Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 34

Teruntuk Venus, draft email dari Bumi:
.
Aku sedang duduk sendirian di kafe dekat asrama tengah kota Madinah. Matahari sedang marah hari ini. Hujan semakin takut untuk berkunjung. Aku ingin melepas penat dengan berlibur meninggalkan kota Makkah sementara waktu, sebentar lagi aku menyelesaikan skripsiku. Itu artinya aku bisa pulang ke Indonesia.
.
Kamu tahu minuman apa yang kupesan? Tebakanmu salah jika aku memesan coffee latte. Di depanku ada secangkir red velvet hangat favoritmu yang belum aku minum sama sekali. Harapanku, meskipun jauh aku bisa merasakan sesuatu yang kamu rasakan saat itu. Aku menunggu panasnya hilang, sama seperti cara minummu biasanya, yang tidak akan memberi tiupan ke minuman yang bersuhu tinggi. Selain tak baik untuk kesehatan, katamu juga akan merusak rasa.
.
Oh iya kamu masih membenci kopi?
Jika kamu tidak bisa meminumnya, maka jangan berpura kamu akan baik-baik saja. Sama seperti kepergianku tiga tahun lalu. Jika kamu bilang kamu tidak bisa kehilanganku, percayalah aku akan tetap tinggal.
.
Aku masih ingat, pernah suatu hari sepulang kuliah kita mampir ke kedai kopi. Aku memesankanmu coffee latte, dengan harapan kamu bisa merasakan juga apa yang aku rasakan selama ini. Kamu tetap enggan pada awalnya, kemudian "aarrgghh" kamu berteriak kepahitan setelah memaksakan diri meminumnya. Padahal di titik pahit itulah kenikmatan coffee latte berada. Saat itu aku ingin menceritakanmu filosofi rasa pahit dari minuman favoritku itu, bercerita tentang ilmu sejarah, sembari mengatakan sesuatu yang sebenarnya telah lama ingin aku sampaikan. Melihatmu kepahitan hehe mungkin lain kali saja. Toh aku jadi gelisah, apakah memang harus aku sampaikan atau tidak.
.
.
-bersambung-
.
#katadhyanara 
#10hbcgelisah 
#10hbcgelisah01
@30haribercerita
.
(Challenge 10 Hari Gelisah "Aarrgghh")
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Yang Tidak NET TV Katakan (1)

Beberapa waktu lalu saya memakai fitur Q&A pada Instagram Story untuk mengetahui apa saja yang ingin teman-teman saya tahu mengenai NET TV. Terlebih ketika isu NET TV banyak dibahas pada artikel daring. Pembahasan ini sungguh luas sehingga memungkinkan untuk tidak menjadi satu kali unggahan saja.
Pembahasan ini dinilai dari sudut pandang saya yang hanya sebagai presenter panggilan NET Biro Jawa Tengah tiga tahun terakhir, tentu saya sebenernya nggak tahu banyak tapi saya rasa ada hal-hal yang perlu disampaikan dengan netral juga bijak.
Ada banyak perusahaan televisi di Indonesia dan terserah mereka mau bikin karakter perusahaannya kayak gimana. Tapi ada hal terpenting yang mereka lupa: frekuensi adalah milik publik sehingga tidak seharusnya mereka menciptakan program acara seenaknya.
Sejak kuliah di jurusan pertelevisian 6 tahun lalu saya semakin tidak bisa menonton televisi dengan damai. Ada terlalu banyak pelanggaran penyiaran setiap detiknya. Hingga tidak lama kemudian muncul satu…

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku …