Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 29

“Kak Ven! Kak Mer!” Seakan tak mengerti keadaanku dan Merkurius, Saturnus muncul tiba-tiba. Di awal cerita aku sudah menyinggung tokoh Saturnus kan? Saturnus adalah reporter junior di UKM Pers, satu angkatan di bawahku dan Merkurius. Sama seperti Merkurius yang sebenarnya tak seberapa mengenal Bumi, meskipun mereka pernah beberapa kali bertemu.
.
“Kak Ven kak Mer kapan dong kita foto gini lagi?” Ia menghampiri kami berdua dengan menunjukkan foto kami bertiga di ponselnya. “Tapi yang fotoin harus kak Bumi lagi ya hehehee..” Eh apa-apaan ini Saturnus. Kenapa juga harus Bumi?
.
Beberapa bulan lalu aku, Merkurius, dan Saturnus melakukan liputan bersama mengenai workshop jurnalistik di lapangan kampus. Tiba-tiba kami bertemu Bumi dan dengan sigap Saturnus memberikan kameranya kepadaku, kemudian menyuruhku mencarikan orang untuk mengambil foto kami berempat termasuk Bumi. Bukan Bumi kalau mau, dia terlalu pemalu. Dia bilang jika dirinya saja yang mengambilkan foto kami bertiga. Ya sudah, jadi ini hasil jepretan Bumi.
.
Belum sempat menanggapi omongan Saturnus ponselku berbunyi, muncul notifikasi pesan masuk. Aku buru-buru melihatnya. Itu pesan dari Bumi!
.
“Selesai aku rapat, bisa bicara sebentar Ven?” Bumi sedang berada di markas Penalaran tepat bersebelahan dengan markasku. Secepat kilat aku menoleh ke arah markas Penalaran di sebelah kanan, ada Bumi yang sedang berdiri di depan pintu. Dengan masih memegang ponsel di tangan kanannya, mata Bumi menuju ke arahku. Tersenyum tipis, menaikkan alis. Manis.
.
Aku tersenyum dan mengangguk. 
.
.
--bersambung--
.
#katadhyanara
.
📷: Bumi
.
@30haribercerita #30haribercerita#30hbc1729
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Lulus Tepat Waktu

Di dunia perkuliahan, sekarang ini sedang masanya libur kenaikan semester genap ke semester gasal. Itu berarti saya telah meninggalkan semester sepuluh dan akan menyambut semester sebelas. Memang dulu saya menghabiskan masa D3 dengan tepat waktu selama tiga tahun, kemudian melanjutkan transfer ke S1. Minimal masa tempuh transfer S1 dari D3 menurut peraturan dari Dikti ialah dua tahun. Jika dihitung secara berlanjut maka konversi mata kuliah yang belum saya ambil semasa D3 dulu memang bisa selesai dalam kurun waktu tepat dua tahun. Namun nyatanya saya masih harus melanjutkan ke semester sebelas. Benar, saya belum menyelesaikan skripsi saya.
Semasa semester satu dahulu saya begitu menganggap remeh teman-teman mahasiswa yang kuliah sembari bekerja. Bagaimana tidak, mereka seringkali terlambat masuk kelas sehingga saat pintu kelas dibuka mereka membuat mahasiswa lain juga dosen terganggu konsentrasinya. Mereka juga sering mengganggu saya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai tugas yang d…

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.