Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 14

Hujan menyisakan banyak genangan air di kampus kami, menyisakan dedaunan kuning yang berhamburan di area parkir mahasiswa, dan menyisakan satu hal lagi yang aku tak tahu namanya, semacam satu tingkatan rasa di antara kecewa dan...marah.
.
Sudah pukul sembilan malam ketika Venus mengunci pintu markas pers. Sedari tadi Venus dan Mars mengajakku bergurau namun aku tak menanggapi mereka. Kami berjalan menuruni anak tangga, keluar gedung Unit Kegiatan Mahasiswa dengan disambut angin malam yang menusuk tulang. Masuk ke dalam mobil dan bergegas pulang. Aku tidak mengeluarkan kata sejak membaca nama Venus di laptop Mars. Meski aku tak tahu mengenai apa yang sedang ditulisnya. Sengaja tak meneruskan membaca tulisan di layar laptopnya. Ada semacam sesak di sini, di dadaku.
.
Esok paginya Venus mengirimiku pesan. Menanyakan apakah nanti jadi bertemu di perpustakaan. Aku tidak membalasnya. Memasukkan ponselku ke dalam tas ransel.
.
“Selamat mengerjakan ujian pertamamu siang nanti Venus. Aku tahu kamu hebat di mata kuliah Metodologi Penelitian.” Aku bergumam.
.
Aku yakin dari semalam pasti Venus dan Mars sudah kebingungan dengan sikapku yang benar-benar berubah 180 derajat. Aku tahu aku seorang yang sedikit pendiam dibanding Mars, aku lebih cuek dibanding Mars, dan aku lebih pemalu dibanding Mars.
.
Aku masuk ke ruang kelas, hari ini ada dua ujian. Ujian mata kuliah Perancangan Sistem Informasi dan ujian perasaan.
.
Ujianku selesai tepat saat adzan dzuhur berkumandang, aku tahu itu suara Mars. Aku keluar kelas sembari mengecek ponselku, Venus mengirimiku beberapa pesan yang aku sendiri belum siap membacanya.
.
Tolong bantu aku menjabarkan makna yang tepat dari kata 'belum siap'.
.
Lorong gedung perkuliahan dipenuhi dengan orang-orang yang baru keluar ruang ujian. Banyak yang menyapaku terutama mahasiswi-mahasiswi yang aku tak kenal siapa mereka. Aku tersenyum tipis dan masuk ke dalam lift.
.
Ke masjid dulu lalu memutuskan untuk ke perpustakaan lebih awal, sendirian.
.
--bersambung--
.
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita#30hbc1714
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Yang Tidak NET TV Katakan (1)

Beberapa waktu lalu saya memakai fitur Q&A pada Instagram Story untuk mengetahui apa saja yang ingin teman-teman saya tahu mengenai NET TV. Terlebih ketika isu NET TV banyak dibahas pada artikel daring. Pembahasan ini sungguh luas sehingga memungkinkan untuk tidak menjadi satu kali unggahan saja.
Pembahasan ini dinilai dari sudut pandang saya yang hanya sebagai presenter panggilan NET Biro Jawa Tengah tiga tahun terakhir, tentu saya sebenernya nggak tahu banyak tapi saya rasa ada hal-hal yang perlu disampaikan dengan netral juga bijak.
Ada banyak perusahaan televisi di Indonesia dan terserah mereka mau bikin karakter perusahaannya kayak gimana. Tapi ada hal terpenting yang mereka lupa: frekuensi adalah milik publik sehingga tidak seharusnya mereka menciptakan program acara seenaknya.
Sejak kuliah di jurusan pertelevisian 6 tahun lalu saya semakin tidak bisa menonton televisi dengan damai. Ada terlalu banyak pelanggaran penyiaran setiap detiknya. Hingga tidak lama kemudian muncul satu…

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku …