Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 2

Di saat para astronom memiliki hasil penelitian sementara namun masih terus sibuk mengkaji apakah ada kehidupan di planet-planet lain dalam tata surya, jauh sebelum itu aku sudah menemukan jawabnya. Bumi adalah satu-satunya kehidupan. Khususnya buatku.
.
Aku tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Pers di kampus. Diamanahi sebagai Koordinator Peliputan membuat hari-hariku begitu padat karena bertanggungjawab atas penyuplaian berita dari para reporter UKM Pers bagi majalah kampus, terlebih web yang harus diperbarui setiap harinya.
.
Meskipun terlihat cuek, ketika aku sibuk mengurus UKM Pers dan membagi waktuku mengerjakan tugas-tugas kuliah, dia akan selalu menanyakan kabarku dan mengingatkan untuk makan tepat waktu melalui teman-temanku Merkurius dan Saturnus.
.
Bumi seorang yang pintar, kelewat pintar malah. Dia adalah ketua UKM Penalaran yang seringkali memenangkan kejuaraan tingkat provinsi bahkan nasional. IPKnya juga tak kalah mencengangkan, enam semester dihabiskan untuk benar-benar mendalami ilmu Manajemen Informatika. Selain itu ia juga pintar mengelola iman dan egonya, aura Bumi memiliki rotasi pikat yang begitu kuatnya. Itu yang terus menerus kukhawatirkan.
.
Sore itu di tengah perjalanan usai kelas, kami menuju perpustakaan. Bumi mau mencari referensi objek penelitian barunya. Sepanjang perjalanan beberapa perempuan yang melewati kami berbisik-bisik dan melempar senyum kepada Bumi. Bumi menghentikan langkahnya, menghadapkan wajahnya sepersekian detik ke arahku.
"Venus, aku tak akan kemana-mana. Rotasi kita ditakdirkan bersebelahan. Sampai kakek nenek kita akan terus bersahabat."
Iya. Sahabat. Aku tersenyum. Getir.
.
.
.
--bersambung--
.
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita#30hbc1702
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku …

Kamu Suka Aku Nggak?

Pada sebuah sore yang mau maghrib dia duduk di lobi hotel, aku baru saja menyelesaikan shooting program televisi menghampiri ia yang mau jauh-jauh datang ke lain kota.

Sudah empat tahun. Mematikan rasa agar setiap temu aku nampak biasa nyatanya juga sia-sia. Harapku selalu bertumbuh ketika kami kembali bertatap. Menumpuk sudah keinginan untuk bersamanya, tapi lagi-lagi buat apa? Jika nanti itu tidak pernah ada, maka buat apa?

Aku seorang perempuan penuh logika. Semua kejadian tidak akan kupercaya jika logis tidak mengiya. Harapanku atas perasaannya hingga kini belum juga nyata. Justru karena semua maya susah dilogika, akhirnya aku memutuskan mengonfirmasi hatinya.

"Mas..." matanya bergerak dari surat beasiswa S2 ke mataku seolah bertanya 'ada apa?'

Konsekuensinya jika ia memiliki rasa yang sama maka kami perlu melanjutkan bicara, namun jika tidak maka aku akan menyelesaikan semua pengharapanku terhadapnya. Seringkas itu. Toh, aku juga siap dengan dua kemungkinan tadi…