Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 30

“Setahuku Galaksi Bima Sakti atau Milky Way Galaxy memiliki ratusan ribu bintang yang dianggap matahari dengan masing-masing tata surya. Tapi menurut Wikipedia diperkirakan terdiri dari lebih 200 milyar bintang, bahkan terdapat perhitungan lain yang menyatakan bahwa bintang di galaksi yang kita tempati ini mencapai 400 milyar.” Aku mendengarkan Bumi dengan seksama tanpa menyela, berusaha menebak arah pembicaraan. Kami berjalan meninggalkan gedung UKM.
.
“Kita bersemayam di satu dari ratusan ribu tata surya dalam Bima Sakti yang tak pernah berhenti berotasi dengan kecepatan 600 kilometer per detik. Sedangkan kecepatan rotasiku 0,46 kilometer per detik dan kamu Venus memiliki angkamu sendiri, seingatku 35 kilometer per detik.” Tadi Bumi sudah menyelesaikan rapatnya dan sekarang kami sampai di perpustakaan. Aku mengikuti Bumi yang berjalan menuju rak astronomi. Mengambil buku dengan judul ‘Menjelajahi Bintang, Galaksi, dan Alam Semesta’. Bumi membuka buku setebal 192 halaman karangan A. Gunawan Admiranto, berhenti di halaman Daftar Isi. Tangannya menunjuk bab Galaksi Bima Sakti kemudian menyeretnya mendatar ke angka 21. Bumi mencari halaman yang dikehendaki kemudian mendapati ilustrasi galaksi yang kita tinggali. Aku masih belum mengerti, mau dibawa kemana arah pembicaraan ini.
.
“Kita ada di sini, gugusan bintang dengan diameter seratus ribu hingga seratus dua puluh ribu cahaya. Kamu di sini dan aku di sini.” Telunjuk Bumi berpindah dari memutari ilustrasi Bima Sakti, lalu ke planet Bumi dan kemudian berakhir di  planet Venus. "Lihat posisi kita kecil sekali, padahal masih ada ruang yang begitu luas di luar tata surya kita kan?” Aku mengangguk, mulai merasa akan ada sesuatu menyedihkan yang akan Bumi sampaikan.
.
“Tata surya ini seumpama kehidupan kita sehari-hari. Ada kita, Mars, Merkurius, Saturnus, dan lainnya. Sedangkan ada banyak tata surya lain di luar sana dengan banyak opini, perdebatan, hingga aturan rotasi juga revolusi tersendiri. Galaksi seumpama negeri, Venus.” Bumi menggantungkan kata-katanya.
.
Untuk sekedar menanggapi ‘terus?’ atau ‘maksudnya?’ aku tak siap. Kelanjutannya pasti berita yang aku tak suka mendengarnya.
.
Bumi kembali ke halaman Daftar Isi. Menunjuk Bab Galaksi Hubble kemudian menyeretnya ke kanan dan menemukan angka 96. Membuka halaman 96 dan menemukan ilustrasi Galaksi Hubble, galaksi terjauh dari Bima Sakti.
.
“Bulan depan aku pindah ke sini, Venus.” Aku sungguh tak suka keadaan ini. “Aku mengikuti tes beasiswa ke Makkah dan setelah dua kali gagal dalam dua tahun silam, aku lolos.” Lanjut Bumi.
.
Terhitung tidak terlalu lama berdiri di depan rak astronomi, lututku lemas. Seperti ada meteoroid jatuh tepat menyasar kakiku. Aku berjalan menuju tempat duduk di dekat kami. Sekarang aku benar-benar mengerti dasar jawaban Bumi tempo hari. Itu karena Bumi mau pergi.
.
“Ending yang sedih, agar orang-orang yang baca mengerti bahwa takdir yang telah ditetapkan tidak melulu menyenangkan kan Bumi?” Aku mendongak ke arah Bumi. Bumi masih berdiri, menutup buku kemudian mengambil jarak untuk duduk di sebelahku. Tanpa peduli revolusiku dan Bumi yang berhenti mengelilingi Matahari, Bima Sakti terus berotasi.
.
.

-30 Hari Bercerita 2017 TAMAT-
.
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita#30hbc1730 #30hbcsalam 
.

Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Yang Tidak NET TV Katakan (1)

Beberapa waktu lalu saya memakai fitur Q&A pada Instagram Story untuk mengetahui apa saja yang ingin teman-teman saya tahu mengenai NET TV. Terlebih ketika isu NET TV banyak dibahas pada artikel daring. Pembahasan ini sungguh luas sehingga memungkinkan untuk tidak menjadi satu kali unggahan saja.
Pembahasan ini dinilai dari sudut pandang saya yang hanya sebagai presenter panggilan NET Biro Jawa Tengah tiga tahun terakhir, tentu saya sebenernya nggak tahu banyak tapi saya rasa ada hal-hal yang perlu disampaikan dengan netral juga bijak.
Ada banyak perusahaan televisi di Indonesia dan terserah mereka mau bikin karakter perusahaannya kayak gimana. Tapi ada hal terpenting yang mereka lupa: frekuensi adalah milik publik sehingga tidak seharusnya mereka menciptakan program acara seenaknya.
Sejak kuliah di jurusan pertelevisian 6 tahun lalu saya semakin tidak bisa menonton televisi dengan damai. Ada terlalu banyak pelanggaran penyiaran setiap detiknya. Hingga tidak lama kemudian muncul satu…

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku …