Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 15

Keesokan harinya ada jeda sehari aku libur ujian, Venus main ke rumahku dengan membawa tas serta buku-buku tebal mengenai Teori Komunikasi. Nampaknya sepulang ujian dia langsung ke sini.
.
“Bumi aku mau ngomong sesuatu.” Venus membuka pembicaraan.
.
“Gimana Ven?” Kami duduk berhadapan di ruang tamu. Aku penasaran setengah mati mengenai apa yang ingin ia katakan namun berusaha tetap biasa menanggapinya.
.
“Aku sudah memikirkannya sebanyak dedaunan yang dijatuhkan angin sore. Jadi sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu tapi pertemanan kita harus tetap seperti ini, janji? Aku menanyakan sesuatu hanya untuk memastikan langkah yang aku ambil tidak salah arah, jadi kamu tidak perlu merasa tidak enakan atau apapun rasa yang timbul setelah aku menanyakannya anggap saja tidak pernah ada, janji? Aku ingin menanyakan sesuatu karena tidak akan mengapa jika hanya aku yang merasakannya, tapi akan menjadi kenapa-kenapa jika penyimpulan logikaku selama ini adalah kesalahan dan aku tidak mengonfirmasi melalui pertanyaan yang akan aku ajukan, jadi jangan terkejut, janji?” Venus langsung bicara banyak, aku suka mendengarkannya.
.
‘Why do birds suddenly appear everytime you are near? Just like me they long to be close to you..?' ponsel Venus berbunyi. Itu lagu kesukaan Venus, berjudul Close to You yang dinyanyikan oleh The Carpenters. Lagu tersebut diciptakan oleh Burt Bacharach dan Hal David dan rilis sebagai single pada tahun 1963. Selera Venus memang lagu-lagu lama yang indah.
.
“Siapa Ven? Diangkat dulu aja.” Aku mempersilakan.
.
“Mars.” Dia langsung mematikan panggilan di ponselnya.
.
Oh, ternyata Mars yang telfon. Aku dan Mars adalah orang yang tidak akan menelfon kecuali ada hal yang begitu penting untuk dibicarakan.
.
“Kamu punya rasa yang sama kayak yang aku rasain nggak?”
.
“Kalo misal enggak ya nggak papa, kalo ternyata iya mungkin kita bisa merancang sesuatu ke depannya. Kamu tahu sendiri ini bukan soal pacaran.” Venus melanjutkan pertanyaannya.
.
"Enggak, maaf Ven." Jawabku.
.
.
--bersambung--
.
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita#30hbc1715 #30hbclagu
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Tidak Lulus Tepat Waktu

Di dunia perkuliahan, sekarang ini sedang masanya libur kenaikan semester genap ke semester gasal. Itu berarti saya telah meninggalkan semester sepuluh dan akan menyambut semester sebelas. Memang dulu saya menghabiskan masa D3 dengan tepat waktu selama tiga tahun, kemudian melanjutkan transfer ke S1. Minimal masa tempuh transfer S1 dari D3 menurut peraturan dari Dikti ialah dua tahun. Jika dihitung secara berlanjut maka konversi mata kuliah yang belum saya ambil semasa D3 dulu memang bisa selesai dalam kurun waktu tepat dua tahun. Namun nyatanya saya masih harus melanjutkan ke semester sebelas. Benar, saya belum menyelesaikan skripsi saya.
Semasa semester satu dahulu saya begitu menganggap remeh teman-teman mahasiswa yang kuliah sembari bekerja. Bagaimana tidak, mereka seringkali terlambat masuk kelas sehingga saat pintu kelas dibuka mereka membuat mahasiswa lain juga dosen terganggu konsentrasinya. Mereka juga sering mengganggu saya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai tugas yang d…

Kamu Suka Aku Nggak?

Pada sebuah sore yang mau maghrib dia duduk di lobi hotel, aku baru saja menyelesaikan shooting program televisi menghampiri ia yang mau jauh-jauh datang ke lain kota.

Sudah empat tahun. Mematikan rasa agar setiap temu aku nampak biasa nyatanya juga sia-sia. Harapku selalu bertumbuh ketika kami kembali bertatap. Menumpuk sudah keinginan untuk bersamanya, tapi lagi-lagi buat apa? Jika nanti itu tidak pernah ada, maka buat apa?

Aku seorang perempuan penuh logika. Semua kejadian tidak akan kupercaya jika logis tidak mengiya. Harapanku atas perasaannya hingga kini belum juga nyata. Justru karena semua maya susah dilogika, akhirnya aku memutuskan mengonfirmasi hatinya.

"Mas..." matanya bergerak dari surat beasiswa S2 ke mataku seolah bertanya 'ada apa?'

Konsekuensinya jika ia memiliki rasa yang sama maka kami perlu melanjutkan bicara, namun jika tidak maka aku akan menyelesaikan semua pengharapanku terhadapnya. Seringkas itu. Toh, aku juga siap dengan dua kemungkinan tadi…