Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 31

Sebulan kemudian...
.
Aku, Bumi, dan Mars berada di mobil, sedang terjebak di lalu lintas yang macet. Aku yang duduk di bangku belakang memikirkan banyak hal, menerawang ke arah jendela sebelah kiri. Kali ini Mars yang menyetir. Sore memang jam-jamnya pulang kerja sehingga volume kendaraan begitu padatnya.
.
Aku mendapati sopir mobil sebelah kiri kami membuang sampah tisu dan bungkus permen, ia membiarkan kaca mobilnya terbuka setelahnya. Sedari dulu aku begitu membenci peristiwa membuang sampah sembarangan.
.
Mars sibuk dengan game di ponselnya, Bumi sedang sibuk mempersiapkan visa dan pasportnya. Kami mau ke bandara. Mengantar Bumi.
.
"Bapak permisi, sampahnya jangan dibuang sembarangan pak. Itu ada anak bapak juga loh nanti kalo ikut-ikut buang sampah sembarangan gimana? Jangan buang sampah sembarangan lagi ya pak." Kataku usai membuka jendela mobil, kemudian menutupnya kembali. Aku merasa tindakanku sepenuhnya benar.
.
"Wee berani banget Ven hahaha" Mars baru sadar dan menengok ke arahku. Aku masih sebal melihat bapak tadi yang melengos saja.
.
Bumi membuka pintu mobil, memungut sampah yang dibuang bapak tadi dan mencari tong sampah di pinggir trotoar. Masuk kembali ke mobil dan menatapku, tersenyum. Mars yang tadi tertawa berhenti dan melongo.
.
"Yakin aja setiap tindakan baik kita pasti berdampak buat banyak orang, lebih dari sekedar omongan baik Ven." Bumi masih tersenyum.
.
Jalanan yang macet sudah memberi ruang kendaraan-kendaraan untuk berjalan. Detik itu, aku malu kepada semesta.
.
#katadhyanara
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelas Cinta

Tempo hari aku ikut Kelas Cintanya Lex de Praxis, sebenernya bukan karena kehidupan percintaanku kenapa-kenapa banget. Lebih sekadar penasaran materi yang membahas cinta itu kayak gimana modelnya. Rame banget yang dateng. 

Seperti seminar kebanyakan, materi yang disampaikan pasti ada yang bikin kita setuju mengiyakan atau bahkan tidak percaya sama sekali. Dari sekian banyak yang tidak kupercayai sama sekali, ada beberapa hal yang bikin otakku mikir untuk pertama kali.Kalimat-kalimat yang tadinya cuma aku baca di novel atau tahu dari film, saat itu aku bener-bener mencoba mengerti hingga mencerna dengan hati.
Pertama, adalah cinta itu hubungan dua arah. Kalo kita udah usaha buat mendapatkan perhatian tapi dia sang pujaan tidak kembali melakukan hal yang sama, maka berhentilah berharap. Aku rasa tadinya mengharapkan sesuatu yang miliki sedikit kemungkinan untuk terwujud memang membutuhkan waktu lebih lama. Seperti lebih lama berjuang, mungkin juga lebih lama berkorban. Tapi jika dipikir-p…

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara