka mereka membuat mahasiswa lain juga dosen terganggu konsentrasinya. Mereka juga sering mengganggu saya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai tugas yang d…

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.