Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 12

“Bukannya kamu pernah bilang bahwa kamu akan mengonfirmasi rasamu ke Bumi? Apa bedanya dengan yang Mars lakukan melaluiku, Venus?” Aku tidak tahu mengapa aku begitu bersemangat untuk menyatukan mereka. Bukan untuk pacaran. Camkan, ini bukan soal pa-ca-ran.
.
“Merkurius, tapi ini berbeda. Jarak rasaku terlalu jauh kepada Mars, 120 juta kilometer. Beda dengan Bumi.” Venus mempertahankan asumsinya. Angin tak berhembus sedikitpun sedari tadi, dedaunan tetap pada koordinat tempatnya. “Aku akan tetap melakukan konfirmasi rasaku kepada Bumi.” Venus memang sedikit keras kepala. Tapi tak apa, setiap orang punya pertimbangan pemikiran paling baik menurut versi dirinya.
.
“Baiklah, tapi tata kembali niatmu Venus. Jangan sampai ada yang salah.” Aku mengkhawatirkan. Mulanya karena Venus tak ingin bergantung pada ketidakpastian. Ketika benar tidak bersambut, Venus siap memangkas rasanya sedikit demi sedikit. Sebenarnya aku mengapresiasi tekatnya itu. Bukankah banyak kejadian seseorang yang sudah berkeluarga dan kemudian baru tahu bahwa ternyata dahulu cintanya berbalas, namun tak pernah ada yang mengungkapkan? Atau ternyata sudah terlanjur dipinang? Venus bukan perempuan yang pasrah mengikuti pergerakan semesta. Ia selalu menciptakan geraknya sendiri.
.
Venus mengangguk. Kami melanjutkan langkah dalam diam. Angin baru berani berhembus membuat ujung jilbab kami melambai-lambai. Kami sudah tiba di masjid, duduk di anak tangga untuk melepas sepatu dan kaos kaki. Venus belum saja memutuskan untuk berdiri jadi aku mengikutinya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghebuskannya lewat mulut secara perlahan.
.
“Lalu bagaimana dengan kelanjutan Mars?” Aku ingin memastikan.
.
Venus hanya menaikkan alis dan kemudian kami berdua masuk ke dalam masjid.
.
.
--bersambung--
.
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita#30hbc1712
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara

Tidak Lulus Tepat Waktu

Di dunia perkuliahan, sekarang ini sedang masanya libur kenaikan semester genap ke semester gasal. Itu berarti saya telah meninggalkan semester sepuluh dan akan menyambut semester sebelas. Memang dulu saya menghabiskan masa D3 dengan tepat waktu selama tiga tahun, kemudian melanjutkan transfer ke S1. Minimal masa tempuh transfer S1 dari D3 menurut peraturan dari Dikti ialah dua tahun. Jika dihitung secara berlanjut maka konversi mata kuliah yang belum saya ambil semasa D3 dulu memang bisa selesai dalam kurun waktu tepat dua tahun. Namun nyatanya saya masih harus melanjutkan ke semester sebelas. Benar, saya belum menyelesaikan skripsi saya.
Semasa semester satu dahulu saya begitu menganggap remeh teman-teman mahasiswa yang kuliah sembari bekerja. Bagaimana tidak, mereka seringkali terlambat masuk kelas sehingga saat pintu kelas dibuka mereka membuat mahasiswa lain juga dosen terganggu konsentrasinya. Mereka juga sering mengganggu saya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai tugas yang d…