Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 25

“Dari Mars teruntuk Venus,
.
Jika kamu adalah mi instan, maka aku adalah anak kecil yang mencari sejuta alasan untuk diperbolehkan makan mi instan. Orang tua mana yang memperbolehkan anaknya mendapatkan hal-hal yang instan, Venus? Mereka bilang semua butuh proses sehingga anaknya haruslah bertemu dengan banyak permasalahan agar dapat menuai pelajaran. Dan ya, pertemanan kita sudah berproses selama belasan tahun, banyak juga permasalahan yang aku temui dan akhirnya menyimpulkan berbagai pelajaran soal bagaimana harusnya hubungan pertemanan.
.
Venus, jarak kita tidaklah sejengkal namun bisakah kita berevolusi bersama? Tidak harus mengelilingi Matahari, mungkin bisa Paragon, Java Mall ataupun Citraland asalkan besok tidak hujan. Ajak Bumi juga Merkurius. Boleh juga ajak Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, bahkan Pluto.
.
Aku tidak pandai menulis seperti Bumi namun aku tahu setiap penulis selalu ingin ditulis juga. Itu yang kamu rasakan kan? Sekarang aku sedang mengusahakannya, jangan tertawakan ya hehe. Maaf mengenai sesuatu yang disampaikan Merkurius beberapa waktu lalu, aku tahu sedari kecil kamu menyukai Bumi. Aku merasa pernyataan itu belum boleh diutarakan kecuali aku sudah dalam keadaan siap. Beli beras sendiri saja aku belum bisa tapi jika hanya menanam bibit padi aku ahlinya. Karena aku lebih suka jadi petani dari pada jadi mantan pacarmu. Eh bukan pacar juga sih, tapi segala bentuk komitmen atau apapun nama hubungan yang disetujui atas kedua belah pihak, bukankah itu nama lain dari pacaran? Toh dari lahir kita bertiga belum pernah pacaran sampai sekarang. Dan aku tidak mau hubungan pertemanan antara aku, kamu dan Bumi menjadi rusak karena kecerobohan kita bertiga dalam mengungkap perasaan. Untuk saat ini kita bertiga adalah teman sama seperti dulu, oke? Tidak boleh ada yang berubah. .
Salam dilempar dari Mars melewati Bumi hingga sampai ke Venus.”
.
Venus tertawa. Aku lega pertemanan kita bertiga kembali baik-baik saja.
.
.
.
--bersambung--
.
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita#30hbc1725 #30hbcmengarang
.
(Challenge Di episode ini adalah tantangan paling susah yang diberikan oleh @30haribercerita karena tulisan kita di #30hbc1725 harus mengandung kalimat "Jika kamu adalah mi instan, maka aku adalah......................asalkan besok tidak hujan......................karena aku lebih suka jadi petani daripada jadi mantan pacarmu.")
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Tidak Lulus Tepat Waktu

Di dunia perkuliahan, sekarang ini sedang masanya libur kenaikan semester genap ke semester gasal. Itu berarti saya telah meninggalkan semester sepuluh dan akan menyambut semester sebelas. Memang dulu saya menghabiskan masa D3 dengan tepat waktu selama tiga tahun, kemudian melanjutkan transfer ke S1. Minimal masa tempuh transfer S1 dari D3 menurut peraturan dari Dikti ialah dua tahun. Jika dihitung secara berlanjut maka konversi mata kuliah yang belum saya ambil semasa D3 dulu memang bisa selesai dalam kurun waktu tepat dua tahun. Namun nyatanya saya masih harus melanjutkan ke semester sebelas. Benar, saya belum menyelesaikan skripsi saya.
Semasa semester satu dahulu saya begitu menganggap remeh teman-teman mahasiswa yang kuliah sembari bekerja. Bagaimana tidak, mereka seringkali terlambat masuk kelas sehingga saat pintu kelas dibuka mereka membuat mahasiswa lain juga dosen terganggu konsentrasinya. Mereka juga sering mengganggu saya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai tugas yang d…

Kamu Suka Aku Nggak?

Pada sebuah sore yang mau maghrib dia duduk di lobi hotel, aku baru saja menyelesaikan shooting program televisi menghampiri ia yang mau jauh-jauh datang ke lain kota.

Sudah empat tahun. Mematikan rasa agar setiap temu aku nampak biasa nyatanya juga sia-sia. Harapku selalu bertumbuh ketika kami kembali bertatap. Menumpuk sudah keinginan untuk bersamanya, tapi lagi-lagi buat apa? Jika nanti itu tidak pernah ada, maka buat apa?

Aku seorang perempuan penuh logika. Semua kejadian tidak akan kupercaya jika logis tidak mengiya. Harapanku atas perasaannya hingga kini belum juga nyata. Justru karena semua maya susah dilogika, akhirnya aku memutuskan mengonfirmasi hatinya.

"Mas..." matanya bergerak dari surat beasiswa S2 ke mataku seolah bertanya 'ada apa?'

Konsekuensinya jika ia memiliki rasa yang sama maka kami perlu melanjutkan bicara, namun jika tidak maka aku akan menyelesaikan semua pengharapanku terhadapnya. Seringkas itu. Toh, aku juga siap dengan dua kemungkinan tadi…