Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 35

Teruntuk Venus, lanjutan draft email dari Bumi:
.
Toh aku jadi gelisah, apakah memang harus aku sampaikan atau tidak.
.
Di sini, ketika aku menulis email panjang ini di laptop ungu yang kulapisi garskin warna biru, jam tangan digital yang menggelangi tangan kiriku menunjukkan pukul 8.15 pagi, di Semarang mungkin sekitar pukul 12 siang. Apa yang sedang kamu lakukan Ven? Kamu sudah makan siang? Mengingatmu susah sekali diajak makan, apakah kamu sehat-sehat saja?
.
Seusai wisuda S2 kemarin aktivitas apa saja yang kamu lakukan sekarang? Atau bagaimana rasanya merampungkan kuliah S2? Tiga kali merasakan bulan Ramadan di sini aku baru menyelesaikan pendidikan S1 ku, beruntung aku bisa mengurus data-data pindahan. Kau tahu Ven, sekarang aku duduk di kursi kayu, mencondongkan badanku ke arah meja kayu berarsitektur vintage. Di sebelah kiri laptopku berserakan kertas-kertas, di atasnya terdapat pulpen pemberianmu dari bahan alumunium berwarna biru, yang juga bertinta biru. Dengan corak garis keemasan di dekat mata pulpen. Tiba-tiba aku merindumu. Terukir nama di badan pulpen Syaif Al-Ardh, dalam bahasa Indonesia nama lengkapku bermakna Pedangnya Bumi. Kamu tahu sejak kapan aku menyukaimu Ven? Sejak kita kelas dua Madrasah Ibtidaiyah (SD), sejak pelajaran Bahasa Arab. Sejak kamu meminta untuk memanggilku dengan nama Bumi. Semenjak itu semua orang dan mamaku sendiri memanggilku dengan Bumi. Ardy, nama kecilku sudah pensiun dini.
.
Kamu tahu apa yang membuatku selalu menjatuhkan kagum terhadapmu Ven? Kamu selalu berani bersuara berani. Sedari kecil kamu selalu berani menyuarakan sesuatu, berani menyampaikan hal yang menurutmu sesuai. Termasuk berani mengganti namaku dengan planet indah itu, aku menyukainya. Dan setiap orang-orang memanggil namaku, aku mengingatmu.
.
.
-bersambung-
.
#katadhyanara 
#10hbcgelisah 
#10hbcgelisah02
@30haribercerita
.
(Challenge 10 Hari Gelisah "Berani Bersuara Berani")
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Tidak Lulus Tepat Waktu

Di dunia perkuliahan, sekarang ini sedang masanya libur kenaikan semester genap ke semester gasal. Itu berarti saya telah meninggalkan semester sepuluh dan akan menyambut semester sebelas. Memang dulu saya menghabiskan masa D3 dengan tepat waktu selama tiga tahun, kemudian melanjutkan transfer ke S1. Minimal masa tempuh transfer S1 dari D3 menurut peraturan dari Dikti ialah dua tahun. Jika dihitung secara berlanjut maka konversi mata kuliah yang belum saya ambil semasa D3 dulu memang bisa selesai dalam kurun waktu tepat dua tahun. Namun nyatanya saya masih harus melanjutkan ke semester sebelas. Benar, saya belum menyelesaikan skripsi saya.
Semasa semester satu dahulu saya begitu menganggap remeh teman-teman mahasiswa yang kuliah sembari bekerja. Bagaimana tidak, mereka seringkali terlambat masuk kelas sehingga saat pintu kelas dibuka mereka membuat mahasiswa lain juga dosen terganggu konsentrasinya. Mereka juga sering mengganggu saya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai tugas yang d…

Kamu Suka Aku Nggak?

Pada sebuah sore yang mau maghrib dia duduk di lobi hotel, aku baru saja menyelesaikan shooting program televisi menghampiri ia yang mau jauh-jauh datang ke lain kota.

Sudah empat tahun. Mematikan rasa agar setiap temu aku nampak biasa nyatanya juga sia-sia. Harapku selalu bertumbuh ketika kami kembali bertatap. Menumpuk sudah keinginan untuk bersamanya, tapi lagi-lagi buat apa? Jika nanti itu tidak pernah ada, maka buat apa?

Aku seorang perempuan penuh logika. Semua kejadian tidak akan kupercaya jika logis tidak mengiya. Harapanku atas perasaannya hingga kini belum juga nyata. Justru karena semua maya susah dilogika, akhirnya aku memutuskan mengonfirmasi hatinya.

"Mas..." matanya bergerak dari surat beasiswa S2 ke mataku seolah bertanya 'ada apa?'

Konsekuensinya jika ia memiliki rasa yang sama maka kami perlu melanjutkan bicara, namun jika tidak maka aku akan menyelesaikan semua pengharapanku terhadapnya. Seringkas itu. Toh, aku juga siap dengan dua kemungkinan tadi…