Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 41

Tiba-tiba lonceng pintu kafe kembali berbunyi.
.
Aku melanjutkan menulis email tanpa ingin tahu siapa yang barusan datang. Aku melanjutkan mengetik.
.
​​Teruntuk Venus, lanjutan draft email dari Bumi:
​.​​
"Bulan depan aku pulang ke Indonesia, setelah bertemu kak Awan yang sudah dua setengah tahun pulang dari menempuh studi S2nya di Australia dan tentu saja mama di rumah, aku akan langsung mampir ke rumahmu. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Ada sesuatu yang benar-benar penting yang ingin aku tanyakan. ​D​ari dulu aku tidak pernah memperlihatkan kepedulianku secara terang-terangan. ​T​idak pernah membiarkan​ ​seorangpun tahu mengenai apa yang aku rasakan. ​Mungkin memang​ dari dulu​ perasaanku adalah ​​satu-satunya ​rasa yang tak pernah cukup sampai ke hatimu.​ ​Orang-orang hanya sebatas tahu bahwa aku baik-baik saja, tidak sedih, pun bahagia. Setiap orang memiliki sejarahnya masing-masing, dan aku memiliki sejarah yang begitu kuat mengenai satu hal. Mengenai apa yang aku benar-benar jauhi dan benar-benar aku hindari bahasannya. Itu kamu Binar Tasa Diniyya. Aku senang sampai sekarang kamu masih memakai nama pemberianku setelah kamu mem-Bumi-kanku. Venus adalah planet yang paling berbinar di Bima Sakti, paling terang. Sama sepertimu. Bolehkah bulan depan aku datang ke rumahmu?"
​.
Selesai. Aku tinggal mengirim email ini ke...
.
"Pluto! Gimana jadinya? Cincinnya ketemu nggak?"​
​.
​Jantungku berdegup kelewat cepat, sampai-sampai sinkronisasi paru-paru dan oksigen yang aku hirup sedikit berantakan. ​Maaf aku ralat, sangat berantakan malah. Itu suara yang tidak asing di telingaku. Suara yang benar-benar aku ingin dengar selama tiga tahun belakangan ini.
​​.
.
​ -bersambung-
.
#katadhyanara 
#10hbcgelisah 
#10hbcgelisah0​8
@30haribercerita
.
(Challenge 10 Hari Gelisah "Yang Tak Pernah Cukup")
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelas Cinta

Tempo hari aku ikut Kelas Cintanya Lex de Praxis, sebenernya bukan karena kehidupan percintaanku kenapa-kenapa banget. Lebih sekadar penasaran materi yang membahas cinta itu kayak gimana modelnya. Rame banget yang dateng. 

Seperti seminar kebanyakan, materi yang disampaikan pasti ada yang bikin kita setuju mengiyakan atau bahkan tidak percaya sama sekali. Dari sekian banyak yang tidak kupercayai sama sekali, ada beberapa hal yang bikin otakku mikir untuk pertama kali.Kalimat-kalimat yang tadinya cuma aku baca di novel atau tahu dari film, saat itu aku bener-bener mencoba mengerti hingga mencerna dengan hati.
Pertama, adalah cinta itu hubungan dua arah. Kalo kita udah usaha buat mendapatkan perhatian tapi dia sang pujaan tidak kembali melakukan hal yang sama, maka berhentilah berharap. Aku rasa tadinya mengharapkan sesuatu yang miliki sedikit kemungkinan untuk terwujud memang membutuhkan waktu lebih lama. Seperti lebih lama berjuang, mungkin juga lebih lama berkorban. Tapi jika dipikir-p…

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara

Kamu Nggak Akan Pernah Ngerti

Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu tidak pergi, apa kamu akan tetap tinggal? Jika aku bilang merindukanmu, apa iya kamu akan langsung terbang? Kembali ke titik pertemuan?
Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu lebih sering menghubungiku, apa kamu punya waktu untuk itu? Jika aku bilang aku membutuhkan hadirmu, apa iya kamu percaya begitu saja? Kamu pasti hanya tertawa.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena berteman denganmu tidak terlihat beda dengan berteman pada lainnya. Sehingga membuatmu yakin bahwa aku tak main-main tentu mustahil. Membuatmu tahu peduliku selama ini saja aku tidak biarkan. Membuatmu tahu aku memendam rindu yang besar, apalagi. Sungguh pantangan.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena revolusi kita yang tidak berjarak dekat, sepertinya menjadi teman biasa adalah satu-satunya cara. Sehingga bisa membuat kita lebi…