Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 6

“Lupa itu adalah tanda bahwa kita masih pantas disebut manusia kalii.. malah dibilang bohong” secepat mungkin aku menampis yang didakwakan Bumi. Aku lupa Bumi seringkali bisa mengerti ketika aku berbohong, entah bagaimana bisa. Ini lupa yang asli. Padahal aku sudah mengondisikan gerak-gerik tubuh semampuku. Sial.
.
“Nih sudah jadi nih, roti bakar keju spesial buat Venus. Terus yang selai kacang buat Bumi. Jangan belajar terus, roti bakarnya dimakan dulu terus sholat ashar ya. Bentar lagi adzan.” Kehadiran tante Bintang menyelamatkan situasi ketertangkapbasahanku.
.
Bumi tertawa, “Canda kali, sewot amat..” kemudian dilanjut “makasih Ma” yang ditujukan ke tante Bintang.
.
“Hahaa..dasar” aku ikut tertawa yang dibuat-buat. Ternyata Bumi hanya menebak-nebak. Untunglah. Aku segera menyusul “Makasih tantee..” ke arah tante Bintang. Tante Bintang mengelus kepalaku, tersenyum, lalu kembali masuk ke ruang tengah. Hujan di luar masih cukup lebat.
.
“Red velvetnya dari tadi nggak diminum? Bukannya kamu suka?” tanya Bumi sebelum memasukkan potongan roti bakar pertamanya ke mulut.
.
“Suka dooong..” namun aku hanya menatap red velvet hangat – yang – sudah – dinginku itu.
.
Aku hanya tidak ingin pertemuan kita berakhir cepat, Bumi. Jadi aku bisa beralasan bahwa minumanku belum habis. Sehingga pulang menjadi pilihan akhir setelah semua kata dalam kamus metodologi penelitian kita sebut untuk dibicarakan. Kita sudah terlalu sibuk untuk memerintahkan galaksi membicarakan kita. Kali ini jangan rusak takdir, Bumi. Kita sedang dibicarakan.
.
.
Tiga belas tahun, Bumiku.
.
--bersambung--
.
#katadhyanara
.
.
@30haribercerita #30haribercerita#30hbc1706
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Tidak Lulus Tepat Waktu

Di dunia perkuliahan, sekarang ini sedang masanya libur kenaikan semester genap ke semester gasal. Itu berarti saya telah meninggalkan semester sepuluh dan akan menyambut semester sebelas. Memang dulu saya menghabiskan masa D3 dengan tepat waktu selama tiga tahun, kemudian melanjutkan transfer ke S1. Minimal masa tempuh transfer S1 dari D3 menurut peraturan dari Dikti ialah dua tahun. Jika dihitung secara berlanjut maka konversi mata kuliah yang belum saya ambil semasa D3 dulu memang bisa selesai dalam kurun waktu tepat dua tahun. Namun nyatanya saya masih harus melanjutkan ke semester sebelas. Benar, saya belum menyelesaikan skripsi saya.
Semasa semester satu dahulu saya begitu menganggap remeh teman-teman mahasiswa yang kuliah sembari bekerja. Bagaimana tidak, mereka seringkali terlambat masuk kelas sehingga saat pintu kelas dibuka mereka membuat mahasiswa lain juga dosen terganggu konsentrasinya. Mereka juga sering mengganggu saya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai tugas yang d…

Kamu Suka Aku Nggak?

Pada sebuah sore yang mau maghrib dia duduk di lobi hotel, aku baru saja menyelesaikan shooting program televisi menghampiri ia yang mau jauh-jauh datang ke lain kota.

Sudah empat tahun. Mematikan rasa agar setiap temu aku nampak biasa nyatanya juga sia-sia. Harapku selalu bertumbuh ketika kami kembali bertatap. Menumpuk sudah keinginan untuk bersamanya, tapi lagi-lagi buat apa? Jika nanti itu tidak pernah ada, maka buat apa?

Aku seorang perempuan penuh logika. Semua kejadian tidak akan kupercaya jika logis tidak mengiya. Harapanku atas perasaannya hingga kini belum juga nyata. Justru karena semua maya susah dilogika, akhirnya aku memutuskan mengonfirmasi hatinya.

"Mas..." matanya bergerak dari surat beasiswa S2 ke mataku seolah bertanya 'ada apa?'

Konsekuensinya jika ia memiliki rasa yang sama maka kami perlu melanjutkan bicara, namun jika tidak maka aku akan menyelesaikan semua pengharapanku terhadapnya. Seringkas itu. Toh, aku juga siap dengan dua kemungkinan tadi…